Kerap Muncul di Teluk Nuri pada Maret hingga Mei

Kerap Muncul di Teluk Nuri pada Maret hingga Mei

  Jumat, 8 April 2016 09:26
MIRIP: Foto yang diambil warga Tanjung Harapan, yang objeknya mirip spesies anjing laut. ISTIMEWA

Sebuah karya fotografi yang menunjukkan objeknya mirip anjing laut berenang di wilayah Teluk Nuri, Desa Tanjung Harapan, Kubu Raya beredar di kalangan aktivis lingkungan. Hingga kini, belum diketahui secara pasti spesies binatang tersebut. Warga sekitar sering melihat kemunculan binatang itu sekitar bulan Maret, April, dan Mei.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

DIREKTUR Eksekutif Sampan Kalimantan Fajri Nailus mengaku sudah melihat foto hewan yang disebut mirip anjing laut itu. Foto tersebut diperoleh dari Tim Lembaga Pengelola Hutan Desa Tanjung Harapan, ketika melakukan identifikasi potensi di wilayah hutan desa. 

Berdasarkan pengakuan Ketua LPHD Tanjung Harapan Ismail, lanjut Fajri, secara tidak sengaja melihat binatang mirip anjing laut berenang di kawasan Teluk Nuri, yang masih masuk kawasan Desa Tanjung Harapan. “Tak mau melewatkan momen, Ismail langsung mengabadikan gambar dengan kameranya,” ucap Fajri, di Kantor Sampan Kalimantan, Kamis pagi.

Kemunculan binatang yang diduga anjing laut, bukan pertama kali dilihat. Bagi masyarakat setempat, terutama nelayan yang mencari ikan, di perairan tersebut sering melihat satwa itu muncul, terutama pada bulan Maret, April dan Mei. Binatang itu muncul ketika mengejar ikan. Hewan ini cukup agresif, terlebih jika terancam, bisa menyerang. Karena hal itu, nelayan sekitar membiarkan spesies itu bebas menangkap ikan.

Teluk Nuri berada di bentang pesisir Padang Tikar dengan Pulau Maya. Secara administratif masuk Desa Tanjung Harapan, Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya yang berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara. Perairannya terhubung dengan Laut Cina Selatan. 

Menurut Fajri, temuan spesies mirip anjing laut perlu dikaji lebih dalam. Mengenai benar tidaknya, temuan spesies ini menunjukkan bahwa masih banyak hewan unik di wilayah pesisir Kalimantan Barat yang belum semua bisa terekspos.

Sampan bersama LPHD setempat memiliki komitmen menjaga kelestarian ekosistem wilayah pesisir. Khususnya hutan mangrove gambut. Dalam identifikasi ini, tentu akan mencari spesies kunci, sehingga teridentifikasi dengan baik.

Secara pribadi, ia belum bisa memastikan foto tersebut benar anjing laut. Menurut penuturan anggota IUCN, spesies itu adalah berang-berang laut. Tetapi kalau dilihat, binatang itu lumayan besar. Menurut info yang di dapat, panjangnya lebih dari 1 meter. “Kalau beratnya bisa mencapai 30-40 kilogram,” pungkasnya.

Ada juga yang bilang bahwa spesies itu anjing laut tersesat. Menurut Fajri, bisa saja terjadi, karena berdasarkan cerita warga, spesies ini sering muncul di bulan tiga, empat dan lima. Artinya, tempat tersebut merupakan habitanya. Bagian belakang kakinya juga bersirip, persis seperti anjing laut. “Kalau berang-berang, kakinya biasa, ini kakinya seperti mamalia laut,” ucapnya.

Apabila benar adanya, tentu wilayah tersebut dapat menjadi potensi luar biasa bagi Kubu Raya. Salah satunya mengenalkan daerah ini sebagai daerah wisata mangrove. Diketahui, mangrove di sana masih alami, di tambah keberadaan kayu dan akar raksasa menyimpan keunikan. “Secara keseluruhan, kurang lebih delapan ribu hektare mangrove alami terhampar. Ini potensi wisata,” ungkapnya.

Direktur Walhi Kalimantan Barat Anton Widjaya, telah melihat foto spesies mirip anjing laut itu. Anton mengungkapkan, temuan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa perairan tersebut kaya akan satwa yang belum teridentifikasi. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekosistem pesisir, salah satunya keberadaan hutan mangrove.

Secara pasti, spesies yang diketemukan warga belum diketahui, karena belum teridentivikasi dengan valid. Apakah itu jenis anjing laut atau jenis mamalia lain yang endemic di habitat hutan bakau. artinya lanjut Anton memang perlu penelitian lebih lanjut, agar identifikasi jenis fauna tersebut bisa dilakukan secara ilmiah.

Secara umum, habitat rawa mangrove yang terjaga kondisinya memang memiliki beberapa spesies fauna besar, seperti keluarga berang-berang atau beberapa jenis pesut yang hidup diperairannya. “Tidak tertutup kemungkinan temuan warga itu adalah jenis berang-berang. Namun secara pasti, perlu riset lah yang bisa menjawab secara pasti,” tuturnya.

Ditambahkan Anton, secara umum apapun temuan binatang tersebut, sudah menjelaskan bahwa habitat mangrove Padang Tikar memiliki kekayaan hayati yang tinggi. Sehingga perlu dilakukan upaya proteksi dan penyelamatannya. 

“Kita tidak mau lagi melihat pengrusakan dilakukan secara terang-terangan, tetapi tidak ada upaya hukum yang dilakukan! kita tidak mau nasib berang-berang atau satwa lain yang dilindungi menjadi punah seperti nasib beberapa satwa langka lain di Kalbar,” tegasnya.

Informasi ini perlu ditindaklanjuti lebih dalam. Terutama untuk mengetahui jenis, termasuk jumlah dan sebarannya. Apabila ini benar anjing laut, maka akan menjadi temuan besar di Kalimantan Barat.(*)