Ketika Pasangan Berubah

Ketika Pasangan Berubah

  Sabtu, 7 November 2015 09:00

Berita Terkait

Pasangan berubah, apakah perubahan itu baik ataupun buruk sering menimbulkan pertanyaan bagi pasangannya, terutama ketika perubahaan itu mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Pada kondisi ini, hendaknya menyikapinya dengan bijaksana, dan mencari tahu alasan berubah. Oleh : Marsita Riandini

Pasangan terlihat berubah dari sebelumnya. Jangan buru-buru menilai bahwa itu perubahan negatif. Pada dasarnya hidup manusia mengalami perubahan. Tentunya ingin berubah menjadi lebih baik. Meskipun kadang perubahan tersebut justru menjadi buruk. “Perubahan yang terjadi pada seseorang itu dipengaruhi banyak hal. Mulai dari cara pandang hingga pengalaman-pengalaman yang didapatnya,” kata Psikolog H. Armijn Ch. S. Besman, S.IP, S.Psi kepada For Her.

Bisa pula sebenarnya, lanjut dia, perubahan tersebut memang karakter aslinya dia. Hanya saja baru terlihat setelah menikah. “Ketika pacaran, banyak orang yang berusaha menunjukkan hal baik pada dirinya. Bahkan perilaku buruknya mampu disembunyikan. Tetapi setelah menikah, muncul perilaku-perilaku yang baru diketahui, yang kemudian dia menganggap pasangannya berubah,” ulas mantan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalbar ini.

Armijn mencontohkan, ketika pacaran seseorang pasti menjaga penampilannya. Ingin ketemu pacar, berdandan dulu. Tetapi ketika menikah, dia langsung bisa melihat wajah pasangan ketika bangun tidur. Dan, berbagai perilaku pasangan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kekecewaan bisa pula menjadi pemicu seseorang berubah. Dia merasa apa yang dibayangkannya tidak sesuai yang terjadi. “Tadinya dia banyak berharap dengan pernikahannya, ternyata tidak sesuai ekspektasi dia,” ungkap Armijn.

Itulah sebabnya, penting sekali sebelum menikah mendapatkan konseling pra nikah dari orang yang berkompeten di bidangnya. Mereka juga memiliki tujuan kenapa menikah. “Menikah itu pasti ada suka dan dukanya. Pernikahan itu merupakan kehidupan awal untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kalau menikah, tetapi tidak tahu tujuannya apa, ini yang kemudian bisa menimbulkan perubahan. Orang menikah itu khan akan tahu menikah itu untuk apa, inginnya nanti anak berapa, ingin tinggal dimana dan sebagainya,” paparnya.

Pengaruh lingkungan, baik itu lingkungan keluarga dan masyarakat bisa menjadi penyebab seseorang berubah. “Pada pria saja atau perempuan yang bekerja, mereka lebih banyak menghabiskan waktu meleknya di tempat kerja. Kalau di rumah mungkin lebih banyak, tapi dipotong dengan waktu istirahat dan tidur. Komunikasinya yang terjadi lebih banyak di tempat kerja, sehingga pengaruhnya juga lebih besar,” jelas dia yang menyontohkan, jika sang suami memiliki teman yang suka melakukan perbuatan negatif. Lambat laun bisa saja ikut terbawa denggan kebiasaan teman-temannya itu.

Merasa sudah menjadi suami istri, dan tidak perlu lagi melakukan kebiasaan ketika pacaran juga bisa menjadi penyebab orang berubah. “Mungkin setelah menikah, dia merasa sikap suami atau istri dingin. Padahal boleh jadi si suami atau istri tersebut menganggap tidak perlu lagi ungkapan sayang-sayangan, toh sudah memilikinya,” ucapnya.

Namun dia juga mengingatkan, jangan sampai sikap dingin ini semakin mempengaruhi perubahan suami. Terlebih ketika dia merasa diluar ada yang memperhatikan. “Memperhatikan di sini tak berarti harus selingkuh. Bahkan kalau dia merasa berada di lingkungan teman-temannya lebih diperhatikan, maka dia akan lebih nyaman menghabiskan waktu bersama teman-teman atau komunitasnya. Makanya ada orang yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi dibanding di rumahnya,” pungkas Armijn. **

 

 

Berita Terkait