Kembali, Tiga Orang Utan Dilepasliarkan

Kembali, Tiga Orang Utan Dilepasliarkan

  Selasa, 5 July 2016 09:58
DILEPASLIARKAN: Salah satu individu orang utan yang dilepasliarkan YIARI bersama BKSDA dan BTNBBBR, Senin (27/6) lalu di Resor Mentatai, Dusun Juoi, Kecamatan Menukung. YIARI FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – International Animal Rescue Indonesia/Yayasan IAR  Indonesia (YIARI) bersama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Seksi Konservasi (BKSDA) Kalbar dan Balai Taman Nasional Bukit   Baka Bukit Raya (TNBBBR), untuk kali pertama, melakukan pelepasliaran  dua orang utan rehabilitasi. Pelepasan tersebut dilakukan di Resor Mentatai, Dusun Juoi, Kecamatan Menukung, yang termasuk dalam kawasan TNBBBR, Kabupaten Melawi, Senin (27/6).
Dua orang utan  rehabilitasi  ini  bernama  Butan  dan  Marsela.  Selain  Butan  dan  Marsela, YIARI juga melepaskan satu individu orang utan liar bernama Sabtu. Sabtu adalah orang utan liar berusia sekitar  25  tahun,  yang  diselamatkan  dari  perkebunan warga  di  Sungai  Awan  Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Maret lalu. Orang utan  jantan  dewasa  dengan cheekpad ini  terusir  dari habitatnya  dan  masuk  ke  kebun  warga, karena  hutan  tempat  tinggalnya sudah  habis  terbakar.
Sabtu menjalani  perawatan di Pusat Penyelamatan dan Konservasi  YIARI di Ketapang  untuk memulihkan kondisinya agar siap kembali ke alam bebas. Berbeda dengan Sabtu,  Butan  dan  Marsela  adalah orang utan  yang  diselamatkan  YIARI ketika  masih  berusia   sekitar   2 – 3  tahun. Ketika  diselamatkan  mereka  tidak  bisa  langsung ditranslokasi,  karena  mereka  tidak  mempunyai  kemampuan  bertahan hidup  yang  seharusnya diajarkan  induknya. Butan  dan  Marsela  sama-sama  diselamatkan  dari  perkebunan kelapa sawit yang  menghancurkan  habitatnya.
“Di  habitatnya,  bayi  orang utan  hidup  bersama  induknya  dari lahir  sampai  berusia  7 – 8 tahun,” jelas Gail Campbell-Smith, manajer Program  YIARI. “Ketika bayi  orang utan  ditemukan  sendirian,  hampir  bisa  dipastikan induknya  sudah  mati,” tambahnya lagi.  
Kondisi Butan  sangat memprihatinkan ketika diselamatkan di tahun   2011. Dia diselamatkan  dari  kasus  pemeliharaan  oleh  warga  di  areal  Laman  Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara. Butan bahkan nyaris mati karena penyakit malaria. Segera setelah diselamatkan, Butan tinggal di klinik YIARI  dan  mendapatkan  perawatan  intensif.  Setelah  6  bulan  mendapatkan  perawatan,  Butan dinyatakan sembuh total oleh tim medis YIARI. Selain  Butan,  Marsela  juga  berasal  dari  areal Laman  Satong,  dari  perkebunan  sawit  PT Kayong  Agro Lestari (KAL) di  Ketapang.  Anak  orang utan  yang  masih  liar  ini ditemukan tanpa induknya oleh  satpam  perusahan  tersebut,  pada Oktober  2012  yang  segera melaporkan temuannya kepada petugas BKSDA dan diserahkan kepada YIARI. Setelah  menjalani  masa  karantina,  Butan  dan  Marsela  menjalani  rehabilitasi  di sekolah hutan, di  mana  mereka  akan  belajar  untuk  memanjat,  mencari  makan,  membuat  sarang,  serta mempelajari   berbagai   kemampuan   bertahan   hidup   lainnya. Setelah dirasa mereka sudah menguasi kemampuan  bertahan  hidup,  mereka  akan  dipindahkan  ke  pulau pre-release   untuk di-monitoring.  
Tim  medis  YIARI  juga  sudah  memastikan  bahwa  ketiga  orangutan ini  sudah  dalam kondisi  yang  sehat  dan  siap  untuk  dikembalikan  ke  habitatnya. “Orang utan  ini  sudah  melalui prosedur karantina dan  sudah dilakukan  beberapa  macam tes untuk  memastikan  bahwa dari sisi kesehatan  orang utan  ini  siap  untuk  kembali  ke  habitatnya,” jelas Ayu  Budi  Handayani, animal Care Manager IAR.
Tim  pelepasanan bersama  dengan  orang utan  berangkat  dari  Pusat  Penyelamatan  dan Konservasi Orangutan Yayasan IAR Indonesia (International Animal Rescue) di Ketapang sejak Jumat  sore, dengan  seremonial  yang  dihadiri  oleh  Kepala  BKSDA  SKW  I,  Ruswanto.
Setelah menempuh perjalanan selama darat selama 40 jam, perjalanan dilanjutkan dengan perahu, menyusuri  sungai  selama  1  jam, di mana kemudian  dilanjutkan  dengan  berjalan kaki  selama  4  jam  dengan melibatkan 12 porter. Sabtu  dilepaskan  pada  28  Juni.  Ketika  dilepaskan,  Sabtu  langsung  keluar  dari kandang transport dan langsung memanjat tinggi. Sementara Butan dan Marsela dilepaskan sehari kemudian, setelah  diistirahatkan  di  kandang  habituasi  selama  semalam.  Ketika  dilepaskan,  Butan  dan Marsela  langsung  memanjat  pohon  tinggi,  menjelajahi  area  sekitar  titik  pelepasan  dan  mencari makan. “Ini merupakan pertanda bagus bahwa orangutan ini akan mampu bertahan hidup di sini. Sejak  awal  rehabilitasi,  Butan  dan  Marsela  mempunyai  perilaku alami  yang  bagus. Mereka  sudah  bisa  memanjat  tinggi,  dan  mencari  makan  sendiri. Bahkan  mereka  tinggal  di hutan,  selalu  membuat  sarang  dan  tidak  pernah  pulang  ke  kandang,” ungkap  Karmele  Llano Sanchez, direktur  Program  YIARI.    
Karena  kondisi  dan  perilaku  alaminya  semakin  bagus, YIARI mulai mengambil data perilaku mereka dan memasukkan mereka ke dalam kandidat rilis. “Proses  rehabilitasi  orang utan  sangat  panjang  dan  setelah  pelepasan  orangutan  tersebut  masih akan diikuti oleh tim monitoring di hutan dengan mengunakan alat radiotracking selama sampai 1 atau 2 tahun,” tambahnya. (afi)

 

Berita Terkait