Kesadaran Bela Negara

Kesadaran Bela Negara

Senin, 29 Agustus 2016 09:10   4,922

KESADARAN bela negara adalah kondisi psikologis berwujud sikap dan perilaku serta tindakan tanggap dari setiap warga negara terhadap suatu hal yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Kesadaran bela negara yang demikian itu sangat penting bagi kelangsungan atau eksistensi suatu bangsa. Namun kenyataannya, kesadaran berbangsa dan bernegara itu masih sangat tipis atau rendah, demikian pendapat Ryamizard Ryacudu selaku Menteri Pertahanan RI pada saat menjadi keynote speaker pada Rapat Koordinasi Pembinaan Kasadaran Bela Negara dengan Para Gubernur dan Rektor seluruh Indonesia, Kamis, 25 Agustus 2016 di Gedung Bhinneka Tunggal Ika Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Barat N0. 13-14 Jakarta.

Teorisme, radikalisme dan narkoba merupakan ancaman nyata bagi bangsa ini sebagai fakta lain rendahnya kesadaran bela negara. Sultan Hamengku Buwono X selaku gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan hal senada bahwa kesadaran bela negara merupakan masalah resius bangsa ini, beliau katakan, “dominasi yang kuat terhadap yang lemah adalah fenomena keseharian kita dan demokrasi harus dipahami sebagai alat bukan tujuan sehingga demokrasi itu tidak boleh mengalahkan nasionalisme. Hal ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama anak bangsa”.

Andi Widjajanto selaku moderator diskusi pada rapat koordinasi tersebut mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara kuat apabila negara tersebut menganut pahan “Pertahanan Total atau Total Depend” sebagaimana telah dibuktikan oleh banyak negara kuat di dunia ini. Beliau menyakini dan mendukung konsep “Bela Negara” yang dicanangkan oleh Ryamizard Ryacudu ini adalah satu bentuk dari pertahanan total sebagai sebuah alternatif terbaik bagi pertahanan negara. Ia mengatakan bahwa program bela negara adalah cara pemerintah mengantisipasi berbagai ancaman bangsa yang dari waktu ke waktu terus berkembang.

Sehubungan dengan itu rapat koordinasi pembinaan kesadaran bela negara ini adalah sebuah kegiatan penting yang diikuti oleh Dirjen Pol Pum Kemendagri, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Gubernur dan Rektor, menghadirkan Nara Sumber: bapak Ryamizard Ryacudu Menteri Pertahanan Keamanan RI selaku Keynote speaker, Soedarmo, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Faisal Dirjen Polhan Kemenhan, Intan Ahmad selaku Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, dan Moderator pengamat militer sekaligus dosen UI Andi Widjajanto.

Dari provinsi Kalimantan Barat hadir tiga orang; Christiandy Sanjaya mewakili Gubernur Kalimantan Barat, penulis mewakili Rektor UNTAN, dan seorang teman dosen Universitas Panca Bakti Pontianak.

Banyak informasi disampaikan terkait kesadaran bela negara, antara lain: rendah dan tipisnya jiwa kebangsaan bangsa ini, perubahan berbagai bentuk ancaman bangsa dan negara, seperti; terorisme, radikalisme, saparatis dan narkoba. 

M. Faisal selaku nara sumber mengatakan banyak cikal bakal radikalisme yang ada di perguruan tinggi. Untuk itu perlu ada materi kurikulum bela negara di perguruan tinggi. Intan Ahmad menepis asumsi marakanya radikalisme di perguruan tinggi karena kelalaian selama ini. Sebaiknya, radikalisme harus disikapi secara hati-hati, dan bibit atau cikal bakal radikalisme telah ada di kalangan siswa sebelum mereka masuk keperguruan tinggi. Sekalipun demikian, Kemenristekdikti telah berupaya menangkal terorisme, radikalisme, dan narkoba, antara lain melalui kurikuler, cokurikuler dan ekstrakurikuler seperti; program general education dan mengefektifkan kegiatan mahasiswa di kampusnya. 

Kesadaran bela negara yang digagas oleh Kementerian Pertahanan RI juga sejalan pemikiran pakar pendidikan berkebangsaan Brazil Paulo Fraire yang mengatakan bahwa pendidikan itu pada hakikatnya adalah membangun kesadaran.    

Menurut pengamatan penulis harus diakui bahwa program dan kegiatan membangun kesadaran bela negara selama ini belum substantif, strategi pendidikan dan pembelajaran belum efektif, melainkan masih bersifat serimonial, simbolis, seperti upacara, baris berbaris, baru sebatas hormat dan pasang bendera.

Solusi pengintegrasian kurikulum bela negara ke dalam kurikulum di semua jenjang belumlah cukup dalam membangun kesadaran bela negara tersebut, masih diperlukan proses internalisasi nilai bela negara yang lebih komprehensif dan lebih baik lagi melalui strategi pendidikan dan kebudayaan secara efektif justru jauh lebih penting, namun belum mendapat perhatian dan implementasi pembinaan kesadaran bela negara sebagaimana telah disusun harus dapat dilaksanakan secara efektif dan sungguh-sungguh. 

Tugas bangsa ini selanjutnya adalah mengefektifkan pelaksanaan pembinaan kesadaran bela negara tersebut, yakni segala usaha, tindakan dan kegiatan yang   menumbuh kembangkan sikap dan perilaku warga negara yang (1) cinta tanah air, dengan indikator antara lain; bangga sebagai bangsa Indonesia, menjaga nama baik bangsa dan negara Indonesia dan mencintai produk dalam negeri, budaya dan kesenian bangsa Indonesia; (2) sadar berbangsa dan bernegara dengan indikator antara lain; menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, berpikir, bersikap, dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia; (3) setia pada Pancasila sebagai ideologi negara dengan indikator antara lain; memahami, mengamalkan nilai dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga nama baik bangsa Indonesia; (4) rela berkorban untuk bangsa dan negara dengan indikator antara lain; bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi untuk kemajuan bangsa dan negara serta mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan; (5) serta mempunyai kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara dengan indikator antara lain; senantiasa memelihara kesehatan jiwa dan raga, terus membina kemampuan jasmani dan rohani.

Adapun implementasi kesadaran bela negara dapat dilakukan di lingkungan pendidikan, baik informal, formal maupun nonformal melalui kegiatan intrakurikulur, ektrakurikuler, dan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Di lingkungan pemukiman dapat dilakukan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan masyarakat, kegiatan olah raga, seni budaya dan kegiatan solidaritas sosial. Dan di lingkungan pekerjaan dalam kegiatan seperti; coffe morning, pembentukan organisasi belajar dan pembangunan tempat ibadah. (Penulis adalah Dosen FKIP UNTAN).

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019