Kemajuan Teknologi, Sebabkan Pengangguran?

Kemajuan Teknologi, Sebabkan Pengangguran?

  Selasa, 10 November 2015 08:33

Berita Terkait

PONTIANAK-Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar Acui Simanjaya menilai menilai bertambahnya pengangguran juga tak lepas dari kecanggihan teknologi. Adanya kemajuan teknologi, membuat kegiatan proyek yang sebelumnya dikerjakan manusia beralih ke mesin.Dicontohkannya  pembangunan jembatan. Pemasangan betonnya menggunakan mesin. Sementara hanya butuh satu orang saja untuk mengendalikannya. “Padahal biaya yang dikeluarkan sama. Apakah menggunakan tenaga manusia atau mesin,” jelas dia.

Belum lagi saat ini kondisi ekonomi sedang melemah. Menurutnya ada dua hal yang bisa menjadi penyelamat ketika kondisi ekonomi melemah. Di antara daya beli masyarakat dan belanja dari APBD. Namun dari kedua hal itu belanja masyarakat yang dianggap menjadi penunjang sebab menggerakkan pasar.“Sebaliknya dari APBD itu, proyek-proyek yang ada terlalu lama dieksekusi. Ini karena khawatir ada persoalan hukum ketika menggunakan anggarannya,” tandasnya.

Agar bisa keluar dari kondisi perekonomian yang melesu Acui mengusulkan ke pemerintah agar proyek yang anggaran bisa dikerjakan dalam konsep padat karya. Dia menganggap konsep seperti itu bisa mengurangi pengangguran yang ada. Roda perekonomian bisa berjalan dengan lancar.“Lihat saja, saat ini took-toko pada sepi pembeli. Ini karena daya beli masyarakat menurun. Masyarakat tidak punya untuk membeli. Sementara uang pemerintah tidak keluar karena proyeknya lama dieksekusi,” kata dia.Karena itulah jika proyek dengan konsep padat karya ini diwujudkan tentunya penyerapan tenaga kerja sudah pasti ada. Hasil kerja dari karyawan tersebut mereka bisa berbelanja. Dampaknya roda perekonomian pun bergerak.

Selain itu Acui juga berharap para buruh tidak menuntut UMK yang tinggi. Permintaan itu disampaikannya karena melihat kondisi perekonomian saat ini sedang melesu.Acui menyebutkan perusahan sudah mengeluarkan tunjangan 10 persen itu kebutuhan karyawan. Anggaran itu digunakan untuk tunjangan kesehatan, jaminan kerja, dan tunjangan hari tua karyawan. Anggaran yang dikeluarkan itu juga mengakibatkan perusahaan menjadi kontraproduktif. “Ini menjadi beban yang memang harus dipenuhi perusahaan,” kata Acui, belum lama ini.Acui menilai kemampuan perusahaan akan berkurang jika buruh meminta UMK yang tinggi.

Sehingga dia berharap pengertian dari para buruh melihat kondisi yang sedang tidak bersahabat seperti saat ini. “Berbagai elemeh buruh di perusahaan sudah dikomunikasikan agar ada pengertian dengan kondisi seperti sekarang,” harapnya.Sebaliknya, lanjut dia, jika tuntutan buruh itu dilakukan maka bisa berakibat yang kontradiktif bagi perusahaan. Jika sebelumnya ada tiga karyawan, tidak menutup kemungkinan berubah menjadi satu saja. Ini karena ada permintaan UMK yang tinggi. Sehingga, jumlah pengangguran pun meningkat. (mse)

 

Berita Terkait