Kementan Percayakan Kalbar Kelola 45 Ribu Ha

Kementan Percayakan Kalbar Kelola 45 Ribu Ha

  Jumat, 20 May 2016 10:19
TEKNOLOGI HAZTON: Presiden Jokowi didampingi Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Gubernur Kalbar Cornelis saat menanam padi Teknologi Hazton.

SEKTOR pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional khususnya daerah-daerah. Program-program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya, bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Meski demikian, sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya. Perjalanan pembangunan pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal, jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional.

Perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian Indonesia yang besar, namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin dan tidak mampu. Pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai beberapa kelemahan, yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik. 

Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan: (a) skala kecil, (b) modal yang terbatas, (c) penggunaan teknologi yang masih sederhana, (d) sangat dipengaruhi oleh musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, (h) pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani.

Salah satu tugas pokok dan fungsi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, adalah mendorong dan memotivasi petani untuk meningkatkan produktivitas usaha tanam padinya. Dengan basis pengetahuan dibidang ilmu tanam (Agronomi), menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman padi di tingkat petani, dan kuncinya ada pada inovasi teknologi. Berbagai inovasi teknologi yang telah disampaikan pemerintah pada petani untuk peningkatan provitas dan produksi petani mulai dari panca usaha tani (penggunaan benih unggul, pengolahan tanah yang baik, pemilihan pupuk lengkap dan baik, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengairan dan irigasi yang baik) lalu Tanam Padi Sistem Jajar Legowo, yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir). Atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir kemudian Tanam Padi Sistem S.R.I yaitu teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara (tanam bibit satu lubang satu batang dengan jarak tanam biasa 25 Cm x 25 Cm, 30 Cm x 30 Cm atau legowo 2) hingga SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu), kemudian bertransformasi pada GP-PTT (Gerakan Penerapan Tanaman Terpadu) yang kesemua program tersebut sangat membantu petani dalam peningkatan produksi dan produktivitas. 

Dari sekian banyaknya inovasi peningkatan produktivitas padi tersebut munculah inovasi terbaru yang telah dikenalkan pemerintah saat ini yang berasal dari Kalbar, yaitu “Teknologi Hazton” yang menjadi momentum kebangkitan pertanian di Kalimantan Barat, khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sesuai dengan slogannya “Hazton dari Kalbar untuk Indonesia”.

Apa itu Teknologi Hazton? Teknologi Hazton merupakan teknik menanam tanaman padi yang mengadaptasi fisiologi tanaman padi itu sendiri. Teknologi Hazton mulai dikembangkan sejak hampir 4 tahun lalu dikembangkan di Kalbar. Teknologi ini diperkenalkan pertama kali oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Hazairin dan salah seorang stafnya bernama Anton sehingga disingkatlah menjadi “Hazton”. Menurut sang pencetus teknologi ini, dengan Teknologi Hazton ini mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi hingga 3 kali lipat, di mana produksi padi di Kalbar rata-rata hanya 3,5 ton/ha, namun dengan Teknologi Hazton bisa mencapai 9-10 ton/ha.

Apa dan bagaimana Teknologi Hazton itu sendiri? Sang penemu saat melakukan penelitian tidak melalui pengujian varietas dengan anakan terbanyak, pengaturan jarak tanam, pengaruh pemupukan, pengolahan tanah dan sebagainya. Akan tetapi Hazairin dan Anton menggunakan hipotesa awal yang sederhana, yaitu bagaimana memperbanyak indukan produktif yang seragam dan serentak saat mengeluarkan malai. Penelitian dilakukan dengan cara menanam bibit dengan jumlah 1, 5, 10, 20, 30 dan 40 per lubang tanam. Dan hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil terbaik adalah jumlah bibit 20-30 per lubang. 

Jadi konsep Teknologi Hazton ini ada pada cara menanam, yang biasanya hanya 5 bibit perlubang menjadi 20-30 per lubang. Bibit-bibit ini tidak menghasilkan anakan melainkan indukan yang sama, sehingga hasilnya maksimal. Bagaimana bisa? Rahasianya ternyata adalah karena adaptasi fisiologi padi, dimana dengan jumlah bibit 20-30 masing-masing bibit padi yang berada ditengah rumpun akan terjepit dan cenderung menjadi indukan utama yang produktif dan menghasilkan malai yang prima.  Sedangkan bibit yang berada di pinggir rumpun akan menghasilkan 1-3 anakan yang semuanya produktif. Jadi kesimpulannya dengan jumlah bibit 20-30 per lubang akan menghasilkan anakan produktif sekitar 40-60 anakan/rumpun, sehingga jumlah indukan dan anakan produktif inilah yang menghasilkan peningkatan produktivitas dan produksi. 

Namun dengan banyaknya jumlah bibit digunakan, maka benih yang digunakan lebih banyak dari teknik biasa dipakai. Sebagai perbandingan benih yang dibutuhkan dengan cara biasa sebanyak 25 kg/ha, maka dengan Teknologi Hazton benih dibutuhkan sebanyak 125 kg/ha.

Walaupun menggunakan benih yang cukup banyak sang penemu mengklaim dengan menggunakan Teknologi Hazton petani tetap mendapatkan keuntungan besar. Pupuk digunakan pun lebih banyak 10-25 % dari takaran normal, hanya saja pupuk menjadi lebih efisien karena diserap oleh indukan atau anakan produktif, sehingga tanaman menjadi lebih subur. Selain itu Teknologi Hazton juga menggunakan bibit semai tua yaitu 30-35 hari setelah semai, terutama untuk daerah endemik hama keong mas dan orong-orong serta lokasi yang terserang banjir.

Pemerintahan di era Jokowi-Jusuf Kalla sangat responsif terhadap pembangunan pertanian. Hal ini ditunjukkan dengan alokasi anggaran pertanian yang menunjukkan kenaikan sangat signifikan, untuk tahun 2016 anggaran pertanian yang dialokasikan pemerintah sebanyak Rp43 triliun, dan khusus untuk pembangunan pertanian dialokasikan Rp34 triliun. Anggaran Rp34 triliun itu difokuskan meningkatkan produksi komodititas strategis seperti padi, jagung, kedelai, sapi, ayam, gula, minyak goreng dan lainnya. Selain itu juga digunakan untuk membangun dan memperbaiki jaringan irigasi teknis yang menjadi tangung jawab Dinas Pertanian di daerah-daerah.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan telah menyetujui alokasi anggaran pengembangan budidaya padi Teknologi Hazton di 24 Provinsi se-Indonesia. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Ir H Hazairin MS mengatakan, adapun luas yang disetujui Kementerian Pertanian menurut Hazairin yang merupakan pencetus Teknologi Hazton ini yaitu 50.000 hektare. “Tahun ini akhirnya Kementerian Pertanian mempercayakan pada kita untuk pengembangan budidaya tanam padi dengan Teknologi Hazton sebanyak 45 ribu hektare, dari yang dialokasikan untuk kabupaten dan kota di Kalbar,” ujarnya. 

Hazairin mengatakan, untuk luar Kalbar hanya 5 ribu hektar yang dianggarkan untuk pengembangan budidaya tanam padi dengan Teknologi Hazton. “Mengapa sedikit di luar Kalbar, karena mayoritas itu semua untuk tahap uji coba kepada petani. Sedangkan di kita (Kalbar) memang sudah tinggal pengembangan,” ujarnya.

Dirincikan Hazairin, untuk di Kalbar porsi Kabupaten Sambas merupakan daerah yang terbanyak mendapatakan alokasi pengembangan budidaya tanam padi dengan Teknologi Hazton tersebut. Dimana ada 10.000 hektar. Selanjutnya alokasi tersebut disusul Kabupaten Sanggau 6.000 hektar, Kabupaten Kapuas Hulu 1.100 hektar, Kabupaten Ketapang 5.000 hektar, Kabupaten Landak 4.100 hektar, Kabupaten Mempawah 2.000 hektar, Kabupaten Sintang 500 hektar, Kabupaten Melawi 500 hektar, Kabupaten Sekadau 700 hektar, Kabupaten Kubu Raya 5.800 hektar, Kabupaten Kayong Utara 2.000 hektar, Kota Pontianak 100 hektar dan Kota Singkawang 3.000 hektar.

Ia mendorong penerapan pertanian dengan Teknologi Hazton, karena petani akan sangat terbantu. Sebab, selain menghasilkan panen berlipat-lipat, dengan Teknologi Hazton  juga dalam proses pemeliharaan dan ketahanan terhadap hama akan lebih baik dari yang lainnya. “Semoga ini ke depan dapat terus dikembangkan pengusaha tani, karena sudah terbukti dan meningkatnya kesejahteraan petani serta melalui pengembangan budidaya padi Teknologi Hazton, diharapkan swasembada pangan khususnya padi dapat tercapai secara berkelanjutan,” pungkas Hazairin.(**)