Kerap Diserang Panik

Kerap Diserang Panik

  Minggu, 13 March 2016 08:18

Berita Terkait

KONSULTASI JIWA

Tanya:

Saya punya saudara yang tiba-tiba ketakutan, terutama pada kematian, padahal tidak ada penyebab yang jelas. Takutnya luar biasa sampai dia panik minta tolong. Kami berusaha menenangkan tapi kayaknya percuma dia sangat merasa ketakutan. Beberapa saat kemudian dia perlahan merasa tenang. Tapi kambuh lagi, ini sudah terjadi beberapa kali. Yang akan kami sampaikan di sini, apakah dia mesti dibawa ke RSJ? Tapi sekarang dia sudah seperti biasa, seperti tidak pernah mengalami ketakutan. Cuma kami takut kalau dia terulang lagi. Terima kasih.

Jawab:

Perlu pemeriksaan lebih lanjut terhadap saudara anda, namun jika melihat sepintas sepertinya saudara anda mengalami gangguan panik, yakni serangan kecemasan yang akut, episodik (biasanya berulang kali, dengan rentang dua kali seminggu) dan kuat, dengan manifestasi perasaan takut yang berlebihan dan timbulnya keluhan fisik, seperti: Sesak nafas atau nafas rasa tersumbat, pusing, denyut jantung cepat, berdebar, gemetar sebagian atau sekujur badan, berkeringat, rasa tercekik, mual, rasa kesemutan, rasa panas atau dingin di kulit,  nyeri dada atau rasa tertindih dan rasa mau pingsan.

Selain itu, jika ditanya apa sebab ketakutan, biasanya si pasien tidak bisa menjelaskan sumber ketakutannya, seperti yang dialami saudara anda. Atau kalaupun ia menyebutkannya, alasannya tidak rasional. Paisen juga merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Beberapa kasus yang terjadi, pasien yang datang ke UGD rumah sakit atau ke petugas kesehatan dengan serangan gangguan panik menyampaikan keluhan: nyeri dada dan rasa mau pingsan serta gelisah hebat.

Gangguan panik terjadi pada 1,5-2% dari populasi penduduk (dewasa), lebih banyak dialami wanita, biasanya bermula pada usia dewasa muda dan mereka yang peningkatan stressornya tinggi lebih rentan terjadi. Faktor risiko lainnya seperti mereka dengan kecanduan alkohol, nikotin, beberapa jenis obat sedatif dan bronkodilator.  Bahkan perubahan pola makan dan keadaan lingkungan yang spesifik seperti pencahayaan yang kuat di tempat kerja ternyata juga berpengaruh terhadap kejadian gangguan panik ini.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika terjadi gangguan panik antara lain: Keluarga memahami bahwa apa yang terjadi merupakan gangguan panik, tidak nyata dan bukan masalah fisik. Jadi keluarga tidak ikut panik dan berusaha menjelaskan kepada si penderita. Upayakan agar ia tidak terfokus pada gejala fisik yang ia keluhkan karena itu  justru menambah kepanikan. Kemudian arahkan penderita untuk tetap diam di tempat sampai serangan paniknya hilang (biasanya berlangsung 10 menit), lakukan relaksasi dengan tarik napas dalam.

Sembari katakan padanya  bahwa ini hanya serangan panik,  sebentar juga hilang, bukan ketakutan yang ia rasakan. Sangat bagus kalau si penderita juga mengatakan hal yang sama dengan cara dibimbing. Selanjutnya dibawa ke dokter, karena jika serangannya hebat perlu pengobatan. Semoga bermanfaat. (*)

Berita Terkait