Ketika Jalur Gerilya GAM di Hutan Aceh Menjadi Objek Wisata Petualangan (2-Habis)

Ketika Jalur Gerilya GAM di Hutan Aceh Menjadi Objek Wisata Petualangan (2-Habis)

  Senin, 19 September 2016 09:40
EKS KOMBATAN: Azhar Ibrahim memotong-motong mi Aceh bikinannya. Di Desa Meunasah Gede, banyak eks kombatan yang memproduksi mi sebagai mata pencaharian. BAYU PUTRA/JAWA POS

Berita Terkait

Enjoy meski Berkomunikasi dengan Bahasa Tarzan

Menjadi pemandu wisata merupakan satu di antara sedikit pilihan pekerjaan yang bisa dilakoni para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka pun berharap lapangan pekerjaan itu bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga.

BAYU PUTRA, Aceh Besar

DAMPAK minimnya skill dirasakan betul oleh Marjuni. Pria asal Lhoong, Aceh Besar, itu cukup lama menjadi kombatan (warga sipil yang ikut berperang) GAM yang hidup di hutan dan gunung-gunung. Kini dia tercatat sebagai pemandu wisata jalur gerilya GAM paling senior di Aceh. 

Sebelum perjanjian damai pada 2005, enam tahun dia ikut bergerilya mendukung GAM di gunung-gunung serta hutan-hutan Aceh Besar bersama adiknya. Karena berada di gunung itu pulalah, dia dan si adik selamat dari musibah tsunami 2004. Namun, keluarganya yang lain tersapu bencana besar itu.

Setelah perang berakhir dan perjanjian damai antara GAM dan RI disepakati, Marjuni turun dari gunung untuk kembali ke kampung halamannya yang hancur terkena tsunami. Dia pun menjadi penganggur. 

Maka, bekerja sebagai pemandu wisata di jalur gerilya GAM seperti yang ditawarkan Aceh Explorer menjadi pilihan pertama bagi Marjuni untuk menghidupi istri dan anak semata wayangnya yang kini berusia 11 tahun. 

’’Saya hanya tamat SD. Saya nggak punya keahlian lain. Ya sudah, saya terima pekerjaan ini,’’ tutur Marjuni.

Namun, itu pun belum cukup. Marjuni masih harus mencari pekerjaan lain di luar tugasnya sebagai pemandu wisata. Pasalnya, tur petualangan ke hutan dan perbukitan Aceh itu hanya ramai pada musim kemarau. Pada musim hujan, pengunjung sepi karena jalur wisata jadi licin dan membahayakan. 

’’Kalau pas sepi itu, saya harus mencari pekerjaan lain. Serabutan. Pokoknya halal,’’ katanya.

Marjuni mengaku senang menjadi pemandu wisata di jalur yang medannya sangat dia kuasai itu. Selain mendapat penghasilan lumayan, dia bisa berinteraksi dengan turis, terutama dari luar negeri. Sebab, selama ini dia tidak pernah berjumpa, apalagi berkomunikasi langsung, dengan para turis manca tersebut. 

Meski, untuk berkomunikasi, Marjuni dan para pemandu lainnya hanya bisa menggunakan bahasa tarzan. ’’Itu (tidak bisa berbahasa asing, Red) memang kelemahan para pemandu di sini. Terpaksa, kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat,’’ jelasnya.

Pengalaman yang sama dialami pemandu wisata yang lain, Armansyah dan Ferizal. Ril, panggilan Ferizal, mengungkapkan, biasanya Mendel John Pols, direktur operasional Aceh Explorer, terpaksa ikut memandu turis asing. Sebab, warga Belanda yang kini tinggal di Aceh itu adalah satu-satunya yang bisa berbahasa asing. 

’’Tapi, kalau sudah naik ke bukit, dia (Mendel) tidak ikut,’’ ucap Ril, lantas tersenyum. Maklum, Mendel bertubuh tambun sehingga kesulitan bila harus naik ke perbukitan. 

Bila sudah begitu, para pemandu hanya bisa mengandalkan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan klien. ’’Misalnya, kalau waktunya istirahat dan makan, saya gerakkan tangan menirukan gerakan orang makan,’’ kata Ril. Begitu pula bila para turis asing itu diminta ekstrahati-hati saat melintasi medan yang licin dan berbahaya. 

Meski komunikasi terbatas, Ril dan Armansyah mengaku enjoy memandu para turis asing. Apalagi bila turis-turis tersebut tidak rewel saat mendaki. ’’Kami pun senang menjalankan pekerjaan ini. Rasanya tidak capek.’’

Berinteraksi dengan turis asing membuat Ril, Armansyah, dan Marjuni terpacu untuk bisa belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ’’Kalau ada yang mengajari, kami mau,’’ tutur Armansyah. ’’Ini tuntutan pekerjaan,’’ tambahnya. 

Marjuni, Ril, dan Armansyah termasuk beruntung bisa bekerja menjadi pemandu wisata. Sebab, banyak mantan kombatan yang kini menganggur. Kalau toh bekerja, sifatnya serabutan. 

Misalnya, yang tampak di Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Di Desa Meunasah Gede, ada 23 eks kombatan yang tinggal di kawasan pesisir tersebut.

Desa Meunasah Gede berjarak sekitar 32 kilometer arah tenggara Banda Aceh. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan bermotor menyusuri kawasan pesisir utara Aceh. Lebar jalannya 7 meter dan di beberapa titik dilebarkan menjadi 10 meter. Kondisi jalan tergolong mulus serta sepi. 

Menurut Kamaruzzaman, salah seorang mantan kombatan di kawasan itu, jalan tersebut sepi dari lalu lintas karena kendaraan dari Banda Aceh yang hendak menuju Medan, Sumut, memilih jalur tengah di kawasan pegunungan. 

’’Saya tidak tahu kenapa. Padahal, kalau lewat jalan sini, lebih dekat. Bisa memotong jalur sekitar 30 kilometer,’’ tuturnya. Akibat sepinya jalan itu, aktivitas perekonomian di kawasan tersebut juga minim.

Namun, Rabu siang (7/9) itu, desa tersebut cukup ramai. Banyak pemuda yang berkumpul di balai-balai. ’’Kalau siang, begini suasananya. Nanti malam mereka baru ke laut,’’ tutur Amiruddin, eks kombatan yang lain. 

Rata-rata eks kombatan di desa tersebut bekerja sebagai nelayan. Mereka mengoperasikan kapal ikan milik warga setempat. Komoditas utamanya ikan teri. Bila beruntung, mereka bisa mendapat ikan tongkol. Namun, jika sedang musim angin barat, mereka tidak melaut karena berbahaya.

Pemuda 30 tahun itu menuturkan, problem utama eks kombatan memang minimnya skill. Kebanyakan hanya punya kemampuan survival di hutan sebagai gerilyawan. Karena itu, mereka sangat ingin mendapat pelatihan apa saja agar bisa menjadi bekal dalam bekerja. Mereka juga berharap mendapat modal usaha.

Meski begitu, ada juga eks kombatan yang bisa mandiri dan tidak mengharapkan uluran tangan pemerintah. Contohnya, M. Yunus. Pria yang akrab dipanggil Bijeh Leubih itu, rupanya, mewarisi kemampuan neneknya membuat mi dan roti. Dia menggunakan kemampuan tersebut untuk bertahan hidup. Bijeh membuka usaha home industry mi tiga tahun terakhir. 

Saat ditemui di pasar sekitar tempat pelelangan ikan di Desa Meunasah Gede, Bijeh sedang memproduksi mi bersama Azhar Ibrahim alias Tengku Alu, juga eks kombatan yang menjadi pegawainya. Alu yang kini harus menggunakan kruk untuk berjalan ditugasi menggiling adonan bahan mi.

Bijeh menuturkan, dirinya tidak menyimpan sendiri kemampuan membuat mi itu. ’’Saya ajari beberapa orang korban DOM (Daerah Operasi Militer) membuat mi dan roti seperti ini,’’ ujar pria 48 tahun itu. 

’’Alhamdulillah, kini mereka bisa membuka usaha sendiri di rumah masing-masing,’’ tandasnya. (*/c5/ari)

Berita Terkait