Kemana Saja Pergi Dikawal Tentara Bersenjata

Kemana Saja Pergi Dikawal Tentara Bersenjata

  Jumat, 20 May 2016 09:30
PASTOR WILLIAM CHANG

Berita Terkait

Di Marawi City-lah lokakarya Conflict Resolution diselenggarakan. Kawasan ini dianggap relatif aman. Pengikut Abu Sayyaf hidup dan berkegiatan di kota ini. Keamanan sangat mahal. Tempat penginapan setiap narasumber dijaga ekstra ketat oleh pihak keamanan. 

Panitia berusaha menjamin keamanan penuh setiap pembicara dalam Conflict Resolution. Ke mana saja pergi saya selalu dikawal tentara bersenjata lengkap. Seakan-akan tinggal dalam sebuah kawasan ”perang dingin” selepas Perang Dunia II. Kewaspadaan selalu diperlukan dalam keadaan yang serba tidak menentu.

Sangat sulit mengenal pengikut Abu Sayyaf di tengah masyarakat majemuk. Siapa kawan? Siapa lawan? Semua berbaur menjadi satu. Tak heran kalau seketika terbetik berita tentang ada yang hilang atau diculik orang-orang tak dikenal. Terkadang mereka masih kembali dan terkadang sama sekali tidak pernah kembali lagi. Masing-masing harus waspada dan tidak lengah menghadapi ketidak-amanan yang bisa berubah sewaktu-waktu. 

Conflict Resolution melibatkan kelompok dosen, tokoh masyarakat, adat dan aktivis damai di kawasan ini. Lokakarya tidak hanya di ruang pertemuan terbatas. Dengan pengawalan ketat, narasumber dan peserta bisa langsung melihat kehidupan masyarakat setempat. Dari kampung ke kampung. Makanan khas daerah Marawi dinikmati. Hampir setiap hari kami menikmati daging ayam dan ikan. Sayur-sayuran dan buah-buahan kurang. Pendampingku ternyata seorang ”sultan”. Di kawasan ini banyak yang menyandang gelar “sultan”. Dia menceritakan pengalaman dan perjuangan hidup bangsa Moro. Nama Moro berasal dari kata ”Moros”, yang dalam bahasa Spanyol menunjuk kata ”Moors”, sebutan bahasa Spanyol untuk penduduk setempat yang beragama Muslim. Dia mengakui kedekatan historis antara Bangsa Moro dengan Malaysia dan Indonesia. Mereka merasa lebih dekat dengan Malaysia dan Indonesia daripada dengan Manila atau orang-orang Filipina. Tak heran kehadiran orang Indonesia dianggap sebagai rekan-rekan seperjuangan bangsa Moro. Tinjauan historis, budaya, agama dan perjuangan hidup antara Bangsa Moro dan Indonesia memiliki kemiripan.

Segala isi hati dituangkan dengan polos. Dia mengisahkan bagaimanakah sebagai kaum minoritas harus berjuang di tengah kaum mayoritas. Mereka tetap akan berjuang habis-habisan untuk membalas dendam terhadap pasukan keamanan Pemerintah, yang pernah menembak atau menghabisi nyawa sanak-famili mereka. Kata ”ampun” tidak masuk kamus perjuangan hidup mereka. Yang penting, mereka akan bergerilya dan berjuang habis-habisan hingga mencapai kemenangan yang mereka harapkan. Setiap waktu mereka siap meninggalkan kota dan bergerilya menghadapi pasukan pemerintah.

Seorang dosen muda dengan suara lantang mencetuskan isi hatinya. Dia dan kawan-kawan tetap akan memangku senjata menghadapi pasukan pemerintah yang ingin menghentikan langkah perjuangan mereka. Adalah hak dasar mereka untuk menyatakan sikap dan meneruskan pertempuran dari waktu ke waktu. Ketidakadilan mereka alami, terutama dari pihak penguasa di ibu kota. Mereka belum menikmati kemakmuran atau kesejahteraan negara. Padahal mereka tinggal dalam sebuah pulau yang memiliki kekayaan sumber alam. Namun, mereka sangat jarang menikmati hasil perjuangan itu. Keadilan masih sebuah cita-cita yang masih jauh dari kenyataan. Kesenjangan hidup sosial, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan sangat terasa. 

Lokakarya berjalan lancar. Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantara. Peserta antusias. Jarang yang tidak menghadiri lokakarya. Mereka ingin melihat jalan-jalan yang bisa ditempuh dalam mewujudkan perdamaian dan kerja sama yang baik dalam membangun kesejahteraan rakyat, khususnya di kawasan Mindanao. Mereka menyadari keadaan mereka memilukan dan memprihatinkan. Kedamaian sejati masih jauh dari kenyataan. Kekacauan sosial mengganggu ketenangan hidup. Harapan mereka adalah damai, ketenangan dan kesejahteraan sosial bagi segenap masyarakat di Mindanao. Dalam keadaan apa pun mereka akan melawan setiap gerakan yang akan menekan perjuangan bangsa Moro. Mereka mendambakan keadaan yang lebih ”memerdekakan” mereka. Cita-cita untuk hidup dalam keadaan yang lebih baik dan bermasa depan sangat mereka mimpikan. Keberanian untuk membela keadilan dan melawan ketidakadilan termasuk prinsip hidup para pejuang Abu Sayyaf. 

Abu Sayyaf (Bapak Pembuat Pedang) adalah nama sebuah kelompok militan yang berbasis di sekitar Pulau Jolo dan Basilan, belahan Tenggara Filipina. Kelompok-kelompok Moro selama empat dekade terakhir telah menggabungkan diri dengan kelompok Abu Sayyaf untuk memperjuangkan pendirian sebuah provinsi independent di Filipina. Anggota kelompok Abu Sayyaf berkisar antara 200 hingga 400 orang. Terkadang sangat sulit mengenal mereka, karena mereka tidak mengenakan identitas khas. Mereka melebur ke tengah-tengah masyarakat sipil. Mereka memperjuangkan cita-cita mereka dengan kekerasan, senjata dan bahan peledak yang bisa merenggut nyawa banyak orang. Penculikan, penyanderaan, kawin paksa, penggagahan anak-anak, dan bisnis narkoba termasuk agenda kegiatan kelompok militant ini. Mereka memperoleh penghasilan dengan tindak kekerasan, seperti penculikan dan penyanderaan. Bahkan mereka tidak segan-segan menghilangkan nyawa orang kalau tuntutan mereka tidak dipenuhi semestinya. 

Setiap narasumber dalam lokakarya conflict resolution sangat dihargai. Mereka dipandang sebagai pihak ketiga yang menengahi mereka dalam proses pencapaian otonomi khusus. Para pembicara tidak membawa misi lain, kecuali mengusahakan terwujudnya keadilan, perdamaian dan perwujudan aspirasi masyarakat Filipina Tenggara. Jelas, narasumber tidak membawa kepentingan mereka. Mereka bertujuan memfasilitasi pertemuan antara pengikut Abu Sayyap dengan pemerintah pusat di Manila. Kerinduan masyarakat setempat ingin mencapai perwujudan otonomi daerah menurut warna islami. Tak heran, peserta lokakarya acapkali bertukar fikiran dengan narasumber selama proses pembicaraan berlangsung. Kedekatan kultural dan sosial memengaruhi relasi pengikut Abu Sayyap dengan narasumber asal Indonesia.

Yang bisa dipetik dari lokakarya seminggu bersama pengikut Abu Sayyap ini adalah lebih mengenal siapakah pengikut Abu Sayyap dan kelompok Moro dalam konteks negara Filipina. Sebagai bagian Filipina mereka tetap memperjuangkan keadilan, kesejahteraan dan hak-hak istimewa dalam seluruh proses pembangunan nusa dan bangsa. Mimpi lain adalah berdirinya sebuah provinsi independen islami, yang memiliki hak-hak istimewa dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. Sejumlah peserta lokakarya menandaskan bahwa mereka tidak akan berhenti berjuang sebelum mereka mencapai apa yang mereka dambakan di kawasan Mindanao. 

Sementara itu, Pemerintah Filipina masih harus bekerja keras menghadapi kelompok militan ini yang terampil bergerilya dibandingkan dengan tentara Filipina. Keadilan harus ditegakkan. Kesejahteraan umum musti diwujudkan. Pendidikan yang lebih nasionalis dan internasional perlu ditingkatkan terus. Yang paling penting adalah kehadiran negara dalam keadaan apa pun di Mindanao. Dengan sendirinya, pemerintah perlu menyediakan dana yang tidak kecil untuk mengontrol, menegakkan keadilan, kesejahteraan dan keamanan masyarakat. Jika tidak tersedia dana yang memadai, maka sejumlah program perbaikan keadaan sosial, ekonomi dan kebudayaan akan tersendat-sendat. Pemerintah yang bersih, kuat dan berwibawa akan sanggup menghadapi keadaan real masyarakat di kawasan Mindanao ini. 

Tanggal 11 September 2002 rombongan meninggalkan Marawi City menuju Cagayan de Oro dan Manila. Hati lega. Usus dalam perut tidak tegang lagi. Pikiran lebih ringan. Yang memprihatikan, sehari setelah kami meninggalkan lokasi lokakarya, empat orang guru diculik di kawasan Mariwi City. Hingga kini belum terbetik berita mengenai nasib mereka yang ingin mencerdaskan anak-anak bangsa di Filipina. Selamat tinggal Marawi City! Tidak tahu kapan bisa bersua lagi. Moga-moga keadilan, damai, kesejahteraan dan keamanan menghujani bumi Mindanao sehingga masyarakat setempat menikmati kehidupan yang lebih baik dan membahagiakan.  

(Penulis termasuk narasumber dalam lokakarya Conflict Resolution di Marawi City, Mindanao – Filipina Selatan)

      

Berita Terkait