Ketika Pria Harus Menjadi ‘Single Dad’

Ketika Pria Harus Menjadi ‘Single Dad’

  Minggu, 15 November 2015 09:37

BERPERAN menjadi ibu tunggal dalam mengasuh anak-anak sudah banyak dilakoni kaum hawa. Namun bukan berarti ayah tunggal tidak bisa menjalani peran yang sama. Masih dalam peringatan Hari Ayah pada tanggal 12 Nopember lalu, For Her akan mengulas bagaimana ayah-ayah tunggal mengasuh putra-putri mereka dengan ketulusan hati. Naluri ayah dalam mengasuh anak tentu tidak seperti perempuan. Namun demi sang buah hati, para ayah ini rela bangun tengah malam membuatkan susu, memandikan anaknya, hingga membantu mereka mengerjakan PR. Masih ada lagi, mereka harus memastikan tumbuh kembang anaknya berjalan baik, disamping tentu mengurus keperluan rumah tangga.

Oleh : Marsita Riandini

SEJAK ditinggal istri kembali menemui Sang Khalik tahun 2010, Muhammad Sudayat (53 th) harus mengikhlaskan semua takdir Tuhan tersebut dengan terus tegar dalam mengasuh buah hatinya. Meninggalnya sang istri tanpa ada sakit yang serius tentu sulit dirasakannya. Pasalnya di pagi hari, mereka masih saja bergurau dan mengobrol bersama. “Kami punya 4 anak. Anak pertama sudah selesai kuliah, anak kedua masih kuliah, anak ketiga SMP, dan yang paling bungsu masih SD,” ujar salah satu karyawan di TVRI Pontianak ini.

Pria yang akrab disapa Kang Dayat ini mengaku tidak bisa sepenuhnya memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu. Dia paham betul sulit menggantikan peran wanita dalam mengatur kehidupan rumah tangga. “Tapi mau tidak mau semua itu saya yang ambil alih. Menyiapkan makan anak hingga segala keperluan, saya yang atur. Kalau dulu itu khan tahunya cari rezeki saja, sementara urusan rumah dari makan hingga nyuci, istri yang atur,” jelasnya.

Kendala lain yang dihadapinya adalah mengatur pengeluaran. Menurut dia, selama ini pengeluarannya menjadi lebih boros dari hari biasanya. “Pengeluarannya jadi boros, susah mengelola uang,” ujarnya. Tapi dia tak ingin hal itu hanya menjadi keluh kesah tanpa arti. Dayat menyadari buah hatinya masih membutuhkan kasih sayangnya. “Pola asuhnya menjadi berubah. Segala keperluan anak, apa yang dilakukan anak hanya saya sendiri yang mengawasi. Sebagai orang tua tentu ada ketakutan terjadi apa-apa dengan anak-anak, terpengaruh dengan narkoba dan sebagainya. Makanya saya menerapkan jam malam untuk anak,” paparnya.

Dia juga membolehkan anaknya membawa teman-temannya di rumah. Hal ini lanjut dia memudahkan pemantauan terhadap anak-anaknya. “Saya beri anak kebebasan tetapi tahu batasan. Kapan shalat ya harus shalat, bergaul dan sebagainya,” cetusnya. Memiliki anak yang sudah cukup besar, membuat dirinya tak begitu kesulitan untuk mengasuh anak-anaknya. Namun kata dia, untuk mencari pengganti sang istri belum terlalu dipikirkan, meskipun anak-anaknya mengizinkan. “Saya hanya bisa berharap anak-anak saya itu bisa tumbuh menjadi anak yang berhasil, dan meskipun tanpa ibunya, kehidupan mereka terus berjalan,” pungkasnya. (mrd)