Kemendag RI Turun ke Perbatasan

Kemendag RI Turun ke Perbatasan

  Senin, 22 February 2016 09:25
CEK HARGA: Petugas Kemendag mengecek harga gula pada sejumlah toko sembako di Pasar Sentral, Kabupaten Sanggau, Pronvinsi Kalbar. ISTIMEWA

Berita Terkait

KEMENTRIAN Perdagangan (Kemendag) RI turun ke Kabupaten Sanggau, termasuk wilayah perbatasan Entikong, mengelar operasi pasar untuk mengendalikan harga gula pasir, Jumat (19/2) lalu. Kegiatan dipimpin Kepala Subdit Bahan Pokok dan Barang Strategis Ditjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag, Susi Herawati, pada sejumlah lokasi, termasuk Pasar Sentral Sanggau.

Dalam operasi pasar gula murah tersebut, Kemendag berkerjasama dengan Induk Koperasi Kartika (Inkopkar). Operasi tersebut digelar sejak Januari lalu, hingga April 2016, mendatang. Operasi pasar ditujukan untuk menstabilkan harga dan menekan serbuan penyelundupan gula impor di perbatasan Indonesia dan Malaysia.Pada peninjauan tersebut, Susi didampingi sejumlah pejabat Dinas Perdagangan Pemprov Kalimantan Barat, Dinas Perdagangan Pemkab Sanggau, serta distributor gula pasir. Petugas Kemendag mengaku puas dengan hasil pengecekan harga gula di sejumlah pasar tradisional. Operasi pasar terbukti mampu menstabilkan harga di pasaran.

Para pedagang yang menjual gula pun menanggapi positif digelarnya operasi pasar, sehingga mereka bisa menjual gula lebih murah dan kompetitif dengan gula lainnya. "Ya, kami dukung operasi pasar ini. Kami juga bisa jual gula murah. Selama ini, memang banyak yang jual gula murah, tapi impor. Ini kan murah tapi dari dalam negeri sendiri," kata Ramdhani, pedagang kelontong di sekitar Pasar Sentral, Sanggau.

Terpisah, Budi Hartono, pemilik CV Agro Abadi mengatakan, operasi pasar Kemendag dan Inkopkar memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan harga gula di tingkat eceran. "Sebelum operasi pasar dilaksanakan, harga gula antara Rp13.000 - Rp13.500 per kilogram. Tapi sejak operasi pasar digelar, harga tertinggi di tingkat eceran mencapai Rp12.000 per kilogram," kata salah satu distributor gula operasi pasar di Kalbar ini.Tambahnya, "Kami sendiri, selama Januari-Februari 2016, sudah menyalurkan 5.000 ton gula operasi pasar. Kebutuhan konsumsi gula per bulan untuk wilayah Kalbar mencapai 6.000 ton per bulan.”

Sementara itu, agen gula lainnya yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, hampir 50 persen gula di Kalbar adalah gula selundupan yang masuk antara lain dari Entikong dan Jagoi Babang. Meski penjagaan terus ditingkatkan, namun penyelundup tetap berusaha menembus perbatasan dengan berbagai modus, termasuk modus lama, yakni memanfaatkan Kartu Lintas Batas (KLB). Pemegang KLB di perbatasan Entikong saat ini mencapai 16.000 WNI. Mereka dapat berbelanja kebutuhan pokok di Malaysia maksimal 600 ringgit Malaysia per bulan.

Persoalan maraknya gula selundupan juga diakui oleh Ketua Umum Induk Koperasi Kartika, Brigjen TNI Felix ‎Hutabarat. “Gula selundupan itu merusak tata niaga gula nasional dan merugikan negara, karena mereka mengemplang pajak,” ujarnya. Dalam operasi pasar ini, lanjut Felix, Inkopkar dan Kemendag mendistribusikan sekitar 100.000 ton gula ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di luar Pulau Jawa. Harga yang dipatok tertinggi dikisaran Rp12.000 per kilogram."Kalau ada distributor yang menyalahgunakan, segera laporkan. Kami akan tindak tegas dan segera diputuskan kerjasamanya," ancam Felix yang dihubungi secara terpisah. (*r) 

Berita Terkait