Kesulitan Pupuk Subsidi, Petani Ketapang Modal Tinggi

Kesulitan Pupuk Subsidi, Petani Ketapang Modal Tinggi

  Sabtu, 12 Agustus 2017 10:00
ILUSTRASI

Berita Terkait

Sejumlah kelompok tani di Kabupaten Ketapang mendambakan pupuk bersubsidi. Selain itu beberapa kelompok tani mengeluhkan tidak adanya bantuan mesin air untuk kebutuhan bertani mereka.

SALAH satu petani, Sarahadi, mengatakan, untuk pupuk sendiri para petani membeli di pasaran dan bukan merupakan pupuk subsidi. Sehingga harga di pasaran cukup tinggi yang mencapai Rp135 – Rp150 ribu perkarungnya. "Kita tidak tahu (pupuk) subsidi belinya di mana dan bagaimana caranya? Petani beli di toko-toko pertanian," katanya, kemarin (10/8) di Ketapang.

Salah satu anggota Kelompok Tani Berkat Usaha di Desa Sungai Kinjil ini menjelaskan, dalam satu karung terdapat sekitar 50 kilogram pupuk, pihaknya membeli menyesuaikan dengan kebutuhan lahan setiap petani. Bagi petani, meskipun harus merogoh kocek lebih dalam lagi, hal itu tidak terlalu menjadi masalah asalkan stok pupuk tersedia.

Menurutnya, untuk di Ketapang sendiri menjelang musim tanam petani kesusahan mencari pupuk, tetapi jika tidak musim tanam pupuk mudah dicari. "Mungkin karena saat musim tanam kebutuhan meningkat, sedangkan stok pupuk mungkin sedikit, makanya susah dicari," ungkapnya.

Ia menambahkan, selama ini pihaknya tidak pernah membeli langsung pupuk subsidi, namun pihaknya pernah mendapat bantuan seperti Hazton walaupun belum semuanya terbantu. Mengenai persoalan pupuk subsidi, pihaknya juga terkendala mengenai air lantaran saat musim kemarau petani harus beristirahat melakukan penanaman. "Kita berharap selain bantuan pupuk subsidi, juga bantuan sarana prasaranan menunjang pertanian, khususnya mengenai persoalan air," harapnya.

Anggota kelompok tani lainnya, Mustayam, mengatakan, pihaknya tidak mendapatkan bantuan pupuk subsidi di tahun ini. Akibatnya, petani membeli pupuk nonsubsidi yang harganya cukup mahal. "Untuk pupuk subsidi tahun kemarin kita ada dapat, tapi tahun ini tidak ada dapat," katanya.

Ia melanjutkan, untuk harga pupuk di pasaran bervariasi, mulai dari Rp3 ribu hingga Rp12 ribu perkilogramnya. Namun, diakuinya, selama persediaan pupuk ada, pihaknya berusaha untuk mencari biaya membelinya. “Daripada persediaan pupuk tidak ada lantaran dapat menggagalkan apa yang mereka tanam?” timpal dia.

Selain itu, persoalan lain yang menurutnya sangat penting mengenai air di lahan pertanian pihaknya. Diakuinya, jika mereka telah mengajukan proposal, guna meminta bantuan mesin air pada tahun 2015. Namun sampai sekarang bantuan tersebut tidak ada. Untuk itu pihaknya berharap agar pemerintah setempat dapat membantu mesin air, untuk menanggulangi persoalan air di lahan mereka.

"Harapan selain bantuan pupuk subsidi, juga ada bantuan mesin air karena kelompok kami memang belum pernah ada dapat bantuan pertanian," harapannya. (afi)

Berita Terkait