Kembangkan Wilayah Perbatasan, Hindari Illegal Trading

Kembangkan Wilayah Perbatasan, Hindari Illegal Trading

  Sabtu, 25 June 2016 10:53
BERSAMA: Rombongan FEB dan mahasiswa Doktoral Untan foto bersama Pabali Musa, sebelum melanjutkan field study ke kawasan border Aruk. ISTIMEWA

Berita Terkait

Mahasiswa Program Doktoral (S3) Ilmu Manajemen FEB Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak angkatan II berkunjung ke perbatasan Aruk - Biawak, Kabupaten Sambas, Jumat-Sabtu (3-4/6). Empat mahasiswa S3 Untan yang berkunjung ke sana, yaitu Sunardi Ginting, Norasari Arani, Stivenes Tjin Siam, dan Setyo Gunawan.

KUNJUNGAN ini untuk memenuhi tugas mata kuliah manajemen Wilayah Perbatasan. Ini bagian dari kontrak kuliah yang telah digariskan Prof Dr H Edy Suratman SE MA, Dr Maria Iman Kalis SE MM, dan Dr Irfani Hendri SE MSi; dosen mata kuliah ini,” kata Setyo, beberapa waktu lalu.

Pada awal kunjungan, mereka beraudiensi dengan Wakil Bupati Sambas (2011-2016), Dr Pabali Musa MA, didampingi Kepala BKD Sambas, Drs Abdul Muin MM. Pabali memaparkan kebijakan pengembangan wilayah perbatasan Aruk di Sajingan dan Temajuk di Paloh. Pembangunan di Sajingan dan Paloh sangat dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan dengan kecamatan lain di Sambas.

Perbatasan jadi domain pusat, sehingga berbagai aspek pembangunan di perbatasan harus diprioritaskan sebagai bagian integral pembangunan nasional. Perbatasan punya nilai strategis dalam mendukung keberhasilan program pembanguan nasional. Karakteristik perbatasan berdampak penting bagi kedaulatan negara, peningkatan kesejahteraan sosial, ekonomi, dan pertahanan keamanan.

“Kata wakil bupati, ada perubahan paradigma pemerintah pusat terkait pembangunan perbatasan. Sebelumnya semata-mata memprioritaskan security approach, sekarang berubah ke pendekatan menyelaraskan prosperity approach, community development approach, dan security approach,” ujarnya.

Dalam pertemuan dua jam tersebut, mereka menanyakan potensi budaya dan pariwisata, peningkatkan kualitas SDM di perbatasan seiring diberlakukannya MEA, dampak pembukaan border Aruk sebagai daya ungkit peningkatkan kesejahteraan masyarakat; serta pengawasan lalu lintas barang dan jasa untuk menghindari illegal trading.

Menurut Pabali, pembukaan border turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sajingan. Sebelum pembukaan border, pendapatan per kapita masyarakat sajingan di bawah kecamatan lain. Tapi setelah pembukaan border, Sajingan menempati urutan pertama dai sisi pendapatan per kapita, dibandingkan kecamatan lain.

Perbatasan merupakan kawasan sangat strategis, sehingga harus ditata sedemikian rupa agar jadi pusat ekonomi baru. Pabali juga mengapresiasi FEB Untan dan mahasiswa Doktoral (S3) yang telah memberikan saran pengembangan perbatasan, serta bersedia memilih Aruk sebagai lokasi field study. Pada kesempatan tersebut, FEB Untan menyerahkan plakat kenang-kenangan kepada Pemkab Sambas.

 

Sambangi Border

Pada hari kedua field study, rombongan FEB dan mahasiswa Doktoral Untan melanjutkan perjalanan ke border perbatasan Aruk – Biawak. Jarak 90 kilometer dari Sambas ke Sajingan (Aruk) ditempuh sekitar empat jam. Kondisi jalan menuju Aruk relatif memprihatinkan, karena jalan dan jembatan masih dalam proses pengerjaan. Komitmen pemerintah pusat membangun infrastruktur wilayah perbatasan mulai tampak.

“Tiba di perbatasan, kami langsung melaor ke pos TNI AD dan security border yang bertugas. Kami meminta izin melihat kondisi dan aktivitas perbatasan, khususnya lalu lintas manusia dan barang di tapal batas Indonesia – Malaysia secara aktual,” ujar Setyo.

 Rombongan sempat berdialog dengan Ambrosius, Pejabat Bea dan Cukai di border Aruk. Ambrosius menilai, secara fisik, kondisi border belum siap beroperasi sepenuhnya, karena ada beberapa instansi terkait yang masih proses persiapan. Lalu lintas manusia dan barang sudah bisa dilayani secara penuh, sedangkan administasi kendaraan roda empat masih dipusatkan di border Entikong.

“Dalam tugasnya, Pak Ambrosius sering menghadapi kendala terkait pemeriksaan barang sesuai prosedur berlaku, karena kurangnya pengertian masyarakat. Tapi beliau cukup tegas tetap menjalankan prosedur yang telah digariskan,” katanya.

Setelah mendapat izin dari Ambrosius, rombongan akhirnya tiba di titik nol. Di situ, rombongan melihat langsung kondisi perbatasan, serta berdialog dengan tukang ojek yang menawarkan jasa mengantar sampai pintu masuk Malaysia. “Banyak hal disampaikan para tukang ojek ini, mereka menunjukkan kecintaan pada Indonesia, bagi mereka NKRI harga mati,” ujarnya.

Tambah Setyo, “Ini menunjukkan, meski dari kesejahteraan beda dengan negara tetangga, tapi mereka tetap bangga dengan Indonesia. Mereka bertahan dengan penghasilannya, meski mungkin di negeri seberang menjanjikan kesejahteraan lebih baik dari Indonesia. Kami kagum dengan mereka, sebagai salah satu penggerak ekonomi perbatasan. Rasa nasionalisme mereka patut diapresiasi.”

Dalam kunjungan tersebut, banyak hal positif dan pekerjaan rumah bagi Pemkab Sambas, khususnya terkait infrastruktur yang masih memprihatinkan. “Dengan kondisi lebih baik, Pemkab Sambas lebih siap dalam aktivitas perekonomian global, khususnya MEA. Persiapan ini semakin penting, supaya perbatasan tidak semata-mata menjadi pasar potensial bagi negara lain,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait