Kenalkan Alternatif Pembiayaan Infrastruktur

Kenalkan Alternatif Pembiayaan Infrastruktur

  Jumat, 8 April 2016 09:04
TINJAU PROYEK: Michael Jeno dan Direksi PT SMI, serta pihak kontraktor saat meninjau pengerjaan proyek Jalan Tayan-Sosok, Sanggau, Selasa (5/4).

Berita Terkait

LEMBAGA penyalur pembiayaan infrastruktur PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sudah sangat dikenal di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Namun di Kalimantan Barat, belum banyak aparatur pemerintahan yang mengetahui keberadaan BUMN ini. Anggota DPR RI Komisi XI G Michael Jeno yang membidangi masalah keuangan, perencanaan pembangunan nasional, perbankan, dan lembaga keuangan nonbank berinisiatif mengenalkan salah satu solusi bagi keterbatasan anggaran daerah ini.

Dia mengajak dua petinggi PT SMI, yaitu Senior Vice President Wismanto Bimam Kusumaedi dan Direktur, Darwin Trisna Dajawinata ke provinsi ini. Pada Senin (4/4), Jeno menjadi pembicara seminar LPDP Kementerian Keuangan di Universitas Tanjungpura. Selanjutnya dia bersama Bimam dan Darwin menuju pembangunan Terminal Bandar Udara Supadio yang sebagian pembiayaannya berasal dari SMI. Setelah itu mereka berkunjung ke media untuk menyosialisasikan program SMI.

Keesokan harinya, Selasa (5/4) mereka betolak menuju Kota Sanggau, dimana digelar round table meeting dengan perwakilan Pemda Kabupaten Sanggau, Sekadau, Melawi dan Sintang. Selanjutnya mereka meninjau pengerhaajaan proyek Jalan Tayan-Sosok yang juga sebagaian anggarannya dibiayai SMI.

Menurut Jeno, SMI punya cadangan dana yang bisa dipinjam pemda untuk pembiyaan infrastruktur di daerah. Jeno mengatakan, tahun lalu saja ada Rp 2 triliun dana SMI yang bisa dipinjam pemda se-Indonesia. Tetapi ternyata banuak Pemda yang belum tahu soal SMI, “Sejak tahun 2015 dari APBN yang dimasukan ke SMI untuk pinjaman, belum ada di manfaatkan oleh pemda di Kalbar. Padahal di daerah lain seperti di Sulawesi banyak yang sudah memanfaatkannya,” katanya.

Betapa tidak dari total 70-an proyek di seluruh Indonesia yang dibiayai SMI Kalimantan Barat hanya mendapat jatah dua saja. Proyek itu yaitu pembangunan Bandar Udara Internasional Supadio dan Jalan Sosok-Tayan. Itu pun bukan permintaan dari Pemda, melainkan dari pihak kontraktor. Angka ini lebih baik dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang nol proyek. Sementara Kalimantan Timur ada 6 proyek. “Kalimantan masih kecil porsinya. Kami sendiri kurang tahu. Karena banyak pembiayaan yang kami salurkan merupakan pengajuan dari pemerintah daerah. Mungkin kami kurang sosialisasi ke daerah Kalimantan, atau Pemda di sini yang belum tahu tentang SMI. Makanya kami berkunjung ke sini,” kata Bimam Kusumaedi.

Secara jumlah proyek Kalimantan hanya didanai 8 proyek dari SMI. Namun angka pembiayaannya lebih kecil lagi. Dari total komitmen pembiayaan PT SMI sebesar Rp106,75 triliun selama 2011-2015, Pulau Kalimantan baru kebagian sebesar 1 persen. Atau sekira Rp1 triliun saja.

Sebagai informasi, SMI 100 persen dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Perusahaan BUMN ini didirikan untuk menjadi katalis dalam percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Selain itu menjadi mitra strategis yang memberikan nilai tambah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. “Tenor kami bisa sampai 25 tahun. Sementara untuk bunga BI rate plus 2 persen. Sekira 8 persen, jauh lebih rendah dari pada bunga perbankan,” pungkasnya.(ars)

Berita Terkait