Kesuksesan Si Juki The Movie, Awal Kebangkitan Film Animasi Indonesia

Kesuksesan Si Juki The Movie, Awal Kebangkitan Film Animasi Indonesia

  Rabu, 10 January 2018 10:00
KREATOR KOMIK: Yahya Muhaimin, pemuda asal Kapuas Hulu yang terlibat produksi komik Si Juki | DOKUMEN PRIBADI

Berita Terkait

Kisah Yahya Muhaimin, Asisten Faza Meonk Kreator Komik Si Juki

Film Animasi karya anak Indonesia, Si Juki The Movie, yang resmi mengudara di layar bioskop akhir tahun lalu ternyata mendapat respon positif bagi para pencinta film. Film bergenre action ini, telah memberikan angin segar bagi industri film animasi di Indonesia. Yahya Muhaimin, pemuda asal Kalbar turut terlibat dalam proses pembuatan cerita tersebut. Bagaimana kisahnya?

SITI SULBIYAH KURNIASIH, Pontianak

PEKAN lalu, jurnalis Pontianak Post, menjadwalkan pertemuan dengan Yahya Muhaimin. Ia adalah asisten Faza Meonk, komikus kenamaan pengarang Komik Si Juki. Yahya, begitu ia biasa dipanggil, merupakan pria kelahiran Kapuas Hulu, 23 Mei 1993. Sejak tahun 2012, ia mengajukan diri untuk menjadi relawan dalam pembuatan komik Si Juki. Kala itu, belum banyak yang kenal dengan komik tersebut.

“Waktu itu zaman saya masih kuliah. Saya ikut jadi semacam volunteer. Waktu itu Si Juki belum populer, dan baru terbit dua buku,” ujar Yahya yang memulai kisahnya.

Faza Meonk, adalah kreator Si Juki. Pada awalnya, dialah yang membuat jalan cerita, hingga merealisasikannya dalam bentuk komik. Hasil karyanya itu dimuat dalam blog Si Juki. Setelah terbit dua seri, Yahya kemudian dipilih menjadi asistennya. 

Sebagai asisten, Yahya kerap dilibatkan dalam proses pembuatan komik. Berbagai ide datang dari Faza Meonk. Yahya kemudian mengembangkan ide tersebut dan merangkainya menjadi sebuah jalan cerita. Sesekali Yahya juga memberikan masukan tentang alur cerita yang ingin digarap.

“Faza Meonk ingin buat yang seperti ini, saya yang bikin jalan ceritanya, lalu didiskusikan lagi. Kadang ada perbaikan,” kata pemuda berkacamata yang akrab dengan headband di kepalanya itu. “Jalan cerita kadang juga dari saya. Dia berikan konsep, saya yang mengembangkan. Kadang juga saya yang punya ide lalu saya sarankan ke Faza Meonk.”

Sekitar 2014, komik Si Juki mulai dikenal luas. Penjualan komik pun mulai meningkat sehingga ada dorongan untuk menuangkan komik tersebut ke dalam bentuk animasi. Namun jalan itu tidak mudah. Sebab film animasi yang pernah tayang sebelumnya kurang direspon positif para pencinta film. Rumah produksi pun jelas tak ingin merugi.

Menurut Yahya, komunikasi dengan rumah produksi mulai dilakukan pada tahun 2015. Banyak masukan-masukan baru yang diperoleh. Salah satunya, ide untuk memproduksi komik Si Juki dalam bentuk film yang diperankan oleh aktor. Sehingga konsep animasi yang diusung menjadi film yang diperankan oleh manusia. Namun ide ini tidak disetujui oleh sang komikus.

“Faza Meonk inginnya Si Juki ya Si Juki, yang tetap jadi animasi,” ucapnya.

Singkat cerita, akhirnya kesepakatan pun terjadi. Produksi film dilakukan di awal tahun 2016. Faza Meonk dan Yahya mulai menuliskan cerita Si Juki yang akan difilmkan. Pembuatan naskah cerita menghabiskan waktu sekira satu tahun. Sepanjang itu pula proses produksi film dilakukan, mulai dari membuat desain karakter animasi, tampilan gambar, sekaligus pengisi suara. 

“Agar terlihat nyata, pengisi suara tidak menggunakan cara dubbing, tapi voice act. Jadi dia (pengisi suara) langsung akting, melakoni peran,” tuturnya. Proses pembuatan film memakan waktu hampir dua tahun. Bagi Yahya, dua tahun bukanlah tempo yang lama. Sebab, dalam pembuatan film animasi, biasanya memakan waktu hingga empat sampai lima tahun. 

Si Juki The Movie akhirnya dapat tayang di bioskop akhir tahun 2017. Respon penonton dapat dikatakan sangat baik. Tidak hanya kalangan anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Film ini memang didesain untuk dapat dinikmati oleh semua usia. Hingga hari kesebelas, setidaknya sudah lebih dari 600 ribu penonton yang menyaksikan film tersebut.

Si Juki The Movie menjadi film animasi buatan Indonesia yang pertama berhasil masuk dalam jajaran box office. Munculnya film yang mendapatkan animo besar ini secara tidak langsung memberikan tren positif bagi industri film animasi Indonesia, yang selama ini belum menunjukkan tajinya. 

“Di Indonesia rumah produksi tidak terlalu percaya dengan film animasi. Sebab kebanyakan gagal. Ada yang penontonnya yang cuma 60 ribu, bahkan ada yang hanya 10 ribu. Pengalaman di industri film animasi memang kurang bagus,” katanya.

Film Si Juki The Movie juga membuktikan bahwa industri film animasi buatan Indonesia juga bisa mendapatkan tempat di hati pencinta film tanah air. Hal ini juga memotivasi para komikus untuk terus berkreasi menghasilkan karya-karya terbaiknya. Selain itu, kesuksesan Si Juki The Movie juga akan mendorong rumah produksi untuk tidak ragu lagi membuat film animasi karya anak bangsa. (*)

Berita Terkait