Keputihan yang Berbahaya, Waspada jika Terjadi Setiap Saat

Keputihan yang Berbahaya, Waspada jika Terjadi Setiap Saat

  Kamis, 22 September 2016 06:19
FOTO ILUSTRASI ANGGER BONDAN/JAWA POS

Berita Terkait

Keputihan adalah proses wajar yang dialami perempuan. Tidak perlu khawatir berlebihan. Namun, ada kondisi yang membutuhkan perhatian lebih. Tepatnya saat keputihan menjadi tanda terjadinya infeksi atau bahkan kanker rahim.

---

KEPUTIHAN merupakan proses fisiologis atau penyesuaian fisik. Sebagai bagian tubuh yang lembap dan mudah terkena infeksi, Miss V memiliki mekanisme tersendiri untuk tetap bersih. Caranya adalah menghasilkan sekret atau lendir pembersih. Itulah yang disebut keputihan.

Kuman dan bakteri yang merugikan bisa dituntaskan dengan cairan tersebut. Sel-sel yang sudah mati pun akan ikut dikeluarkan. ’’Infeksi bisa diminimalkan,’’ ujar dr Hari Nugroho SpOG dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Pada keputihan normal, lendir hanya keluar saat tertentu. Misalnya, menjelang haid, masa subur, berhubungan seksual, maupun saat hamil. ’’Pada masa-masa ini, vagina dan rahim sering rentan terhadap kotoran, infeksi, atau kuman. Atau bisa juga karena aktivitas hormon sehingga makin banyak lendir yang dikeluarkan,’’ kata dr Ira Anggreyani SpOG dari Siloam Hospitals Surabaya.

Idealnya, lendir yang keluar berwarna bening. Sama sekali tidak berbau atau tidak berwarna. Kalau yang keluar mempunyai warna dan berbau, itulah gejala terjadinya infeksi atau bahkan kanker. ’’Warna dan bau yang disebabkan berasal dari kuman, bakteri, atau polip akibat kanker di leher rahim,’’ jelas Hari.

Keputihan karena infeksi atau kanker disebut sebagai keputihan patologis. Beda dengan keputihan normal yang hanya terjadi saat tertentu, keputihan patologis keluar hampir setiap saat. ’’Penderitanya akan merasa tidak nyaman hingga aktivitasnya terganggu,’’ terang Ira.

Di samping keluar hampir setiap saat, keputihan patologis memberikan ketidaknyamanan lain. Yakni, rasa gatal. ’’Ini disebabkan infeksi akibat bakteri jahat, jamur, parasit, atau bahkan virus di sekitar organ intim,’’ papar dr Eighty Mardiyan SpOG (K), pakar uroginekologi dari RSUD dr Soetomo Surabaya.

Bahkan, pada kasus yang lebih ekstrem, cairan yang keluar disertai darah. Infeksi yang berakibat pada keputihan bisa terjadi karena gaya hidup yang kurang sehat dan bersih. Sebagai salah satu bagian vital yang sering menjadi sarang kuman, kebersihan organ intim semestinya senantiasa dijaga. ’’Bakteri jahat, kuman, dan virus bisa berasal dari mana saja. Kalau kondisi organ intim tidak bersih, mikroorganisme akan mudah berkembang,’’ ungkap Eighty.

Sumber infeksi beragam. Misalnya, pakaian dalam kurang bersih. Suhu sekitar organ intim yang lembap mengakibatkan mikroorganisme tumbuh cepat. Infeksi lebih mudah terjadi. ’’Pemakaian celana yang terlampau ketat juga membuat organ intim mudah lembap. Akhirnya, jamur tumbuh,’’ jelas Eighty.

Demikian pula pembalut. Harus hati-hati memilihnya. ’’Bisa jadi di sebuah pembalut ada zat-zat berbahaya yang makin memperbesar risiko gangguan organ intim,’’ tutur Eighty.

Sebagian orang percaya bahwa sabun pembersih mampu menyembuhkan keputihan patologis. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Sabun pembersih memang akan membunuh bakteri. ’’Tapi, bakteri baik yang berfungsi menjaga organ intim juga bisa mati karena sabun pembersih,’’ ujar Eighty. Padahal, dengan kurangnya bakteri baik, bakteri jahat penyebab infeksi makin berpotensi merugikan.

Benda asing yang masuk ke organ intim juga dapat memicu timbulnya keputihan patologis. Termasuk alat kontrasepsi IUD atau spiral. Ketika spiral dimasukkan, organ intim akan meresponsnya sebagai benda asing. Apalagi jika spiral yang dipasang kurang steril.

Keputihan dialami seluruh perempuan. Bagi perempuan usia lanjut atau menjelang menopause, keputihan terjadi karena penipisan epitel pada vagina. ’’Epitel ini merupakan penghasil glikogen, zat yang berperan menjaga keasaman dan kebersihan vagina,’’ jelas Eighty. Karena kurangnya glikogen, organ intim lebih mudah dimasuki mikroorganisme merugikan.

Di samping infeksi, keputihan patologis bisa menjadi gejala kanker serviks. Gejala keputihan karena kanker itu sangat mirip dengan akibat infeksi. Bedanya, keputihan akibat kanker serviks sering disertai keluhan lain. Misalnya, rasa sakit di sekitar rahim. Selain itu, baunya khas dan kadang disertai darah lantaran kerusakan di serviks. ’’Maka, pemeriksaan lebih lanjut dan detail harus segera dilaksanakan. Pap smear merupakan contoh deteksi dini yang disarankan,’’ tandas Hari. (len/c14/ayi)

Berita Terkait