Kerap Dianggap Bodong, Minta Bantuan Polisi

Kerap Dianggap Bodong, Minta Bantuan Polisi

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:30
MESIN-MESIN BERSEJARAH: Yudira Pasada Lubis (kiri) bersama anggota Pemudi’s dan motor mereka.Suka Duka Pemudi’s, Komunitas Motor Klasik Pabrikan Eropa. GALIH COKRO BAWONO/JAWA POS

Berita Terkait

Motor-motor tua memang ’’ketinggalan zaman’’. Padahal, perawatannya menimbulkan kebanggaan tersendiri. Itu yang dirasakan Penggemar Motor Udhug Indonesia Soerabaia (Pemudi’s). Bukan sekadar mengoleksi, mereka belajar sejarah. 

DIDA TENOLA 

WAKTU seakan membeku di sekitar Monumen Bambu Runcing, Jumat (12/8). Aneka motor klasik berjejer. Menarik mata. Baik untuk sekadar melirik atau menatapnya langsung. 

Kesannya memang seperti memasuki lorong waktu. Motor-motor berusia di atas 50 tahun mejeng di pinggir jalan. Elegan. Vintage. Eksklusif. 

Di jajaran motor antik tersebut, ada AJS Model 20 lansiran 1950. Itu adalah motor gahar lansiran Associated Motorcycles, Inggris. Motor 500 cc itu hanya dibikin pada periode 1948–1958. 

Ada juga Rover, buatan Inggris, bertahun 1913. Begitu tuanya motor itu sampai bentuknya bisa disebut sebagai evolusi atau kawin silang sepeda kayuh dan sepeda motor. 

Motor lain, ada Puch 175 Schwingarm-Vollnabenbremsen besutan Jerman pada 1957. Lalu, Harley-Davidson WLC lansiran 1942. 

Motor bongsor tersebut, yang bertipe WLA, dipakai untuk kendaraan perang. Lalu, ada Zundapp KS 1957 (Jerman) atau Matchless G3LS tahun 1956 (Inggris). 

Tipe itu hanya sebagian dari milik 113 anggota Pemudi’s. Selama ini Pemudi’s tidak sekadar menghimpun penghobi motor-motor tua. 

’’Kami memang mewadahi orang-orang yang suka dengan sepeda motor lawas. Tapi, pabrikan Eropa,’’ tegas Sekretaris Pemudi’s Yudira Pasada Lubis. 

Pria yang akrab disapa Idoy tersebut menuturkan bahwa mereka adalah komunitas pertama yang menampung penggemar motor tua. 

Berada di bawah naungan Motor Antic Club Indonesia (MACI), Pemudi’s ada sejak 1982. Awalnya mereka mengakomodasi pemilik motor pabrikan Inggris. 

Seiring dinamika yang terjadi di dalam organisasi, koleksi meluas. Motor-motor pabrikan Eropa tetap dipertahankan hingga sekarang untuk menjaga eksklusivitas komunitas. 

’’Jadi, tidak sekadar tua. Kami tetap ingin punya sesuatu yang istimewa,’’ kata Idoy.

Untuk bergabung ke dalam Pemudi’s, juga ada syarat khusus. 

Selain dari Eropa, motor yang mereka pakai harus keluaran sebelum 1985. Merawat motor-motor Eropa itu bukan sesuatu yang mudah. Memilikinya saja membutuhkan perjuangan. 

Onderdil motor didapat satu per satu. Istilahnya, nyicil untuk membangun motor yang sempurna.

Anggota Pemudi’s tidak hanya memodifikasi motor. Mereka juga merestorasinya. 

Impiannya adalah mengupayakan agar motor tersebut kembali menyerupai wujud aslinya saat kali pertama dibuat. 

Dengan begitu, apa yang mereka punya memiliki nilai tinggi yang tidak dimiliki orang lain.

Karena itu, mereka kerap geram bila ada orang yang menyebut koleksinya sebagai motor bodong. 

Tidak sedikit yang menganggap bahwa motor yang sudah dirakit itu ilegal. Sebab, tidak ada sertifikat hingga surat tanda nomor kendaraan (STNK). 

Padahal, merakit motor lawas hingga terlihat kinyis-kinyis tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada yang sampai blusukan langsung ke negara asalnya. 

’’Untuk merawat mesinnya, tidak semua bengkel bisa. Ada mekanik khusus yang juga terdaftar sebagai anggota kami,’’ sebut ayah dua anak tersebut. 

Menunggangi motor tanpa surat-surat lengkap tentu mengurangi rasa kenyamanan. Ke mana-mana takut ditilang. 

Ada pula yang menyebut barang gelap. Bertahun-tahun Pemudi’s mencari jalan agar bisa dicap legal. 

Kesempatan itu akhirnya datang ketika Satlantas Polrestabes Surabaya mengumpulkan beberapa komunitas motor di sebuah rumah makan dekat Masjid Al Akbar dua minggu lalu. 

Di sana, polisi mengajak sharing penggemar motor untuk menyalurkan unek-uneknya.

Duduk di kursi pojok bagian belakang, seorang pria mengacungkan tangan. 

Dia adalah Deni Taufan, ketua Pemudi’s. Suaranya lantang menyampaikan keresahan yang selama ini dirasakan teman-temannya. 

’’Kami ini membangun motor-motor klasik tidak gampang. Tapi, masih saja dianggap bodong karena nggak punya surat,’’ ucap Deni kala itu. 

Keluhan tersebut ternyata mendapat respons positif. Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Adewira Negara Siregar langsung meminta stafnya mendata motor-motor milik Pemudi’s. 

Dia menjamin akan ada surat khusus bagi mereka. Ada 83 motor yang sudah terdata. Nanti mereka memiliki semacam kartu yang memuat identitas, jenis motor, nomor mesin, hingga tahun pembuatan. 

Dalam dua bulan ke depan, hal itu segera terealisasi. Jawaban dari kepolisian tersebut membuat Pemudi’s lega. Pengakuan legalitas itu memang yang dinanti-nantikan selama ini. 

Mereka bisa tenang berkeliling dengan motor kegemaran masing-masing. Motor-motor Eropa tersebut bukan sekadar alat transportasi. 

Idoy sendiri menganggap bahwa kendaraan yang dinaikinya adalah sebuah heritage. Merumatnya tidak sekadar hobi, tapi sekaligus belajar sejarah. 

Saat kumpul-kumpul, mereka saling berbagi informasi, termasuk soal cikal bakal motor itu. 

’’Ada wawasan sejarah yang kami dapat. Dulu motor-motor sejenis kami masuk ke Indonesia saat penjajahan Belanda,’’ cerita pria kelahiran Kediri tersebut. 

Ada beberapa motor yang punya nilai sejarah kental. Sebut saja Harley AMF. Idoy menuturkan, motor jenis itu sering disebut motor Harley Malaria. 

Sebab, dulu banyak dokter yang menaiki motor tersebut ke pelosok desa untuk mengatasi wabah malaria. 

Nah, kekayaan nilai historis itulah yang membuat Pemudi’s tidak sekadar kongko-kongko. Mereka juga mengenalkan motor kepada masyarakat umum. 

’’Kami sering diundang ke beberapa event. Di sana motor-motor kami di-display sekaligus memberi informasi asal muasalnya,’’ jelas lelaki yang bekerja sebagai staf pendidikan Universitas Airlangga tersebut. 

Sebagai klub motor, kurang rasanya jika mereka tidak touring. Meski usianya sudah uzur, motor-motor mereka tetap bandel. 

Mereka sudah pernah singgah di Sumatera, Bali, hingga Kalimantan. Terdekat, mereka baru saja mendatangi Jogjakarta untuk menghadiri acara munas MACI. (*/c7/dos/sep/JPG) 

Berita Terkait