Kesehatan Jiwa - Resah dan Takut Bencana

Kesehatan Jiwa - Resah dan Takut Bencana

  Minggu, 24 January 2016 08:22

Berita Terkait

Tanya:

Bapak ibu pengasuh konsultasi jiwa, saya seorang ibu rumah tangga. Belakangan ini saya sering merasa resah. Padahal tidak ada sebab yang jelas, perasaan itu muncul terutama kalau mendengar suatu kejadian musibah meskipun itu tidak menimpa saya atau keluarga saya. Tapi mengapa saya suka membayangkan kalau itu terjadi pada saya. Kalau sudah demikian yang ada saya jadi khawatir dan gelisah. Saya juga berpikir yang macam-macam sampai sulit tidur. Apa sebenarnya yang saya alami dan bagaimana jalan keluarnya?

 

R, di Pontianak

 

 

Jawab:

Ibu R di Pontianak, pada dasarnya adanya rasa khawatir terhadap musibah/bencana yang terjadi meskipun hal itu tidak menimpa diri kita, adalah wajar. Karena siapapun yang menyaksikan peristiwa tragis atau kejadian bencana akan mempengaruhi emosi, menimbulkan perasaan sedih, haru, marah, iba dan lain-lain. Sebagian orang kemudian tidak hanya bereaksi secara emosional namun berempati dengan berupaya memberikan bantuan terhadap mereka yang terkena dampak bencana/musibah.

Namun kalau reaksi emosional itu menetap dalam diri seseorang, kemudian berkembang dalam alam fantasinya bahkan seakan-akan hal itu akan terjadi pada dirinya sehingga memunculkan respon maladaptif, maka kondisi tersebut tentu saja menjadi persoalan. Sebenarnya perlu lebih didalami lagi, apakah ibu pernah mengalami kejadian trauma masa lalu terkait musibah atau mungkin mempunyai penyakit kronis atau penyakit psikosomatik (penyakit fisik yang dipengaruhi faktor emosi seperti asma, maag dan lain-lain). Informasi ini diperlukan untuk melihat riwayat yang berkaitan dengan masalah psikososial.

Ibu R, ada beberapa orang yang memang bereaksi agak berlebihan secara emosional terhadap berbagai hal yang menimpa dirinya atau menyaksikan sesuatu yang sarat pesan-pesan emosi. Sebagian besar orang yang lain mampu menempatkan diri secara proporsional terhadap reaksi emosi yang ia miliki. Artinya, meskipun emosinya bergejolak suatu ketika namun ia tetap bertindak dalam batas yang normal. Mengapa mereka bisa demikian? Karena mereka menyeimbangkan peranan emosi, pikiran dan perbuatan serta lebih ideal ditambah spiritual.  Sebenarnya sederhana. Sebagai contoh ketika menyaksikan orang lain yang sedang menangis sedih karena tertimpa musibah, ia juga ikut sedih tapi tentu saja tidak ikut menangis. Mengapa? Karena peranan pikirannya yang bermain. “Kan tidak pantas kalau saya ikut menangis”, “yang dibutuhkan sekarang bukan menangis tapi membantu apa yang mereka perlukan”. Nah, pertimbangan-pertimbangan seperti itu merupakan peranan pikiran dan ini sebenarnya terjadi secara naluri dan spontanitas.

Oleh karena itu yang bisa ibu lakukan adalah belajar untuk menyeimbangkan peranan emosi, pikiran, perbuatan dan spiritual. Tempatkan ia pada tempatnya dan lepaskan energinya sesuai porsinya. Terkadang kita agak sulit mengontrol emosi, namun kita bisa mengendalikan respon terhadap emosi tersebut. Terus tetaplah untuk beraktivitas normal, meskipun disaat resahnya sedang muncul, karena aktivitas yang anda lakukan akan menjadi energi positif  yang dapat mengusir keresahan itu atau setidak-tidaknya mengalihkan perhatian terhadap hal yang lebih bermanfaat.

Terakhir tidak dipungkiri ada beberapa kasus psikososial yang memerlukan treatmen khusus, kami sarankan anda untuk berkonsultasi kepada profesional terkait. Semoga bermanfaat, terima kasih. (*) 

 

Berita Terkait