Keraton Kadriyah Gelar Ritual Junjung Kurnia, Setelah Hampir 50 Tahun Terlupakan

Keraton Kadriyah Gelar Ritual Junjung Kurnia, Setelah Hampir 50 Tahun Terlupakan

  Sabtu, 19 December 2015 08:25
Sultan Pontianak Sy Abubakar Alkadrie dan istrinya memperlihatkan foto acara Junjung Kurnia yang dilaksanakan pada 1959 di Keraton Kadriyah. Ketika itu, Sultan masih berusia belasan tahun saat dinobatkan sebagai pangeran.

Berita Terkait

 
PONTIANAK — Setelah hampir 50 tahun ritual Junjung Kurnia tidak pernah dilaksanakan oleh Keraton Kadriyah, pada akhir 2015 ini Kesultanan Pontianak kembali melaksanakan ritual adat tersebut. Junjung Kurnia adalah acara ritual penutup yang wajib dilakukan setelah melaksanakan penobatan putra mahkota dan pangeran beberapa waktu lalu.

Acara ini akan digelar malam ini, Sabtu (19/12) di Keraton Kadriyah Pontianak. Rencananyanya, Keraton akan mengundang seluruh pangeran, pemuka dan tokoh masyarakat, kalangan birokrat serta pejabat daerah ini.
“Ini acara unik yang sudah hampir 50 tahun tidak pernah dilaksanakan oleh keraton. Terakhir dilaksanakan pada 1959. Karena kami sudah melaksanakan penobatan putra mahkota dan pangeran, karena itu wajib melaksanakan acara ini sebagai ritual penutup,” ungkap Sy Hasan Basri Alkadrie, Koordinator Acara Junjung Kurnia pada jumpa pers di Keraton Kadriyah Jumat sore kemarin.
Dijelaskannya, Junjung Kurnia adalah acara kehormatan bagi Sultan Pontianak, Sy Abubakar Alkadrie. Sebab, acara ini adalah bentuk ucapan terima kasih puluhan pangeran dan putra mahkota yang telah dinobatkan oleh Sultan beberapa waktu lalu. “Ini bentuk balas budi pangeran dan putra mahkota kepada Sultan, yang telah memberi mereka gelar kehormatan,” ungkap Sy Hasan Basri.
Ritual Junjung Kurnia ini akan dirangkai dengan beragam ritual lainnya, seperti mandi-mandi dan acara ucapan terima kasih dari Sultan ke tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai elemen yang telah mendukung dan mengabdi bagi kejayaan Keraton Pontianak.Namun, jelas Sy Hasan Basri, acara mandi-mandi tersebut tidak dilaksanakan di dalam keraton, melainkan di rumah masing-masing. Sebab, acara mandi-mandi akan sangat memakan waktu dan cukup rumit untuk dilaksanakan.
“Tapi mereka akan kita doakan, dan kita bekalkan air dari keraton yang sudah didoakan untuk mereka mandi dirumah masing-masing,” ungkap Hasan Basri.Sementara itu, Sultan Pontianak, Sy Abubakar Alkadrie mengajak masyarakat kota Pontianak untuk datang beramai-ramai ke keraton menyaksikan acara ini. Jika zaman dahulu, ungkap dia, masyarakat akan berbondong-bondong datang ke keraton untuk menyaksikan acara ini, namun, tak dipungkirinya akan sangat berbeda dengan masyarakat sekarang yang sudah super modern.
“Tapi ini sebagai imbauan saja, agar masyarakat tidak melupakan nilai-nilai warisan dari leluhur mereka. Acara ini menjadi bagian dari kehidupan para leluhur kita yang harus kita lestarikan agar kita tahu dan tidak lupa akan sejarah,” harapan dia.Selanjutnya Sultan juga mengungkapkan bahwa Kesultanan Pontianak masih punya banyak PR yang harus dikerjakan untuk meningkatkan kejayaan Kesultanan Pontianak.“Salah satu PR yang kita kerjakan saat ini adalah memperjuangkan sejarah lambang Burung Garuda yang merupakan ciptaan dari leluhur kita, Sultan Hamid II,” ungkap dia. (bdi)  

 

Berita Terkait