Kembalikan Aset Eks Gafatar , Pemulangan Jadi Opsi Terakhir

Kembalikan Aset Eks Gafatar , Pemulangan Jadi Opsi Terakhir

  Jumat, 22 January 2016 09:26
TIBA DIPENGUNGSIAN : Dua ratus lebih warga eks Gafatar dari Kabupaten Bengkayang tiba di lokasi pengungsian di Markas Perbekalan dan Angkutan Kodam (Bekangdam) XII Tanjungpura, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (21/1). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK- Pemulangan warga eks Gafatar ke daerah asal menjadi pilihan terakhir untuk menghindari gejolak antara warga Kalimantan Barat dengan warga eks Gafatar di Kalimatan Barat.  Semua aset mereka juga akan dikembalikan kepada pengungsi eks Gafatar.Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengatakan, pemulangan warga eks Gafatar ini merupakan pilihan terakhir, untuk menghindari gejolak antarwarga. Menurutnya, opsi ini diambil karena menyangkut keselamatan nyawa.

"Ini opsi terakhir. Karena menyangkut soal nyawa. Nyawa itu prioritas karena tidak dijual di pasar. Tanah masih banyak di Kalbar. Kalau mereka mau, nanti kita kasih, tapi harus terkordinir dengan baik, sesuai dengan prosedur dan undang-undang," kata Cornelis saat mengunjungi penampungan sementara warga eks Gafatar di Bekangdam XII Tanjungpura, kemarin (21/1). Orang nomor satu di Kalimantan Barat ini menyatakan,  sebelum terjadi polemik, eks Gafatar asal Jawa ini ada di setiap daerah di Kalimantan Barat. Namun berapa jumlah dan keberadaannya, tidak terdata dengan baik. "Mereka ada di setiap kabupaten dan kota. Tapi tidak terpantau. Ada yang masuknya 5 atau 10 orang, tapi ternyata yang datang 200 orang. Dan ini  tanpa sepengetahuan aparat kita di bawah," terangnya.

Cornelis mengatakan, masyarakat harus tunduk dan patuh terhadap Undang Undang Kependudukan, dimana setiap orang, keluar masuk, di daerah atau wilayah Indonesia wajib diketahui oleh aparat, baik kepala desa maupun camat dan harus tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. "Aturan main kependudukan kan sudah jelas. Bagi yang sudah mengantongi KTP dan akte kependudukan bisa dicek secara jelas, sesuai prosedur atau tidak? Kalau tidak sesuai prosedur, aparatnya yang kita tindak," tegasnya.

Sejauh ini, Kalbar tidak menutup diri bagi siapapun yang ingin tinggal dan mencari kehidupan di Kalbar. Namun dengan satu catatan, harus jelas maksud dan tujuannya. "Kami tidak pernah menutup diri. Jika mereka ingin kembali ke Kalbar dengan melengkapi prosedur kependudukan, silakan. Tapi akan dilihat kembali, maksud dan tujuannya. Kalau tujuannya untuk mencari kehidupan yang tenang, silakan saja. Kalbar tidak pernah menutup diri. Karena kita bukan negara bagian," bebernya.

Dalam kesempatan itu, Cornelis juga memastikan, warga eks Gafatar akan dipulangkan ke daerah asal pada Jumat (22/1), hari ini,  menggunakan KRI Teluk Gilimanuk-531 dari dermaga Lantamal XII Pontianak ke Pelabuhan Semarang. "Besok kita pulangkan," katanya.Namun demikian, pihanya harus tetap melakukan koordinasi dengan instansi lain, baik itu Kodam XII Tanjungpura, Polda Kalbar maupun instansi jajaran lainnya. "Pemprov yang akan menanggung minyaknya. Sementara kebutuhan lain akan ditanggung Kodam dan Kemensos. Kita bagi-bagi tugas lah," lanjutnya.

Cornelis menyatakan, polemik soal Gafatar merupakan bencana sosial sehingga harus dilakukan tindakan yang khusus. "Ini bencana kemanusiaan. Bencana itu bukan hanya berasal dari alam, seperti puting beliung atau tsunami. Tapi ini lebih dari tsunami," tambahnya.Sementara, Panglima Komando Militer XII Tanjungpura Mayjen Agung Risdhianto mengatakan, pemulangan warga eks Gafatar ke daerah asal direncanakan akan menggunakan tiga kapal perang milik TNI AL. Diantaranya KRI Teluk Gilimanuk 531, KRI Teluk Bone dan KRI Teluk Banten. "Hari ini KRI Teluk Gilimanuk 531 sudah datang. Tapi tidak bisa langsung diberangkatkan, ya ini berkaitan dengan logistik dan administrasi," katanya.

Dikatakan Agung, proses relokasi warga eks Gafatar dipastikan akan selesai dalam tiga hari ke depan. Dimana selain KRI Teluk Gilimanuk-531, ada dua kapal lainnya yang akan bersandar ke dermaga Lantamal XII Pontianak. "Hari ini KRI Teluk Gilimanuk-531, kemungkinan hari Sabtu nanti ada satu kapal, Minggu ada satu kapal. Mudah-mudahan sampai hari Minggu nanti, relokasi selesai," katanya.Saat ini, Poskotis mendata sebanyak 1.529 pengikut Gafatar sudah ditampung di Kamp Bekangdam XII/Tangjungpura. Jumlahnya diperkirakan bertambah karena gelombang evakuasi pengungsi mulai berdatangan.

Terkait dengan aset milik warga eks Gafatar, akan dikembalikan. Polda Kalbar melalui Polres Mempawah bersama pemerintah daerah terus mengumpulkan aset-aset milik warga eks Gafatar yang tertinggal saat dilakukan evakuasi.Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arief Sulistyanto  mengatakan pihaknya telah melakukan pengamanan harta benda eks Gafatar itu lebih awal. Di antaranya berupa 80 unit kendaraan roda dua dan tiga unit roda empat dari permukiman eks Gafatar di Moton Panjang. Sementara dari pemukiman di Desa Pasir diamankan 14 sepeda motor milik eks Gafatar. Harta lainnya berupa enam ekor sapi. "Kita bersama pemerintah daerah akan selalu melakukan koordinasi agar bagaimana caranya agar barang milik warga yang sudah dievakuasi menuju ke tempat asal mereka ini bisa tetap dimanfaatkan," kata Arief.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Mempawah sedang mengumpulkan dan menginventarisir aset milik pengungsi eks Gafatar yang tersisa di daerah itu. Pemerintah daerah memastikan seluruh aset yang ada akan dikembalikan kepada para pemiliknya, Jumat (22/1) (hari ini, red).“Tadi (kemarin), kami sudah melakukan rapat bersama Kemenag, MUI dan jajaran Muspida terkait penanganan aset milik pengungsi warga eks Gafatar ini,” terang Wakil Bupati Mempawah, Gusti Ramlana, Kamis (21/1) sore.

Pengamanan aset yang dilakukan Pemkab Mempawah tidak hanya pada dua lokasi kamp di Dusun Moton dan Desa Pasir, tetapi juga pada rumah-rumah kontrakan warga eks Gafatar di lingkungan masyarakat yang tersebar di sejumlah kecamatan.“Aset yang berada di rumah kontrakan sudah kita evakuasi dan inventarisir. Tak hanya di Mempawah dan sekitarnya, tetapi juga sampai ke Anjungan dan Toho. Saat ini aset sudah diamankan di dalam gudang. Rencananya besok (hari ini), aset yang sudah terkumpul akan dikirimkan ke Pontianak. Di sana nanti akan kita serahkan kepada pemiliknya,” tutur Ramlana.

Ramlana menyebut aset yang akan dikembalikan nantinya tidak hanya yang ada pada pemda saja, tetapi juga aset yang diamankan di Mapolres Mempawah berupa peralatan sehari-hari dan kendaraan roda dua maupun empat.“Sedangkan untuk aset lahan masih akan kita tindaklanjuti dan dibahas lebih lanjut. Sebab, status lahan juga belum dikuasai penuh dan masih bersifat milik pribadi. Tadi, kami juga sudah berkoordinasi dengan BPN berkenaan dengan aset lahan,” ujarnya.

Tak hanya aset, Pemkab Mempawah juga memberikan perhatian dengan tetap memperhatikan kondisi warga eks Gafatar di penampungan.“Kami akan mencarikan jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan aset milik warga eks Gafatar ini. Semaksimal mungkin kita melayani mereka termasuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama berada di penampungan hingga kepulangannya ke Jawa,” tukas Ramlana.

Plt Kabag Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Mempawah, Rudi menjelaskan proses inventarisir yang dilakukan pemerintah daerah dengan mengumpulkan aset milik warga eks Gafatar pada satu titik. Setelah seluruh aset terkumpul, maka memudahkan pemerintah daerah dalam melaksanakan pendataan.“Data itulah yang akan digunakan untuk penyerahan kepada pengungsi yang  saat ini berada di  penampungan Bekangdam Pontianak. Aset dikirim besok pagi (hari ini, red) sebelum proses pemulangan para pengungsi yang dijadwalkan pada besok malam,” sebutnya.

Lebih jauh, Rudi mengatakan Pemkab Mempawah  memprioritaskan pengembalian aset yang bersifat penting. Seperti aset dokumen yang nantinya akan dibutuhkan para pengungsi untuk mengurus proses administrasi di kampung halamannya.“Dokumen surat menyurat seperti buku nikah, surat kendaraan dan lainnya. Pemerintah daerah akan berupaya semaksimal mungkin agar aset-aset penting itu sudah dikantongi para pengungsi sebelum meninggalkan Kalbar,” tegasnya.

Terkait aset barang, Rudi menyebut saat ini berada di Mapolres Mempawah. Seperti peralatan rumah tangga, sepeda motor dan mobil. Seluruh aset tersebut nantinya akan dikumpulkan dan dikirim secara bersamaan. Sehingga tidak ada lagi aset milik pengungsi warga eks Gafatar yang tertinggal di Kabupaten Mempawah.“Pemerintah daerah sudah berjanji untuk menjaga dan mengembalikan seluruh aset yang menjadi milik para pengungsi warga eks Gafatar. Makanya, pasca proses evakuasi pengungsi dilakukan pemerintah daerah dibantu pihak kepolisian bergerak cepat melakukan pengamanan aset,” paparnya.

Dari pantauan Pontianak Post, beberapa aset seperti peralatan rumah tangga mulai dari kasur, perkakas dapur dan lainnya diamankan di Mapolres Mempawah. Begitu pula tiga unit mobil, 92 unit sepeda motor terparkir di Halaman Mapolres Mempawah yang telah di-police line. Sedangkan aset berupa enam ekor sapi dari lokasi kamp warga eks Gafatar di Desa Pasir masih berada di lokasi. Namun, dari dua lokasi kamp warga eks Gafatar di Mempawah terdapat empat unit sepeda motor yang tidak dapat diselamatkan dalam insiden pembakaran.(arf/wah)

 

 

 

Berita Terkait