Ketika Jalur Gerilya GAM di Hutan Aceh Menjadi Objek Wisata Petualangan (1)

Ketika Jalur Gerilya GAM di Hutan Aceh Menjadi Objek Wisata Petualangan (1)

  Minggu, 18 September 2016 09:49
DIJAMIN AMAN Wartawan Jawa Pos berpose di depan bukit cadas yang menjadi persembunyian gerilyawan GAM di kawasan Pucok Krueng, Aceh Besar.

Berita Terkait

Perjanjian damai Aceh sudah berusia sebelas tahun. Tidak ada lagi gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang bersembunyi di hutan-hutan. Basis-basis persembunyian mereka itu kini ”disulap” menjadi objek wisata baru yang mendebarkan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos BAYU PUTRA yang pekan lalu berwisata menyusuri jalur GAM.

PENANDA waktu di ponsel saya menunjukkan pukul 08.00 waktu Aceh. Mendel John Pols, direktur operasional Aceh Explorer (AE) yang berasal dari Belanda, kemudian mendekat. ”Mobil kita sudah datang,” ujarnya Kamis lalu (8/9). Pikap yang dirombak menjadi mobil penumpang itu akan mengantar saya dan para wisatawan lain menuju basis GAM di Pucok Krueng, Aceh Besar. 

Kami berangkat dari penginapan yang dikelola AE di pusat Kota Banda Aceh. Sebelum ke Pucok Krueng, kami menjemput dua pemandu di kawasan Lhoknga, masih di pusat kota. Mereka adalah Armansyah dan Ferizal. Keduanya merupakan mantan kombatan (warga sipil yang ikut perperang) GAM yang tinggal di Pucok Krueng sekitar tiga tahun.

Pucok Krueng merupakan kawasan hutan dengan sungai dan ngarai yang cukup sulit untuk dilewati. Hutannya rimbun. Wajar bila dulu digunakan sebagai salah satu basis persembunyian GAM. Namun, kini kawasan itu menjadi salah satu destinasi favorit para wisatawan yang gemar bertualang. 

Mencapainya tidak mudah. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Banda Aceh untuk menuju kawasan tersebut. Dari jalan utama, kendaraan yang kami tumpangi berbelok ke akses hutan. Lebarnya hanya 2 meter. Itu pun masih berupa jalan tanah dan becek karena sehari sebelumnya diguyur hujan yang cukup deras. Mobil harus pelan dan berhati-hati.

Setelah berjalan hampir 2 kilometer, barulah kami sampai di tepi bukit cadas yang sekian tahun menjadi salah satu basis GAM. Tiba-tiba gerimis turun. Petualangan baru dimulai. 

”Sebenarnya Anda salah musim untuk wisata di sini,” tutur Mendel, yang memiliki nama Islam Nurdin Al Hidayah. Ya, cuaca hari itu memang kurang bersahabat untuk pendakian.

Basis GAM di Pucok Krueng adalah kawasan perbukitan dengan tebing-tebing yang tinggi. Untuk mengawali tur, kami menuju salah satu sudut tebing. Di situ, terdapat sebuah ceruk yang mirip dengan kolam dan berisi air berwarna kehijauan. ”Ini namanya gua air karena sebelumnya memang gua,” tutur Ril –panggilan Ferizal– saat memandu.

Konon, papar Ril, puluhan tahun lalu ceruk itu tidak berisi air, melainkan kering dan dijadikan jalan. Istilah warga setempat, jalan kerbau. Sebab, ternak sering lewat gua yang diyakini sepanjang 50 kilometer itu. Setelah syekh yang tinggal di kawasan tersebut meninggal dunia, perlahan gua itu tidak lagi menjadi jalan orang, melainkan menjadi sungai bawah tanah dengan kedalaman sekitar 10 meter.

Ceruk itulah yang menjadi sumber air para gerilyawan GAM. Dulu Armansyah dan Ril-lah yang ditugasi untuk mengambil air. Mereka harus menuruni tebing setinggi 100 meter itu dengan berjalan sejauh 2 kilometer. 

Kami lalu turun lagi, kemudian menyeberangi Sungai Krueng Raba. Setelah perjanjian damai, pemerintah membuat semacam penahan/dam yang menjadi batas telaga dan sungai tersebut, menjadikan salah satu sisinya dangkal. Kami berjalan menyusuri sisi dangkal tersebut. Sangat licin karena ditumbuhi lumut. Karena itu, kami harus ekstrahati-hati saat melangkah. 

    Di sisi selatan, tampak jelas tebing batu yang dijadikan persembunyian anggota GAM. Lokasinya memang sangat ideal untuk bertahan. Dari atas, mereka tanpa terlihat bisa leluasa menembak siapa pun yang dianggap sebagai musuh di bawah tebing. Tentu dalam hal ini pasukan TNI. Namun, kini kondisi di wilayah itu tidak mencekam lagi seperti dulu. 

Lanskap tebing tampak sangat indah. Perpaduan telaga berair kehijauan dengan tebing batu yang ditumbuhi pohon dan belukar berwarna hijau. Menengok ke utara, Sungai Krueng Raba memanjang dengan air yang kehijauan. Tepiannya tidak tampak karena tertutup rimbunnya pepohonan. Aliran deras air yang turun dari telaga melewati sela-sela kaki, menambah nikmat rasanya.

Sesampai di seberang sungai, saya dan Armansyah menyusuri jalan setapak yang biasa mereka gunakan saat bergerilya. Sebagian di antaranya sudah ditumbuhi belukar, membuat jalan itu makin sempit. Jalur tersebut juga basah karena hujan hari sebelumnya.

Di beberapa titik, jalur menjadi licin. Khususnya ketika kami harus mendaki. Beberapa kali tampak jalur terputus, dipisahkan oleh batu-batu besar yang harus kami lewati. Bila tidak berhati-hati, bisa terpeleset dan jatuh.

Setelah berjalan hampir 1 kilometer, langkah kami terhenti. Armansyah menyarankan kami untuk tidak melanjutkan perjalanan. ”Jalurnya tidak aman kalau sedang hujan. Kita sampai di sini saja,” tutur pria 30 tahun itu. 

Ya, jalur tersebut memang tampak tidak mudah lagi, terutama bagi pendaki pemula seperti saya. Yang dikhawatirkan bukan bagaimana mendaki, melainkan bagaimana cara turun bila nanti sampai di puncak tebing dalam kondisi hujan.

Di puncak tebing itu, terdapat gua yang dijadikan persembunyian anggota GAM. Masih ada beberapa peralatan masak yang pernah digunakan anggota GAM. Letaknya cukup tersembunyi.

Kami pun kembali ke titik semula, menyeberangi Sungai Krueng Raba. Setelah berbincang dengan Mendel yang ikut mengantar, saya minta diantarkan ke lokasi lain yang juga menjadi jalur gerilya. Lokasinya terdapat di Lhoong, masih di Aceh Besar. Setengah jam dari Pucok Krueng. 

Kali ini saya tidak lagi bersama Ril dan Armansyah, melainkan Marjuni. Lhoong merupakan ”daerah kekuasaan” Marjuni saat masih menjadi kombatan GAM. Karena itu, dia sangat mengenal kawasan tersebut.

Berbeda degan Pucok Krueng, kawasan Lhoong lebih tertata. Di kawasan tersebut, terdapat air terjun yang dinamai Souhom. Jalur masuknya sepanjang 1 kilometer sudah diaspal. ”Sebelum perjanjian damai, tidak ada yang berani masuk ke sini,” tuturnya. 

Penjelasan itu baru saya pahami setelah tiba di air terjun. Di sekitarnya, terdapat perbukitan yang rimbun nan terjal. Dulu para anggota GAM bersembunyi di pucuk-pucuk tebing. Sebagaimana di Pucok Krueng, pandangan dari atas menjadi lebih luas. 

Kami lalu mendaki tangga batu di sisi air terjun yang memiliki tinggi sekitar 20 meter itu. Di puncak air terjun, terdapat sebuah pembangkit listrik mikrohidro berkapasitas 40 kilowatt. Kapasitas tersebut cukup untuk menerangi tiga desa terdekat dari air terjun.

Listriknya dijual kepada PLN, kemudian masyarakat bisa berlangganan melalui PLN. ”Kalau akhir pekan, banyak warga yang datang ke sini,” tutur Marjuni. 

Kami sepakat untuk tidak naik ke bukit karena jalurnya cukup terjal dan licin. Seperti di Pucok Krueng, kami lebih khawatir tidak bisa turun setelah sampai di puncak. Di puncak-puncak tebing, juga terdapat gua untuk bersembunyi. 

Karena itu pula, objek wisata gerilya lebih sering dikunjungi ketika musim kemarau yang jatuh pada awal tahun. Para wisatawan lebih sering memilih akhir pekan untuk menyusuri jalur itu. Baik Pucok Krueng, Lhoong, maupun kawasan hutan lain.

 

***

Mendel menuturkan, sejak perjanjian damai dan para kombatan turun gunung, otomatis perbukitan serta tebing-tebing di hutan Aceh Besar menjadi kawasan terbuka. Siapa saja bisa datang. ”Saya hanya menyediakan pemandu dari mantan kombatan karena mereka yang paling mengenal medan di situ,” tuturnya. 

Wisata gerilya itu, papar Mendel, berawal dari niatnya untuk membuka lapangan pekerjaan bagi para mantan kombatan. Dia kemudian mendapatkan izin dari gubernur Aceh saat itu, Irwandi Yusuf, untuk membuka paket wisata gerilya GAM. Berbekal surat izin tersebut, Mendel datang ke salah satu basis GAM di Pucok Krueng pada 2007.

Dia lalu mengumumkan bahwa dirinya akan memberikan pekerjaan kepada para mantan kombatan. Namun, hanya seorang yang melamar, yakni Marjuni. Itu pun setelah Marjuni mendapat restu dari mantan Komandan GAM Pucok Krueng Muharram. Muharram setuju setelah Mendel menunjukkan surat izin dari gubernur.

Sejak wisata itu dibuka pada 2007, sudah banyak turis yang tertarik dengan tawaran Mendel tersebut. Tidak sedikit pula wisatawan asing yang tertantang, di antaranya berasal dari Amerika dan Belanda. Mereka datang berombongan. 

Suami Jamilah Usman itu tidak secara spesifik menyebutkan biaya yang harus dibayar wisatawan. Yang jelas, ongkos untuk seorang pemandu Rp 150 ribu. Kemudian, tarif angkutan menuju lokasi yang sebesar Rp 450 ribu termasuk ongkos sopir. Wisatawan juga bisa memanfaatkan angkutan labi-labi, pikap yang baknya dimodifikasi dan diberi tempat duduk penumpang. Di Banda Aceh, banyak kendaraan seperti itu yang digunakan sebagai angkutan kota. Biaya sewanya lebih murah, sekitar Rp 250 ribu sehari.

Mendel menuturkan, umumnya turis asing lebih suka menggunakan labi-labi. Bukan karena harga sewanya lebih murah. ”Mereka penasaran karena kendaraan itu tidak ada di negaranya,” jelasnya. (*/bersambung/c11/ari)

Berita Terkait