Keluarga Benteng Utama dari Narkoba

Keluarga Benteng Utama dari Narkoba

  Sabtu, 25 June 2016 10:59   1

Oleh: Silvia Pascaningrumb Sunaryo

SETIAP  tanggal 26 Juni di seluruh dunia di peringati  Hari Anti Narkotika Internasional (HANI). Tahun ini  UNODC (United Nation Office on Drugs and Crime) sebagai  lembaga  bentukan persatuan bangsa bangsa (PBB)  untuk menangani permasalahan kejahatan narkotika internasional  merilis tema Listen First, Listening To Children and Youth is the first step to help them grow healthy and safe.

Dalam bahasa sederhana, tema kali ini untuk mengajak peran keluarga utamanya  kedua orang tua untuk lebih memperhatikan perkembangan buah hatinya dengan cara  mendengarkan keinginan serta suara hati anak- anak dan generasi  muda. Langkah ini dirasa efektif untuk membentengi anak-anak dan generasi muda dari penyalahgunaan narkoba. Mengingat generasi muda yang masih labil dalam menyikapi kehidupan mudah terjerumus dengan ajakan teman maupun pengaruh lingkungan yang rawan penyalahgunaan narkoba.

Negara Indonesia saat ini tengah menjadi incaran kartel narkoba internasional untuk memasarkan barang haramnya kepada generasi muda dan anak-anak. Karena secara demografis, Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang hampir 250 juta jiwa lebih. Bagi mereka ini merupakan pasar potensial.  Dalam segi geografis, letak Indonesia juga strategis untuk jalur penyelundupan narkoba. Karena mempunyai perbatasan darat dan perairan yang cukup panjang.  Setidaknya ada 2400 pelabuhan laut yang belum memiliki standar pengamanan. Karena itu peluang itu digunakan para sindikat untuk memasukkan barang haramnya ke Indonesia.

Kondisi ini juga yang terjadi di Kalimantan Barat, Khususnya Pontianak. Karena letak geografisnya berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, rentan dijadikan pintu masuk penyelundupan narkotika jenis Amphetamine Type Stimulant (ATS) atau biasa dikenal dengan jenis Shabu Kristal. Selain faktor geografis, maraknya penyelundupan ini juga ditengarai oleh semakin berkembangnya modus operandi para sindikat serta semakin canggihnya teknologi yang digunakan.

Fakta inilah yang menyebabkan  Presiden Jokowi mendeklarasikan Indonesia darurat Narkoba.  Angka kematian yang cukup tinggi, bahkan menurut penelitian BNN dengan Puslitkes UI, angka Kematian akibat narkoba per hari bisa mencapai 30-50 orang. Belum lagi kerugian ekonomi yang diakibatkan untuk konsumsi narkoba serta biaya rehabilitasi.

Sebagai bagian terkecil dari Negara Indonesia, keluarga mempunyai peran penting. Untuk membentengi generasi muda dari penyalahgunaan narkoba. Karena itu, momen peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2016 ini  yang mengangkat tema tentang mendengarkan suara anak –anak serta generasi muda harus dimaknai ada pola pergeseran pendekatanan keluarga yang saat ini terjadi di dunia bahkan Indonesia. Orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga banyak hak anak yang terabaikan. Kurang kasih sayang, kurang perhatian akibatnya mereka mencari kelompok yang mereka anggap dapat memberikan apa yang tidak di dapatkan di rumah.

Selain  karena kesibukan, pola pergeseran ini juga diakibatkan faktor teknologi. Tidak jarang meski satu keluarga berkumpul di ruang kelaurga, tetapi kenyataannya mereka sibuk dengan gadget dan Hand phone nya masing-masing. Sehingga waktu berkualitas yang sebenarnya dapat digunakan untuk saling memberikan perhatian menjadi hilang percuma akibat canggihnya teknologi yang di tawarkan oleh pabrikan smartphone.

Pola pergeseran inilah yang menjadi salah satu faktor angka jumlah pemakai narkoba pemula di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan data penelitian yang dilansir oleh Puslidatin (Pusat Penelitian Data dan Informasi) BNN tahun 2015, jumlah pengguna narkoba di Indonesia mengalami peningkatan 2,20% atau setara dengan 4,1 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia. Jika terus dibiarkan angka ini bisa menjadi ancaman bagi Indonesia saat mendapatkan bonus demografi yang datang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Jika semula para ahli memprediksi struktur penduduk Indonesia akanmengalami bonus demografipadatahun 2030-2040, namunkinitanda-tanda bonus demografisudahterlihat. Jikaprevalensipenyalahgunaannarkoba di asumsikanberadastabil di angka 2,20% maka akan ada sebanyak 6,5 juta jiwa penyalahguna narkoba usia produktif di tahun 2030 (berdasarkan perkiraan data jumlah penduduk yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik).

 

Bonus demografi tersebut dapat menjadi petaka demografi manakala mayoritas penduduku siap roduktif kita terjangkiti penyalahgunaan nakoba. Pada dasarnya keluarga menjadi factor utama yang menjadi penyeimbangan tara kemungkinan seorang individu akan menjadi penyalahguna atau tidak. Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam proses pembentukan kepribadian anak. Dukungan penuh kepada anak dibutuhkan untuk membesarkan anak-anak yang sehat secara sosial, mental, fisik dan berkelakuan baik. Dalam hal ini tentu saja orang tua memegang peran yang sangat vital, melalui pola asuh yang mereka terapkan. Pemilihan gaya pengasuhan otoritatif dapat mendukung anak memiliki ketahanan dalam menolak bahaya penyalahgunaan narkoba. Dimana orang tua mengedepankan logika dan pikiran positif dan jarang menggunakan hukuman. Orang tua lebih bisa membaca perasaan dan kemampuan anak dan juga mendukung perkembangan anak dalam banyak hal. Orang tua dan anak menjalin komunikasi yang sangat baik dengan kontrol dan dukungan yang seimbang. Orang tua yang otoritatif akan merangkul anak dan mengatakan “Kamu tahu bahwa seharusnya kamu tidak melakukan itu, sekarangmarilahkitabicarakanbagaimana agar kelak kamu mampu menangani situasi itu secara lebih baik” sehingga anak seringkali terlihat riang gembira, memiliki kendali diri dan percaya diri serta berorientasi pada prestasi.

 

Berikut beberapa kiat untuk melindungi keluarga dari penyalahgunaan narkoba, Pertama para orang tua hendaknya mengambil kesempatan untuk mempelajari masalah narkoba dengan membaca, mendengarkan ceramah, berdiskusi, mengunjungi kantor BNN terdekat atau dapat membuka website BNN di www.indonesiabergegas.bnn.go.id karena umumnya anak dan remaja menerima informasi tentang narkoba dari luar rumah, sebagian besar dari teman sebayanya. Sangat berbahaya ketika anak mengetahui suatu hal baru yang hanya setengah-setengah. Karenanya orang tua harus memiliki informasi yang benar dan luas mengenai permasalahan narkoba. Kedua, pola asuh orang tua dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan kepribadian anak. Menjadi sahabat anak dapat diterapkan orang tua dalam pendidikan keluarga. Dalam kesehariannya, anak-anak tidak hanya membutuhkan figur orang tua namun juga membutuhkan sosok sahabat yang bias menjadi partner dalam dunianya. Mendapatkan kepercayaan dari anak sangat berarti besar, saat anak menghadapi masalah ia akan menjadikan orang tua sebagai tempat curhat dan berbagi beban. Ketiga, perilaku orang tua hendaknya dapat menjadi contoh bagi anak. Seringkali orang tua lupa bahwa anak belajar dari tingkah laku dan perilaku kita yang mereka lihat dan perhatikan setiap harinya dari bayi sampai remaja.

Keempat, menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan pasangan dan juga dengan anak-anak memungkinkan kita melihat gejala-gejala awal pemakaian narkoba pada anak-anak. Terakhir, bekerja sama dengan lingkungan sekitar dan memiliki hubungan yang baik dengan para tetangga selalu mendatangkan kenyamanan dan keamanan bagi kita. Bila ikatan dan sistem yang dibangun dengan para tetangga itu kuat, gejala-gejala penyalahgunaan narkoba di pemukiman kita akan terdeteksi dan dapat tertanggulangi dengan cepat dan baik.

Pencegahan penyalahgunaan berbasis keluarga dinilai sangat efektif dan potensial dalam mencegah tindakan penyalahgunaan narkoba sedari dini. Karena jika tidak dicegah sejak dinimaka 10-20 tahun kedepan dapat terjadi kemungkinan hilangnya generasi penerus bangsa akibat penyalahgunaan narkoba.*

Silvia PascaningrumbSunaryo

Penyuluh Ahli PertamaSeksiPencegahandanPemberdayaanMasyarakat

BNN Kota Pontianak