Keluarga Sandera Kecewa

Keluarga Sandera Kecewa

  Senin, 11 April 2016 09:02
SANDERA: Pasukan eite TNI saat melakuka latihan pembebasan sandera di Tarakanm Klimantan Utara, beberapa waktu lalu. AGOES SUWONDO/RADAR TARAKAN

Berita Terkait

Filipina Derita Kekalahan Terburuk

MANADO – Upaya pembebasan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Pulau Jolo, Filipina, yang tak kunjung membawa hasil hingga dua pekan ini membuat sedih keluarga mereka yang ditinggalkan. Para keluarga itu meminta pemerintah Indonesia dan Filipina segera bertindak cepat dengan mengutamakan keselamatan WNI yang disandera.

Keluarga Peter Barahama, Julian Philip, dan Alvian Elvis Peti, tiga di antara sepuluh kru kapal Brahma 12 yang menjadi sandera Abu Sayyaf, kini terus memohon doa keselamatan. Ayah Peter, Charlos Barahama, memohon pemerintah maupun perusahaan tidak melalaikan keselamatan anaknya dan WNI lainnya. 

”Saya mohon, jika pemerintah ingin mengambil tindakan lainnya, pikirkan dulu keselamatan mereka. Jangan bertindak hanya dengan pemikiran sepihak,” harap Charlos sambil sesekali mengusap air mata.

Charlos mengaku sedih ketika membaca di surat kabar soal respons pemerintah dan perusahaan yang tidak mementingkan keselamatan anaknya. ”Mohon dengan sangat karena saya membesarkan dia dengan kasih sayang. Harap pikirkan perasaan saya sebagai orang tua yang pasti sangat terpukul. Coba saja jika hal ini terjadi pada anak atau keluarga kalian,” sambungnya. 

Perasaannya dan seluruh keluarga, ungkap Charlos,  sangat terpukul. Untuk makan dan tidur saja mereka sulit. ”Bagaimana bisa makan jika nasib anak saya dipertaruhkan. Bagaimana bisa tidur, sedangkan anak saya mungkin disiksa di sana,” kata Charlos. Karena itu, dia sangat memohon pemerintah dan perusahaan segera menebus mereka. Sebab, mereka telah mengabdi kepada perusahaan. ”Jangan biarkan begitu saja,” imbuhnya.

Sementara itu, Femmy Wowor, istri Julian Philip, terlihat lebih bisa mengendalikan diri. Meski belum ada kepastian, dia tetap terlihat tegar menghadapi situasi sulit. Femmy mengaku tetap menunggu keputusan terbaik dari pemerintah. ”Harapan kami, keluarga, apa pun yang sudah diupayakan pemerintah Indonesia dan pemerintah Filipina, mohon dipercepat supaya mereka bisa segera dibebaskan,” kata perempuan 44 tahun itu.

Demikian pula keluarga Alvian Elvis Peti. Youla Lasut, sang istri, menyatakan saat ini terus berdoa dan berharap suami serta para kru anak buah kapal (ABK) lainnya selalu dalam keadaan baik. ”Tiap pukul 21.00 kami sering kumpul dan berdoa bersama,” ujarnya. Dengan doa, dia mengaku masih yakin suaminya yang berada di suatu tempat itu dalam keadaan baik. ”Cemas pasti ada. Tetapi, lewat doa, semuanya kami serahkan ke tangan Tuhan,” tutur Youla.

Kelompok militan Abu Sayyaf membajak kapal Pandu Brahma 12 bermuatan batu bara sekaligus sepuluh ABK di dalamnya yang merupakan WNI dua minggu lalu. Kelompok Abu Sayyaf dikabarkan meminta uang tebusan Rp 15 miliar kepada pemerintah Indonesia untuk pembebasan sepuluh nyawa tersebut. Tenggat penyerahan tebusan 8 April lalu. Namun, hingga dua hari setelah batas waktu tadi malam, belum ada kabar tebusan diserahkan. Nasib WNI yang disandera pun terus terkatung-katung.

18 Tewas 
Para keluarga WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf memang layak kecewa. Apalagi, upaya pembebasan terbaru yang dilakukan pasukan khusus Filipina ke markas Abu Sayyaf di Provinsi Basilan pada Sabtu pagi (9/4) gagal total. Belum sampai ke target sasaran, rombongan pasukan khusus Filipina justru mendapat serangan kilat.

Akibatnya, 18 prajurit Filipina meregang nyawa (baca: tewas) dalam bentrokan yang berlangsung selama sekitar sepuluh jam itu. Empat di antaranya bahkan ditemukan tewas dalam kondisi dipenggal kelompok militan Abu Sayyaf. Selain itu, 53 orang dinyatakan mengalami luka-luka. 

Dari pihak Abu Sayyaf, hanya lima orang yang tewas dan 20 orang yang terluka. Termasuk di antara korban luka adalah pemimpin senior mereka Radzmil Jannatul.  Kondisi tersebut menjadikan insiden di Pulau Basilan sebagai yang paling banyak memakan korban di pihak militer dalam satu hari pertempuran. ”Seluruh pasukan tengah berduka,” ujar Kepala Militer Filipina Jenderal Hernando Iriberri kemarin. 

Kolonel Benedict Manquiquis, juru bicara unit militer yang terlibat dalam pertempuran tersebut, menjelaskan kronologi penyerangan. Saat itu pasukannya tengah berada dalam perjalanan untuk menyerang tempat persembunyian Abu Sayyaf. 

Mereka mulai melakukan serangan pukul 08.00 di Sitio Bayoko, Distrik Barangay Baguindan, Kota Tipo-Tipo. Namun, di tengah jalan, prajurit yang berasal dari Batalyon Infanteri 44, Batalyon Pasukan Khusus 4, dan Pasukan Kavaleri 14 tersebut justru yang disergap lebih dulu.

”Musuh berada di tempat yang lebih tinggi. Jadi, tidak peduli bagaimanapun prajurit kami bersembunyi, mereka jadi sasaran empuk senjata berat dan alat peledak yang sudah dimodifikasi anggota kelompok Abu Sayyaf,” terang Benedict. Mayoritas anggota Abu Sayyaf memegang senjata peluncur granat M203. Itu menjadikan korban jiwa dari pihak militer Filipina banyak. 

Meski kalah besar di pertempuran pertama untuk pembebasan sandera, pasukan Filipina bertekad terus melakukan penyerbuan dan berharap bisa membunuh Komandan Abu Sayyaf Isnilon Hapilon. ”Pasukan yang terluka sudah diantarkan ke Rumah Sakit Militer Kota Zamboanga. Sedangkan korban meninggal akan kami antarkan ke Markas Komando Mindanao Barat. Namun, operasi militer akan kami lanjutkan untuk mencari bandit yang melarikan diri,’’ tegas Hernando Iriberri. 

Salah seorang korban tewas dari pihak Abu Sayyaf, sebut Iriberri, adalah Mohammad Khattab yang berasal dari Maroko serta putra Hapilon, yaitu Ubaida Hapilon. Khattab selama ini dikenal sebagai pembuat bom rakitan. Dia bekerja untuk organisasi teroris internasional. Iriberri tidak mau menyebutkan Khattab bekerja untuk organisasi mana. Yang jelas, Khattab-lah yang selama ini ikut menyusun seluruh penculikan dan permintaan uang tebusan itu. 

Bentrokan antara pasukan Filipina dan Abu Sayyaf tersebut terjadi setelah militan itu membebaskan mantan pendeta asal Italia Rolando Del Torchio Jumat lalu (8/4). Dia telah diculik Abu Sayyaf selama enam  bulan. 

Pihak militer Filipina mengungkapkan bahwa sejauh ini mereka tidak tahu bagaimana nasib korban penculikan Abu Sayyaf. Saat ini masih ada 18 orang warga asing yang diculik Abu Sayyaf. Termasuk di antaranya 10 warga Indonesia, 2 Kanada, dan 1 Norwegia. Kelompok itu diduga mengurung para sandera di Pulau Jolo yang lokasinya berdekatan dengan Pulau Basilan. 

Belum adanya kejelasan nasib sandera membuat Filipina mendapatkan sorotan masyarakat internasional. Angka korban dari pihak militer Filipina yang cukup besar tersebut jelas menghadirkan kritik. Menurut lansiran The Wallstreet Journal, pihak militer sebenarnya diberi mandat untuk memburu pimpinan Abu Sayyaf Isnilon Hapilon sebagai respons penyanderaan. 

Namun, hasil konflik senjata terbaru membuktikan bahwa pihak militer belum siap untuk menumpas kelompok teroris setaraf Abu Sayyaf. Padahal, pemerintah Filipina telah mendapatkan bantuan Rp 5,7 triliun dari Amerika Serikat (AS) untuk peningkatan kekuatan antiterorisme.  

”Saya menilai program tersebut sebagai buang-buang uang dan investasi yang buruk dari AS. Dana itu sudah dikucurkan sejak 2002 hingga 2013, tapi hasil nyatanya tidak terlihat,” cetus Zachary Abuza, pakar keamanan Asia Tenggara di Universitas Nasional War AS. ”Berbeda dengan Indonesia yang sudah mengurangi banyak kegiatan terorisme, aksi terorisme di Filipina justru meningkat 13 kali lipat pada periode 2002–2013,” terangnya.

Jet Tempur
Sementara itu, pengamat terorisme Wawan Purwanto mengatakan, korban dari militer Filipina tersebut merupakan hasil yang jelas dari keadaan. Pasalnya, Basilan merupakan wilayah yang terkenal sebagai markas Abu Sayyaf. Hal itu bisa membuat pasukan kelompok penyandera mengambil keuntungan geografis untuk menyerang tentara.

”Dengan hanya infanteri dan kavaleri, sama saja masuk ke sarang musuh. Kelompok Abu Sayyaf bisa memanfaatkan ketinggian dan menunggu pasukan untuk masuk ke posisi menguntungkan. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya ada serangan preemptif dengan memanfaatkan armada udara,” tuturnya.

Saat ditanya soal dampak konflik ke kondisi sandera di Pulau Sulu, Wawan merasa ada kemungkinan. Penyerangan tersebut diakui bisa dibuat tameng bagi militer pemerintah. Sekaligus pendongkrak daya tawar bagi pihak yang terkait sandera. ”Bisa saja mereka mempersulit proses penebusan sandera karena hal ini. Tentu saja, kita harus berdoa yang terbaik agar sandera, termasuk sepuluh WNI, bisa selamat,” ujarnya.

Terkait keselamatan WNI, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, pihaknya masih memastikan keselamatan sepuluh WNI yang saat ini disandera di Pulau Sulu. ”Kami terus mempererat komunikasi dengan pemerintah Filipina,” katanya.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjelaskan, sejauh ini belum ada perkembangan signifikan terkait sepuluh WNI yang disandera. Saat ini posisinya hanya bisa menunggu perkembangan dari pemerintah Filipina. ”Tapi, ada opsi lainnya. Mungkin bisa ada observer atau pemantau. Nanti bisa kita kirimkan untuk melihat bagaimana upaya pembebasan pemerintah Filipina,” jelasnya.

Soal pembayaran tebusan, semua diserahkan ke perusahaan. Pemerintah tidak ikut serta dalam pembayaran tebusan tersebut. ”Ya, nggak ikut campur soal membayar tebusan,” ucap mantan Kapolda Jatim tersebut. 

Badrodin menerangkan, ada juga tawaran Umar Patek membantu membebaskan sepuluh WNI itu. Sebab, dia memiliki hubungan dengan Abu Sayyaf. ”Tawaran ini cukup sulit untuk dikoordinasikan kepada pemerintah Filipina,” ujarnya.

Sebab, pemerintah Fiipina tidak mungkin memberikan kesempatan kepada otoritas lain untuk membebaskan sepuluh WNI tersebut. ”Hanya bisa lewat jalur komunikasi yang tidak resmi. Itu juga belum tentu bisa,” ucapnya. (bil/idr/sha/JPG/afp/Reuters/c9/kim)

 

Berita Terkait