Kemas Ulang Objek Pariwisata

Kemas Ulang Objek Pariwisata

  Senin, 26 September 2016 09:30
WISATA BUDAYA: Permainan meriam karbit di Sungai Kapuas, menjadi ikon wisata unggulan Kota Pontianak

Berita Terkait

PONTIANAK--Kementerian Pariwisata mencanangkan target pariwisata Indonesia akan  menduduki posisi 30 besar dunia pada tahun 2017. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak, Hilfira Hamid, mengatakan pemerintah membutuhkan cara lain yang lebih unik untuk meningkatkan daya tarik wisatawan. Khususnya pemerintah Kalbar.

 
Ia yakin Indonesia dapat meraihnya. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki berbagai budaya dari berabagai etnis. Budaya ini dapat dijadikan daya tarik wisatawan asing demi meningkatkan tingkat pariwisata Indonesia.

Dijelaskannya, Indonesia sesungguhnya sudah dapat mencapai posisi tersebut dari tahun-tahun lalu andai kata promosi dari pemerintah dilakukan semaksimal mungkin dan image bangsa yang terjaga. Di luar negeri. promosi mengenai pariwisata mereka gencar dilakukan, dan image mengenai kejadian-kejadian buruk yang dapat menghambat datangnya turis selalu dijaga agar tidak terdengar.

Hilfira menyontohkan, pariwisata di Kota Pontianak yang dapat menarik datangnya turis asing. Salah satu yang paling menarik dari Kota Pontianak adalah Tugu Khatulistiwa yang menjadi titik terjadinya fenomena alam kulminasi matahari setiap tahunnya.

Pontianak sudah mencanangkan untuk meningkatkan tingkat pariwisatanya pada saat hari jadi Pontianak Menyapa Dunia. Maka Disbudpar akan gencar melakukan upaya untuk meningkatkan tingkat pariwisata Kota Pontianak.

Pariwisata kota Pontianak tidak hanya fenomena alam titik kulminasi matahari, tetapi juga dari sisi wisata kuliner, perhotelan, serta budayanya. Hal lain yang mendukung pariwisata kota Pontianak adalah budaya masyarakat kota yang ramah dan sopan. “Budaya sopan dan ramah ini memberikan dampak positif untuk pariwisata kota Pontianak,” ungkap Hilmira.

Pemerintah Kota Pontianak sudah memberikan perhatian cukup untuk menunjang tingkat pariwisata kota. Perhatian tersebut seperti perbaikan Taman Alun-Alun Kapuas, Taman Digulis Untan, tata kota diperindah, hingga pembersihan lingkungan kota.

Terpisah, Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, M. Zeet Hamdy Assovie, mengatakan di Kalbar sendiri sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Hanya saja, pemerintah mesti jeli mengemas potensi wisata tersebut, agar menjadi lebih menarik di mata wisatawan lokal maupun mancanegara.

Ia mengambil contoh yang terdekat. Kota Pontianak yang memiliki tugu Khatulistiwa dengan segala keunikannya. Jarang sekali ditemukan, wisatawan yang bertandang ke Kota Pontianak juga mengunjungi tugu ikonik di Siantan tersebut.

Selama ini, yang dijual dari Tugu Khatulistiwa hanyalah peristiwa Equinox atau titik kulminasi yang terjadi dua kali setahun. Ia menilai, jika hanya mengandalkan kulminasi, Tugu Khatulistiwa tidak akan pernah ramai dikunjungi wisatawan. “Harus dilihat sisi menarik lainnya,” ungkap dia.

Ia menyarankan, pemerintah dapat mengemas sejarah atau awalnya Tugu Khatulistiwa itu dibangun. Bagaimana Tim Ekspedisi Geografi Internasional yang di pimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda melakukan penelitian di Siantan guna menentukan titik 0 derajat di Pontianak pada 31 Maret 1928 lalu menarik garis lurus hingga ke Kalimantan timur.

Setelah itu, barulah dibangun sebuah tugu berbentuk tanda panah sebagai tanda. Lalu kemudian direnovasi hingga sekarang. “Sisi lain ini yang menurutnya harus dikemas secara baik oleh pemerintah sebagai daya tarik bagi wisatawan,” ungkap M. Zeet. (mif/pah)

Berita Terkait