Keragaman Berbahasa di Negeri Bhineka Tunggal Ika

Keragaman Berbahasa di Negeri Bhineka Tunggal Ika

  Jumat, 30 Oktober 2015 13:59   592

Oleh: P. Adrianus Asisi, SSi, MPd.

Indonesia diakui sebagai bangsa yang beragam budaya, agama, ras, dan dibentuk oleh suku-suku yang terdapat di dalamnya dan hidup harmonis berdamping satu dengan lainnya, karena adanya kesamaan sosiologis kemasyarakatan dan kesamaan dalam struktur morfologis atau wujud insani Indonesia (juga dengan bangsa lain). Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru dan diterimanya golongan dari Etnis Tionghoa sebagai suku di Indonesia, sehingga tidak hanya ada suku Dayak, Banjar dan Melayu yang ada di Pulau Kalimantan; suku Jawa dan Sunda yang mendiami Pulau Jawa; suku Batak dan Nias yang menduduki Pulau Sumatera; suku Bugis di Sulawesi; suku Ambon di Ambon, suku-suku di NTB dan NTT; orang Bali yang mendiami ‘Pulau Dewata’; dan suku Dani, Asmad  dan lainnya di Irian Jaya dan Papua, dan sebagainya.

Pembacaan teks Sumpah Pemuda yang bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat – Jaman Belanda masih bercokol di bumi Indonesia, Jakarta di sebut Waltervreden – yang  sekarang ini menjadi Museum Sumpah Pemuda, tempat yang digunakan untuk membacakan Teks Sumpah Pemuda tersebut adalah rumah milik Sie Kong Liong. Sementara itu, pada saat pembacaan teks Sumpah Pemuda tersebut terdapat empat golongan Timur Asing yang meninjau secara langsung, yaitu 1) Kwee Thiam Hong, 2) Oey Kay Siang, 3) Joh Lauw Tjong Hok, dan 4) Tjio Djien Kwie.

Panitia Kongres yang diketuai oleh Soegondo Djojopoespito utusan PPPI selaku Ketua, R.M Djoko Marsaid utusan Jong Java selaku Wakil Ketua, Mohammad Jamin utusan Jong Sumateranen Bond selaku Sekretaris, Amir Sjarifuddin utusan Jong Bataks Bond selaku Bendara, Djohan Mohammad Tjai utusan Jong Islamieten Bond, R. Katja Soengkana utusan Pemoeda Indonesia, Senduk utusan Jong Celebes, Johanes Leimena utusan Jong Ambon, Rochjani Soe’oed utusan Pemoeda Kaoem Betawi, dan sebanyak 71 orang pemuda lainnya termasuk Wage Rudolf Soepratman dengan lagu gubahannya Indonesia Raya diputar sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda yang diiringinya dengan biolanya.

Suasana perjuangan anti-kolonial Belanda tahun 1920-an menjadi pemantik semangat kaum muda Indonesia untuk bersama-sama demi perjuangan nasional bangsa menuju kemerdekaan. Oleh karena itu, dari organisasi kepemudaan dan organisasi politik yang bersifat lintas agama, lintas daerah, lintas suku dan lintas politik mengadakan kongres selama tiga hari yang kemudian mencetuskan ikrar bersama – yang selanjutnya menjadi roh ikrar kemerdekaan bangsa Indonesia oleh antas nama bangsa Indonesia Soekarno dan Hatta – yaitu Soempah Pemoeda yang berintikan isi yaitu 1) mengaku berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, 2) mengaku bertanah air satu yaitu tanah air Indonesia, dan 3) menjunjung bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.

Mengaku berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Maraoke, berjajar pulau-pulau, itulah Indonesia. Meski terpisahkan oleh lautan luas, tetap Indonesia. Meski terdiri dari beragam suku, agama, ras, tetap Indonesia. Walau, terdiri dari beragam bahasa, tetap Indonesia, karena tidak dapat dipecah belah  dan semangat Sumpah Pemuda yang sudah menjadi roh perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak hanya jaman dulu, tetapi harus terus kita pelihara kini dan harus kita wariskan kepada anak dan cucu kita kelak.

*) Kepala SMP dan Guru SMA

Santo Fransiskus Assisi

Alumnus TEP FKIP Untan Pontianak