Ketakutan, Ichsan Ikuti Tarif Andri,Kasus Suap Pengurusan Perkara di MA

Ketakutan, Ichsan Ikuti Tarif Andri,Kasus Suap Pengurusan Perkara di MA

  Rabu, 17 February 2016 08:05

Berita Terkait

JAKARTA – Aksi pasang tarif dalam pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA) tampaknya sudah biasa dilakukan Andri Tristianto Sutrisna. Dalam kasus salinan putusan perkara Ichsan Suaidi, misalnya, mantan kepala Subdirektorat Kasasi dan Peninjauan Kembali Perdata dan Khusus MA itu ternyata yang berinisiatif mematok tarif Rp 400 juta.

Seorang sumber menyebutkan, kasus itu bermula dari ketakutan Ichsan selaku pihak beperkara terhadap putusan MA. Sebagaimana diketahui, majelis hakim agung yang diketahui Artidjo Alkostar mengganjar Ichsan vonis lima tahun penjara, denda Rp 200 juta, plus kewajiban membayar uang pengganti Rp 4,46 miliar subsider satu tahun penjara. Putusan itu dibacakan September 2015.

”IS (Ichsan Suaidi) rupanya takut. Dia kemudian meminta bantuan ke ALE (Awang Lazuardi Embat),” ujar sumber tersebut. Awang dimintai tolong karena selama ini menjadi corporate lawyer perusahaan Ichsan, PT Citra Gading Asritama (CGA). Dia juga dianggap punya kenalan orang di MA. Awang sebenarnya tak menangani kasus korupsi Ichsan yang diusut Kejari Selong, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat penyidikan hingga proses persidangan, Ichsan menggunakan pengacara lain.

Saat dimintai tolong, Awang mengenalkan Andri ke orang kepercayaan Ichsan. Dari situ terjadilah pembukaan harga. Andri terang-terangan mengajukan permintaan uang Rp 400 juta untuk menunda penerbitan salinan putusan selama tiga bulan.Entah ucapannya benar atau tidak, uang itu, kata Andri, diminta bukan untuk dirinya saja. Melainkan untuk sejumlah orang di MA yang akan membantu penundaan salinan. ”Katanya (Andri), kalau tidak ada uang, permintaan tolongnya ke sejumlah orang hanya akan disanggupi tanpa dikerjakan,” ucap sumber tersebut.

Staf Ichsan lantas menyampaikan pesan itu ke bosnya. Ichsan langsung menyetujui tanpa punya niat menawar. Nah, dalam proses pemberian uangnya, Ichsan meminta tolong Awang. Dari situlah kemudian praktik penyuapan tersebut terbongkar operasi tangkap tangan (OTT) KPK.Pimpinan KPK enggan berkomentar soal informasi itu. Mereka hanya menegaskan bahwa KPK masih berupaya mengembangkan pengusutan perkara tersebut, baik ke sisi penerima maupun pemberi suap. ”Sabar ya, ini seperti gunung es,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di gedung KPK kemarin (16/2).

Sementara itu, pengacara Awang, Gunadi, juga tak membenarkan meski sempat mengakui kronologi praktik penyuapan tersebut. Dia enggan berkomentar mengenai perkara yang menjerat kliennya. ”Nanti kami buka semuanya di persidangan. Ini strategi kami. Yang jelas, perkara ini terjadi bukan karena inisiatif klien kami,” tandasnya. Awang sendiri bakal dibantu sekitar 20 pengacara dari Peradi Malang.Terkait dengan perkara tersebut, KPK kemarin melakukan sejumlah penggeledahan di Surabaya. Salah satu sasarannya adalah kantor PT Citra Gading Asritama di Menanggal.

Berita Terkait