Kepala BNNP Malut Terjaring Razia Anak Buahnya Sendiri

Kepala BNNP Malut Terjaring Razia Anak Buahnya Sendiri

  Senin, 18 April 2016 15:57
Kepala BNNP Malut Kombes Pol Elly Djamaluddin (kaos biru bertuliskan Fair Play) saat terjaring razia. Malut Post/JawaPos.com

Berita Terkait

Integritas Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku Utara, Kombes Pol Elly Djamaluddin patut dipertanyakan. Setelah pada Minggu (17/4) dinihari terjaring  razia narkotika dan obat-obat berbahaya (Narkoba) di salah satu tempat hiburan malam di Kota Ternate.  

Sebagimana dilansir dari Malut Post (Grup Jawa Pos), Elly rupanya tidak mengetahui sebelumnya, kendati razia narkoba tersebut melibatkan personel BNNP Malut.  Karenanya orang nomor satu itu di BNNP itu kaget bukan main setelah kepergok  di salah satu ruangan karaoke yang berada di lantai 2, Royal Café, Jl Branjangan, Ternate.    

Kala itu, di ruangan karaoke bernama Manchester Room itu, Elly saat itu sedang ditemani seorang wanita penghibur. Ketika petugas masuk room, Elly kaget bukan kepalang dan langsung bergegas keluar ruangan.  

Elly yang ketika itu mengenakan kaos biru dongker terlihat cukup panik. Terlebih saat keluar ruangan ternyata banyak wartawan yang ikut razia. Ia pun berupaya mengatur strategi bergabung dengan petugas razia, seolah-olah sedang ikut razia.

Tahu pimpinannya terkena razia,  beberapa anggota BNNP yang masuk tim razia pun terkejut. Mereka bahkan meminta wartawan untuk menghapus foto Elly.

Namun sejumlah wartawan tetap saja mengarahkan kamera ke pria yang akan maju sebagai calon bupati di wilayah Maluku tersebut.

Razia narkoba di tempat hiburan malam itu dipimpin langsung Komandan Den POM XVI Ternate Letkol CPM Yulius Amra. “Razia ini dilakukan untuk mencegah peredaran narkoba, miras serta perdagangan anak di bawah umur,”ujar Yulius.

Dalam razia tersebut, petugas menemukan paket kecil yang diduga narkoba di salah satu tempat hiburan malam.  Selain itu,   petugas juga mengamankan 35 wanita penghibur karena tidak memiliki kartu identitas dan 82 botol minuman keras bermerek.    

“Minuman yang disita itu karena tidak ada pajaknya,” jelas Yulius. (tr-04/fai/sad/JPG)

Berita Terkait