Kemenpar Sesalkan Perilaku Wisatawan yang Sentuh Hiu Paus

Kemenpar Sesalkan Perilaku Wisatawan yang Sentuh Hiu Paus

  Selasa, 12 April 2016 13:54
foto; www.mongabay.co.id

Berita Terkait

KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) menyesali ulah penduduk dan wisatawan di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, yang menyentuh hiu paus tutul (Rhincodon Typus), saat ikan raksasa itu muncul ke permukaan.
"Pengunjung benar-benar tidak mengerti konservasi," kata Cipta AG, tenaga ahli wisata bawah laut Kemenpar RI. "Mereka tidak hanya menyentuh, tapi menjadikan ikan raksasa itu mainan."
Hiu paus tutul adalah hewan langka yang jinak. Hewan itu kerap muncul dan menjadi atraksi wisata dadakan bagi pengunjung dan warga sekitar.
Warga memanfaatkannya dengan menyewakan perahu kepada pengunjung yang ingin melihat lebih dekat. Akibatnya, badan hiu paus tutul kerap menyenggol perahu, terluka, atau terkena cat.
Pengunjung yang narsis mengunggah foto-foto hiu paus tutul di media sosial. Diver dan pencinta lingkungan heboh, dan menyesali perilaku warga dan pengunjung memperlakukan hewan itu.
Menurut Cipta AG, sejauh ini ada delapan hiu paus tutul yang terpantau. Tiga di antaranya mengalami luka di bagian mulut, sirip, dan beberapa bagian tubuh lainnya.
"Itu semua disebabkan pengunjung dan warga yang terlalu berlebihan," kata Cipta AG. "Ada juga yang memotret hewan itu dengan flash. Itu tidak boleh."
Cipto AG memohon agar larangan ini disebar ke warga Gotontalo dan wisatawan. Ia juga mengatakan jangan pernah memperlakukan hiu paus tutul seperti binatang peliharaan.
"Sekali lagi, mohon jangan disentuh hiu hiu paus itu. Biarkan mereka bebas dan tidak terganggu oleh kita," ujar Cipto AG.
Warga Gorontalo sangat familiar dengan hiu paus tutul. Tiap tahun ikan yang bisa mencapai berat 20 ton itu mampir di Teluk Bone Bolango, dan menjadi atraksi paling menarik.
Orang Gorontalo menyebutnya ikan munggiyango hulalo. Ikan itu bukan predator, kendati mulutnya bisa menelan manusia.
Menpar Arief Yahya mengingatkan berkawan dengan ikan langka dan berukuran raksasa itu baik-baik saja, tapi jangan sampai itu  membuat ikan berpotensi punah. Binatang itu harus dilestarikan, di habitatnya agar berkembang.
"Ingat, semakin dilestarikan, kian menyejahterakan," kata Menpar Arief Yahya.**

Berita Terkait