Kerupuk Basah Jongkong yang Mengundang Selera

Kerupuk Basah Jongkong yang Mengundang Selera

  Minggu, 17 April 2016 07:36
Makanan khas kerupuk basah Jongkong.

Berita Terkait

SETELAH menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Kota Selimbau, perjalanan menyusuri Sungai Kapuas bersama Kapal Bandong KM Cahaya Borneo akhirnya tiba di Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu. Sebuah kecamatan yang menjadi persinggahan terakhir dari rute Kapal Bandong ini.

Setibanya di kota ini, posisi matahari tepat berada di atas kepala.  Adzan Sholat Jum’at pun seraya menyambut  kedatangan kami.

Sepintas, kota Kecamatan Jongkong tak jauh berbeda dengan kecamatan-kecamatan di Kapuas Hulu yang pernah kami singgahi saat perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. Bedanya, kota ini tampak lebih sedikit berkembang. Dermaga kota Jongkong sudah  memiliki pasar dan terminal kendaraan roda empat sebagai alternative jalan darat menuju Kota Putussibau atau ke ibu kota provinsi, Pontianak.

Saya menyempatkan diri berkeliling di pasar itu. Maklum, selama perjalanan hanya berada di atas kapal, dan jarang sekali menginjakan kaki ke tanah. Sembari melepas lelah, saya ditemani Juanda, sang juru mudi mampir di sebuah kedai kopi.

Yang membuat saya tertarik, setiap kedai kopi yang ada selalu menyajikan Kerupuk Basah, makanan khas kabupaten ini. Satu gulung kerupuk basah, dibandrol harga kisaran Rp10 ribu. Masalah rasa, saya kira semua kerupuk basah hampir sama. Tinggal bagimana menyajikan bumbu sebagai penyedapnya.

Bicara soal Kerupuk Basah, saya teringat  saat saya singgah ke rumah Yoga, salah satu anak buah kapal. Masnun, ibu Yoga merupakan salah satu agen Kerupuk Basah dan kerupuk kering di Kecamatan Selimbau.

Dalam satu bulan, Masnun biasanya menghasilkan 600 kg kerupuk kering dan 30 gulung/potong kerupuk basah. Untuk kerupuk kering, Masnun mengirimnya berbagai daerah, seperti Sintang dan Pontianak. “Kalau kerupuk basah, biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan di sini. Kalau kerupuk kering kita kirim ke Sintang dan Pontianak,” ujar Masnun.

Cara membuat kerupuk basah maupun kerupuk kering hampir sama. Bedanya jika kerupuk kering perlu proses pengeringan selama dua sampai tiga hari.

Tahapan dalam membuat kerupuk basah maupun kerupuk kering, yang pertama menyiapkan bahan baku, seperti ikan. Biasanya dipilih ikan Belidak. Namun, karena populasi ikan jenis ini semakin langka dan susah didapat, maka ia menggunakan ikan campuran.

Ikan lalu dibersihkan, ditimbang, digiling. Kebetulan Masnun memiliki mesin penggiling sendiri.

Kemudian, langkah berikutnya, ikan yang sudah lembut dimasukan ke wadah dan ditambahkan air, bumbu atau penyedap rasa lalu diaduk hingga rata. Tahap berikutnya ditambahkan tepung kanji, agar gilingan ikan dan bumbu menyatu. Setelah itu dibentuk gulungan, lalu dimasukan ke panci untuk dikukus sebelum dihidangkan. “Proses membuat kerupuk basah bisa selesai dalam waktu yang cepat, tergantung berapa banyak yang diperlukan,” kata perempuan yang sudah 10 tahun memproduksi kerupuk Basah ini.

Untuk membuat kerupuk kering, lanjut Masnun, prosesnya hampir sama. Bedanya pada proses pengeringan.

Dalam memproduksi Kerupuk Basah dan Kerupuk Kering ini, Masnun mengaku kesulitan untuk mendapatkan bahan baku, terutama ikan. Apa lagi kondisi di Selimbau sedang dilanda banjir akibat luapan Sungai Kapuas. “Sekarang ikan agak susah. Apalagi kondisi sekarang. Banjir,” keluhnya.**

Liputan Khusus: 

Berita Terkait