Keterlibatan Publik Pendidikan Melalui Genggaman

Keterlibatan Publik Pendidikan Melalui Genggaman

  Sabtu, 16 April 2016 11:40   906

Transparansi di era informasi tidak boleh lagi ditutup-tutupi. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Meski tidak termasuk bidang yang berorientasi profit, pendidikan rentan terhadap penyelewengan, penyalahgunaan dan praktek kecurangan. Tujuan mulia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan terkontaminasi bila masih ada praktek kotor yang menodai kemurniannya. Karenanya seluruh warga negara berkewajiban aktif dalam pendampingan dan pengawasan.  

Melibatkan publik pendidikan tidak selamanya harus bertatap muka. Pembahasan mengenai pengembangan atau permasalahan sekolah melalu rapat komite atau musyawarah tidak harus berkumpul secara masif. Transformasi pelibatan publik mulai bergeser melalui media yang lebih mutahir tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Media kekinian seperti media sosial, web portal dan aplikasi dalam genggaman (aplikasi mobile) adalah solusi praktis penyampaian kritik dan saran secara elegan.

Tulisan ini menawarkan gagasan bagaimana publik pendidikan menaruh kepedulian terhadap mutu pendidikan. Karena pada dasarnya penjaminan mutu pendidikan adalah urusan semua pihak. Guru bertanggung jawab terhadap profesi dan output anak didiknya. Orang tua bertanggung jawab dalam pendidikan keluarga. Pemerintah bertanggung jawab atas regulasi dalam pengondisian pendidikan sepanjang masa. Simbiosis pendidikan seperti inilah yang seharusnya dibangun bersama atas dasar kesadaran yang saling melengkapi.

Aplikasi Berbasis Aspirasi

Pendidikan harus mengutamakan kejujuran untuk selalu terbuka dinilai serta diuji kualitasnya oleh publik. Pemanfaatan aplikasi mobile dalam genggaman adalah keniscayaan. Kehadirannya adalah kebutuhan. Melalui aplikasi berbasis aspirasi, publik dengan bebas memberikan masukan dan kritik tanpa batas.

Salah satu aplikasi mobile karya anak bangsa yang selaras dengan visi keterlibatan publik adalah Bulp (https://bulp.co). Bulp merupakan aplikasi mobile penyampaian aspirasi masyarakat secara umum terhadap perusahaan dan produk yang bergerak dalam layanan masyarakat. Idenya sederhana, masyarakat menyampaikan, aplikasinya menghimpun, menganalisis dan mempublikasikan perusahaan mana saja yang mempunyai tingkat layanan terbaik atau terburuk sehingga menjadi catatan penting untuk koreksi diri.

Secara garis besar output yang dihasilkan oleh aplikasi mobile ini adalah pujian, kekecewaan, saran dan kritikan untuk dipublikasikan dengan harapan menjadi rekomendasi perbaikan serta peningkatan kualitas layanan/ produk. Pujian adalah rasa bangga/ puas yang telah terwujud. Kecewa adalah rasa ketidakpuasan atas sikap dan layanan. Saran adalah masukan yang bersifat membangun. Kritik adalah masukan sebagai akibat penyesalan atas buruknya layanan. Semua perasaan publik seperti itu harus disampaikan, dikemas dan ditampilkan dengan menarik.

Menurut hemat penulis aplikasi semacam ini penting diimplementasikan untuk keterlibatan publik pendidikan. Orang tua misalnya akan mempublikasikan perasaan bangga karena anaknya menjadi berprestasi yang diwujudkan dengan pujian kepada manajemen sekolah sehingga menjadi viral. Sarana-prasarana sekolah bisa diinformasikan dengan cepat mengenai kondisi dan kelayakan penggunaannya. Cukup dengan memfoto dan mempublikasikan melalui aplikasi maka secara cepat akan tersebar. Jika publik banyak yang sependapat (karena mendapati hal yang sama; toilet atau ruang kelas kotor misalnya, atau kualitas bangunan kelas yang tidak kokoh) otomatis menjadi trend. Aplikasi juga memberi kemanfaatan kepada siswa untuk bersosialisasi sekaligus mempromosikan diri secara luas. Para siswa bisa “pamer” prestasi misalnya juara olimpiade sains, juara menari, juara melukis atau juara apapun sehingga banyak siswa yang ikut memberi pujian.   

Guru, tenaga kependidikan, sekolah bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk membangun portofolio. Semua portofolio positif seperti hasil karya, artikel, video pembelajaran, hasil penelitian tindakan kelas (PTK), laporan BOS (Bantuan Operasional Sekolah), perkembangan sarana fisik sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dengan mudah dapat diinformasikan kepada publik. Sebaliknya guru yang cara mengajarnya kaku, menghukum siswa semena-mena, pemberian nilai tidak fair, akan mudah sekali terkenal (kejelekan/ keburukannya) karena setiap siswa pasti akan mempublikasikan perasaan kecewa atas sikap ketidakprofesionalannya.

Siswa, guru, sekolah, peristiwa, kebijakan, kasus, program, layanan dan semua hal yang dipublikasikan oleh publik pendidikan selanjutnya diindeks menjadi topik. Topik yang mendapat tanggapan dan pembahasan paling banyak dari publik secara otomatis diolah dan dianalisis secara cepat oleh aplikasi. Hasil akumulasinya mengerucut menjadi trending topic. Trending topic akhirnya menjadi stimulus untuk merangsang pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan untuk melakukan evaluasi diri lembaga. Kalau trending topicnya cenderung buruk maka perlu segera dilakukan pembenahan. Jika trending topicnya bagus maka perlu peningkatan, lebih bagus lagi mulai berani berinovasi.

Potensi sebagai solusi

Potensi keterlibatan publik pendidikan dalam penggunaan aplikasi mobile mendapat daya dukung yang besar. Berdasarkan paparan Mendikbud dalam silaturahim dengan kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia pada 1 Desember 2014, jumlah anak yang mendapat akses pendidikan dasar dan menengah tahun 2014 berkisar 37 juta jiwa yang terdiri dari sekolah dasar 26.119.000 jiwa, sekolah menengah 9.901.000 jiwa, sekolah menengah kejuruan 1.735.000 jiwa.  

Jumlah tersebut belum termasuk orang tua siswa, komite sekolah, stakeholder pendidikan dan guru yang jumlahnya mencapai jutaan jiwa. Kabar baiknya saat ini melek teknologi informasi di kalangan orang tua dan siswa juga tinggi. Bahkan akses informasi melalui teknologi pun dengan mudah dilakukan oleh anak di tingkat sekolah dasar. Sehingga hanya butuh edukasi yang bersifat dasar saja mereka dapat mengakses dan menggunakan aplikasi untuk berpartisipasi.

Data dan peristiwa bisa saja dimanipulasi, tetapi realita adalah fakta yang tidak bisa dibohongi. Bukti otentik seperti foto, video, dokumen menjadi materi/ bahan yang selalu tersedia dan terbarukan sebagai khasanah kekayaan isi aplikasi mobile berbasis aspirasi. Apapun isinya – pujian, kekecewaan, saran, kritikan – adalah ungkapan/ perasaan kejujuran sebenarnya yang harus ditanggapi dengan segera dan bijaksana.   

Keberadaan aplikasi mobile berbasis aspirasi publik pendidikan adalah keharusan di era keterbukaan sebagai instrumen tepat untuk pemantauan mutu pendidikan. Kehadirannya adalah wujud gotong royong pembangunan pendidikan yang dilandasi kepedulian. Potensi kemanfaatannya menjadi lebih berharga karena bisa mencegah terjadinya pelecehan, kekerasan ataupun diskriminasi pendidikan yang dilakukan oleh pihak siswa, guru ataupun sekolah.

Membangun negeri tak hanya diwujudkan melalui aksi. Keberanian berekspresi dan menyampaikan aspirasi secara kolektif bisa jadi turut andil mengatasi permasalahan negeri. Mari berpartisipasi, mari mengkritisi, mari menyupervisi mutu pendidikan untuk kebaikan masa depan generasi kini dan nanti.**

chakim musthofa

Pemerhati dan peminat masalah pendidikan.