Kelas Lima SD sudah Baca Buku Dasar Biologi Kuliahan

Kelas Lima SD sudah Baca Buku Dasar Biologi Kuliahan

  Kamis, 12 May 2016 09:30
WAKIL: Jacq yang mewakili Kalbar dalam ajang OSN 2016 di Palembang. AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Jacqueline Nicole kembali terpilih mewakili Kalimantan Barat untuk berkompetisi di tingkat nasional. Pelajar SMP Tunas Bangsa, Kubu Raya ini akan berkompetisi dalam Olimpiade Sains Nasional di Palembang, Sumatra Selata pada 15 Mei mendatang. Remaja 15 tahun ini menjadi satu-satunya wakil Kalbar diajang tersebut. 

AGUS PUJIANTO, Pontianak

BARUSAN pulang dari ngajak makan dan ngobrol anak. Kasian habis ujian nasional, biar fresh anaknya,” kata ibunya, Polina ringan. Sesekali tangannya mengapit gagang gunting, merapikan poni di rambut anak sulungnya, Jacqueline Nicole.

Jacq, begitu sapaan melekat pada siswi kelas 3 SMP Tunas Bangsa, Kubu Raya yang kaya prestasi ini. Usianya terbilang muda, namun prestasi di bidang Sains, mengantarkannya meraih penghargaan tingkat lokal dan provinsi.

Dari 86 peserta seleksi, hanya lima peserta dari lima provinsi di Indonesia, yakni Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Kalteng dan Kalbar. “Ada dua dari Kalbar bersaing dengan ribuan yang daftar. Bersyukur anak saya bisa lolos padahal masih SMP,” kata Polina.

Nama gadis kelahiran 8 November 2001 ini mungkin sudah tak asing lagi bagi rekan sesama pelajar. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Jacq kecil sudah tampak menonjol dengan prestasi ranking di kelasnya. Menginjak SMP, sejumlah prestasi pun perlahan mulai diukirnya: tahun 2012 mewakili Kalbar untuk pembinaan International Matematika dan Science Olympiade; 2014 juara I Biologi Kubu Raya; 2015 menjadi satu-satunya wakil Kalbar dengan capaian melebihi nilai passing grade dan berhak mengikuti OSN di Palu, pertengahan Mei 2015. 

Meski belum meraih hasil maksimal, Jacq tak berkecil hati. Dia kembali meraih kesempatan terbang ke Palembang, Sumatra Selatan. Dia terpilih mewakili Kalbar mengikuti ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Biologi, 15 Mei 2016.

Perawakan Jacq tinggi. Notasi bicaranya cepat. Padahal, saat masih kecil, gadis yang juga hobi melukis itu dikenal pendiam. Bakat kecerdasannya, sudah mulai tampak saat masih duduk di bangku SD. “Saya kelas 5 SD, sudah baca Buku Dasar Biologi Kuliahan,” kata Jacq mengenang. Sesekali matanya melirik ke arah ibunya, seolah memastikan kebenaranyan ingatannya. 

Semula, dia sama sekali tak memahami isi buku setebal 1.000 lembar itu. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, dia perlahan menguasai dan memahami buku rujukan untuk jenjang anak kuliah. 

“Dulu ndak nyantol sama sekali. Pusing bacanya, apalagi ada Bahasa Inggrisnya,” kata anak SMP yang bercita-cita ingin jadi dokter ini.

“Masih bocah ingusan, tapi belajar level SMA,” ujar Polina menimpali.

Sejak saat itu, Jacq menyukai sains, Biologi. Setiap sepekan sekali, dia selalu memborong bukan saja buku-buku yang berberbau Sains, tapi juga komik. Anak sulung dua bersaudara ini mengaku tidak tahu, kenapa bisa menyukai pelajaran Biologi. Ketika ditanya soal itu, jawabannya selalu mandek.

“Suka aja, menarik. Intinya suka. Sama seperti kita suka artis, tapi saat ditanya kenapa suka, susah untuk jelaskannya kan,” jawab Jacq, mengembalikan pertanyaan.

Sejak kecil, Jacq diajarkan disiplin, bahkan hingga sekarang. Soal nilai pelajaran misalnya, ketika hasil Raport satu mata pelajaran mendapatkan nilai 80, Polina (Ibu Jacq) akan menceramahinya. Akan tetapi, setelah bakat anaknya itu tampak, hal itu tidak berlaku lagi.

“Dulu iya, sering kena ceramah, harus dapat nilai 90. Mending tunjukin bakat secepatnya, biar ndak kena ceramah, itu baru aman ha..ha,” kata Jacq berkelakar. 

Tak ada resep khusus, agar bisa menjuarai dan mengikuti ajang kompetisi bergengsi pelajar dibidang Sains. Bagi Jacq, kuncinya hanya ada tiga: Kemauan, membaca dan latihan. “Motivasinya dari diri sendiri. Hobby baca buku, kadang juga searching artikel di internet, terus latihan,” ujarnya ringan. 

Jacq, sangat mengurangi pergaulan di luar rumah. Kumpul bersama rekannya, bisa dibilang jarang. Waktunya, banyak dihabiskan untuk membaca buku, dan literatur dari internet. Masa bermainnya juga, banyak dihabiskan dalam rumah. 

“Saya anak rumahan. Bergaulnya di dunia maya. Setiap pulang sekolah, menyempatkan belajar. Setidaknya dalam sehari, meluangkan waktu untuk membaca minimal dua jam. Setelah itu, berdiskusi dengan komunitas anak Sains di jejaring sosial,” sebutnya.

Waktu pelaksanaan OSN yang mepet dengan pelaksanaan ujian nasional SMP membuat Jacq lebih ekstra dalam belajar dan latihan. Jauh sebelum UN, dia sudah menyiasatinya untuk belajar terlebih dahulu. Sehingga, dalam beberapa hari ini, dia bisa fokus belajar, membaca dan latihan untuk menghadapi OSN. 

“Belajarnya dicicil. Ngeram telur baca buku di kamar,” katanya polos.

Semangat dan ketekunan Jacq, tak terlepas dari peran ibunya, Polina. Tidak setiap hari suasana hati Jacq bagus dalam belajar dan membaca. Terkadang juga ada masa dimana anaknya itu kurang mood. “Saya kasih semangat aja dan moles dia. Pernah juga saya ceramahi waktu dapat nilai 80. Tapi setelah masuk SMP dan bakatnya berkembang, saya terus pacu dia,” ungkap Polina.

Menurut dia, selain keinginan anak, orangtua juga paling utama dalam memotivasi, memperhatikan kondisi psikologi anak. Saat anaknya kurang semangat, orangtua hadir dengan memberi rangsangan. Seperti memberikan pemahaman dan menjelaskan prestasi penting untuk meraih sukses masa depan. 

“Harus tepat kasih rangsangan ke anak. Waktu dia mood-nya kurang, saya ajak keluar, ngobrol sambil makan. Hanya stabilkan mood-nya aja,” ungkpanya.

Meski dibilang jago dalam bidang Biologi, Jacq menaku takut dengan Matematika. Namun, dia tetap optimis, dengan giat belajar dia akan memberikan yang terbaik untuk bersaing di OSN nanti.

“Saya lambat hitung, teler sama Matematika. Tapi kalau fisika sama biologi, saya bisa. Hanya kurang telaten berhitung. Kadang saya takut hancur ekspektasi mama dan pembina. Tapi saya optimis dan akan giat belajar agar bisa memberikan yang terbaik,” ungkapnya.(*)

Berita Terkait