Kesiapan Industri Jasa Keuangan di era MEA , Perlu Ketangguhan Mesin, Modal dan SDM

Kesiapan Industri Jasa Keuangan di era MEA , Perlu Ketangguhan Mesin, Modal dan SDM

  Rabu, 17 February 2016 07:56
LAYANI NASABAH: Salah satu yang perlu ditingkatkan perbankan nasional dalam menghadapi era MEA ini yakni kesiapan SDM. IST-DOK/INT

Berita Terkait

Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah berjalan dua bulan sejak ditetapkan awal Januari 2016. Semua sektor usaha harus bersiap diri menjalani era perdagangan bebas ini. Tak terkecuali pihak perbankan, mesti siap bersaing dengan pihak asing yang masuk ke Kalimantan Barat. Ramses L Tobing

INDUSTRI jasa keuangan harus bisa memacu kontribusinya agar mampu bersaing menghadapi era Masyarat Ekonomi Asean (MEA). Sebab, di era perdagangan bebas asia ini persaingan akan lebih terlihat dan cepat, termasuk di dunia perbankan.Asep Ruswandi, Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan ada beberapa hal yang mesti disiapkan untuk menghadapi persaingan ketat di era MEA. Pertama, jelas Asep, sumber daya manusia.  “Jangankan perusahaan, sumber daya manusia juga bisa berbahaya. Misalnya SDM dari negara Malaysia dan Singapura yang bisa masuk ke Bank Kalbar,” kata dia.

Karena hal itulah, sumber daya manusia itu harus bisa bertransformasi diri dengan meningkatkan pengetahuan sehingga mampu bersaing dengan pihak asing. Sebab, Asep mengibaratkan, bank itu seperti perusahaan yang harus siap bersaing dari sisi harga.Contohnya, kata dia, jika muncul bank luar di Kalbar dan bisa memberikan kredit dengan bunga lebih rendah. Tentu masyarakat akan berbondong-bondong pindah. Karena itu bank harus bisa melakukan efisiensi sehingga harga pokok bank untuk kredit akan turun.

“Jika harga pokok turun, maka jualan pun akan turun. Misalnya dua bank memasarkan produk yang sama. Jika itu perusahaan, maka masyarakat pasti memilih yang lebih murah. Itu juga terjadi di perbankan. Masyarakat membeli motor, mobil pasti bertanya yang paling murah. Bank ini berapa dan bank ini berapa,” terang dia.Kedua dari sisi permodalan. Asep mengingatkan agar semua pihak tidak meremehkan dana-dana yang relatif murah yang diperoleh dari masyarakat. Dia mencontohkan tabungan simpanan pelajar yang diluncurkan beberapa waktu lalu.

Asep meminta jangan melihat dari sisi pelajar yang menabung dengan nominal kecil. Justru yang harus dilihat dari sisi perbankannya. Jika berhasil akan memperoleh dana murah sekian banyak maka berdampak positif pada industri keuangan.Sebab perbankan sudah melakukan efiesiensi dengan memanfaatkan dana –dana yang relatif murah di masyarakat. “Potret ini yang terjadi di dunia perbankan Kalbar,” kata dia.

Bank punya keagenan di daerah juga mempunya nilai tambah. Sebab uang yang disedot dari dari tabungan. Dan itu menjadi sumber dana murah yang terkumpul dari masyarakat.Namun Asep tetap berharap industri keuangan tetap baik di era MEA, meskipun di sisi lainnya pertumbuhan perekonomian berjalan lambat. Dia mengibaratkan industri keuangan tidak hanya bisa melindungi tapi juga bisa menyerbu keluar. Akhirnya mampu bersaing dengan pihak asing.“Asalkan SDM  bagus, industri keuangan tidak hanya bisa melindungi tapi peluang untuk menyerbu keluar bisa lebih bagus,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait