Kepala MAN Ngabang Terima Imbalan

Kepala MAN Ngabang Terima Imbalan

  Sabtu, 9 April 2016 10:42
DITANGKAP: Empat tersangka dugaan penjualan kunci jawaban soal ujian nasional saat diamankan di Mapolresta Pontianak. Tindak pidana ini melibatkan seorang kepala sekolah di Ngabang, Landak. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Kepala MAN Ngabang berinisial (SB) hari ini (kemarin) resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Pontianak berdasarkan barang bukti berupa bukti transfer, dan keterangan saksi. Meski SB belum mengakui, bukti tersebut dinilai cukup untuk menaikan status saksi menjadi tersangka.

Barang bukti transfer yang menguatkan SB sebagai tersangka didapatkan dari hasil keterangan tersangka penjual kunci jawaban yang sudah tertangkap. Dari pengakuan ketiganya itu kemudian didapatkan bukti transfer yang tertera nama Kepsek.

Berdasarkan struk resi pembayaran, besaran pengiriman senilai Rp10 juta, yang ditransfer pada tanggal 31/03/2016 atas nama tersangka SB, empat hari sebelum unas berlangsung. Pengiriman sisa kesepakatan dilakukan dari Pontianak.

Kapolres Pontianak AKBP Tubagus Ade Hidayat menyebut tersangka SB mendapat imbalan dari penjualan kunci jawaban sebesar Rp25 juta. Sebesar Rp15 juta dibayar cash, sementara sisanya ditransfer.

“Rp10 juta melalui transfer. Bukti transfer ini ada. Ada juga hasil uang hasil penjualan dari ketiga tersangka,” jelas Kapolres, Jumat (8/4).

Ditegaskan Kapolres, setelah melakukan pendalaman dan pemeriksaan sejumlah saksi dan keterangan dari tersangka yang tertangkap sebelumnya, Tubagus memastikan peningkatan status saksi menjadi tersangka. Meski yang bersangkutan, kata Kapolres, belum memberikan pengakuan. Akan tetapi, berdasarkan barang bukti, penetapannya sudah bisa dilakukan.

“Walaupun sejauh ini keterangan yang diberikan dari bersangkutan masih menolak, tetapi kami tidak mengejar suatu pengakuan. Makanya kami mendasari alat bukti yang ada, dari keterangan saksi dan adanya bukti transfer dari tersangka yang satu kepada kepala sekolah di Ngabang. Adanya soal jawaban,” tegas Tubagus.

Selain dari barang bukti itu, penetapan tersangka juga dikaitkan dengan kapasitas SB secara struktural, yaitu kepala sekolah, dan juga di dalamnya pelaksanaan unas juga sebagai panitia dari subrayon. “Soal itu ditempatkan di ruang kerjanya. Berarti sangat bisa memungkinkan itu terjadi,” kata Kapolres.

Apakah jawaban unas itu benar atau tidak! Kapolres menyatakan sudah melakukan perbandingan dari soal yang keluar dari jawaban dari para guru. Hasilnya, tidak seluruhnya benar. Tapi, tambah Tubagus, tapi itu kurang lebih mencapai nilai 80 sampai 85 persen seluruh jawaban itu benar.

Tubagus mencontohkan, apabila soal unas sebanyak 40 butir, dalam kunci jawaban dibenarkan sekitar 33 hingga 35 soal. Sementara sisanya salah. “Supaya tidak sampai angka 100. Tetapi itu sudah mencapai angka 80 persen dari yang seharusnya dijawab,” urainya.

Mengenai ketiga tersangka yang ditetapkan sebelumnya, dipastikan Kapolres perannya sama. Yaitu menyebarkan kepada sekolah dan murid dengan imbalan Rp100 ribu hingga 150 ribu per mata pelajaran.

Diakui Tubagus, saat ini pihaknya masih mendalami nama-nama siswa yang membeli jawaban. Menurutnya, sejauh ini ketiga tersangka tidak mengenal calon pembelinya dengan jelas, hanya menggunakan simpul.

Diungkapkan pula, pendalaman kasus ini masih bergerak di Pontianak, sesuai dengan wilayah hukumnya. Akan tetapi, Kapolres menyatakan tidak menutup kemungkinan daerah yang lain juga menyebarkan.

“Masih kami dalami untuk Pontianak, sambil melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk perkembangan perkara ini,” jelasnya.

Kapolres memastikan, ketiga tersangka di luar sistem, hanya menyebarkan dan menjual jawaban. Polres, kata Tubagus, saat ini tengah mendalami berapa lama pelaku menyebarkan jawaban unas. Namun, Tubagus mengungkapkan ada 85 siswa yang positif pernah membeli. “Angka ini bisa bertambah bisa hanya di Pontianak, bisa juga dengan kabupaten lain, masih kami dalami lebih lanjut,” terangnya.

Disebutkan pula, menurut keterangan saksi, kejahatan ini sudah terjadi sudah sejak tahun yang lalu. Namun, pihak kepolisian belum punya bukti cukup. Polres hanya akan konsentrasi terhadap bukti dan tersangka yang ada sekarang. Tubagus juga mengungkapkan, indikasi tersangka lain untuk saa ini belum ada.

“Kepsek belum menjelaskan secara detail bahkan belum mengakui perbuatannya. Tidak mengakui pun tidak masalah. Penyidik tidak mengejar pengakuan tapi dengan alat bukti yang ada, keterangan saksi sudah cukup bagi kita untuk menentukan yang bersangkutan sebagai tersangka sambil menunggu keterangan lebih lanjut,” jelas Kapolres. (gus)

Berita Terkait