Kerap Jadi Buruan Pejabat dan Politisi

Kerap Jadi Buruan Pejabat dan Politisi

  Kamis, 31 March 2016 10:10
HARUS TELATEN: Agus memasukkan salah satu perkutut ke sangkar. MOHAMAD NUR KHOTIB/JAWA POS

Berita Terkait

PAGI itu (25/3), Agus Susiyanto, 46, begitu asyik dengan kesibukan beternak burung perkutut. Mengganti pakan, air minum, dan membersihkan kandang ratusan perkutut. Ya, begitulah aktivitas rutin pagi bapak dua anak tersebut.

Sebelumnya, burung perkutut yang dipelihara Agus memang tidak banyak sekarang. Dia mengatakan, permintaan burung perkutut dari tahun ke tahun relatif meningkat. Terutama burung perkutut hitam dan putih. Sebab, burung perkutut dengan dua warna itu sangat kental diselimuti mitos. ”Mulai tahun 2002, sudah banyak yang cari. Dua warna itu termasuk yang langka soalnya,” ujarnya.
Menurut dia, burung perkutut hitam dan putih itu tidak selalu bisa didapat dengan mudah. Sebab, jika mengawinkan sesama induk burung per kutut putih, hasilnya belum tentu peranakan burung perkutut putih. ”Jadi, ndak mesti. Malah biasanya sesama warna doreng dikawinkan meng hasilkan anak perkutut putih,” ungkap warga RT 11, RW 2, Dusun Mbijo, Desa Sebani, Kecamatan Tarik, itu.

Nah, ketidakmenentuan perkawinan yang bisa menghasilkan peranakan burung perkutut putih itulah yang membuatnya kental mitos. Agus menyatakan, burung perkutut putih memiliki kaitan sejarah dengan zaman Kerajaan Majapahit. Dahulu, lanjut Agus, setiap pejabat Majapahit pasti memiliki burung perkutut putih. Mitosnya bisa untuk mendatangkan ketenteraman, keberkahan hidup, dan menolak bala.

Bunyi burung perkutut putih juga dianggap sebagai pertanda datangnya tamu. ”Jadi, dulu kalau tiba-tiba burungnya bunyi, tandanya mau ada tamu atau bisa juga musibah,” katanya, lantas tersenyum. Agus menyatakan, mitos itulah yang menjadi alasan banyak pejabat dan politikus yang memburu burung perkutut putih. Harganya pun tergolong tidak murah, Rp 1 juta–Rp 2 juta. Semakin tua umurnya, harganya semakin mahal. Bahkan, kata Agus, di online shop ada yang menjual dengan harga Rp 5 juta. Apalagi, kalau sudah induk dan produktif, harganya bisa saja mencapai Rp 10 juta. Akhirnya, sejak 2005 Agus memutuskan untuk beternak burung perkutut. Dalam sebulan, kini dia bisa menjual minimal 10 ekor per kutut putih, 5 ekor perkutut hitam, dan puluhan perkutut jenis biasa. Keuntungan yang didapat Agus sangat besar.

Yakni, bisa men capai Rp 15 juta dalam sebulan. Dia juga me ngatakan bahwa kerugian para peternak per kutut sebenarnya sangat minim. Peternakan perkutut itu sekarang menyebar kepada para tetangganya. Saat ini, kata Agus, ada sekitar 29 peternak perkutut di kampungnya. Baru saja dibentuk komunitas peternak perkutut yang dinamai Gema Anter Jaya. Ke depan, selain kerja sama dalam pen jualan perkutut, dia berharap bisa berbagi ilmu seputar burung perkutut dengan wadah komunitas tersebut.

Agus juga berharap pemerintah setempat bisa mendukung para peternak burung perkutut. Setidaknya, kata Agus, bisa membantu memberikan pelatihan dan pengembangan seputar dunia perkutut. Misalnya, memberikan bantuan berupa ide-ide dan inovasi. ”Karena selama ini pemerintah cuma berfokus pada peternakan yang bisa dimakan. Misalnya, ayam,” ungkapnya. (*/c6/tia)

Berita Terkait