Kekuatan Pikiran dan Kesembuhan Pasien

Kekuatan Pikiran dan Kesembuhan Pasien

  Rabu, 26 Oktober 2016 09:13   976

Oleh: Y PRIYONO PASTI

DARI sejumlah riset dan pengalaman sejumlah dokter dalam mendiagnosis pasiennya, dua orang dengan diagnosis penyakit, tingkat keparahan, dan penanganan medis yang sama ternyata belum tentu menghasilkan output yang sama. Yang satu mungkin sembuh, sementara yang lain kondisinya mungkin memburuk, bahkan meninggal dunia.

Hal ini menurut Dr. Bernie Siegel, ahli bedah di New Haven, AS, dalam buku Love, Medicine, and Miracles (dalam Herdiana Hakim, 2006), disebabkan oleh adanya perbedaan kekuatan pikiran dan kemauan pasien yang dapat menjadi akar kesembuhannya dari penyakit. 

Dari pengalaman Siegel merawat pasien penderita kanker menunjukkan pasien yang sembuh adalah pasien yang memiliki pikiran positif dan optimisme tinggi, sedangkan yang kondisinya memburuk adalah pasien yang tak lagi memiliki semangat hidup untuk berjuang melawan penyakitnya.

Menurut dr. Carl Simonton, seorang onkolog dari AS, penyakit yang berbahaya merupakan respon terhadap keadaan putus asa, dan dialami oleh sel-sel secara biologis. Pendapat ini diperkuat Arnold A. Hutschenecker. Dalam bukunya “The Will to Live” (1951), Hutscheneker mengemukakan bahwa depresi adalah suatu penyerahan diri kepada kematian.

Menurut Hutscheneker, penyakit adalah ekspresi seseorang untuk menarik diri dari kekalutan-kekalutan dan tekanan-tekanan dalam hidup. Karena jiwa dan badan saling terikat tak terpisahkan, maka (sebenarnya) kita sendirilah yang memilih kapan saatnya sakit, jenis penyakitnya, jalannya penyakit, dan parahnya penyakit.

Ahli lain, Lawrence Le Shan seorang psikolog, dalam bukunya yang berjudul “You can fight for your life”, mengatakan bahwa para pasien kanker biasanya sudah merasa tertekan sebelum sakit, dan keadaan-keadaan psikologis juga turut menyebabkannya.

Sementara di sisi lain, Norman Cousin, dalam bukunya “Anatomy of an Illness”, melukiskan bagaimana seorang pasien akhirnya sembuh berkat vitamin C dan tertawa banyak, padahal penyakitnya cukup gawat. Substansinya adalah bahwa perasaan positif dapat menghilangkan sakit dan membantu penyembuhan.

Itulah sebabnya, dr. Carl Simonton dalam bukunya “A Step by Step, Self-Help Guide to Overcoming Cancer for Patients and their Families”, mengungkapkan bahwa orang yang sedang berbahagia dan memiliki pikiran yang positif ternyata lebih sulit ditembus oleh virus flu, sedangkan orang yang sedang stress dan mudah tertekan lebih gampang terkena flu.

Dari paparan di atas, pelajaran penting yang dapat kita petik adalah bahwa pikiran memainkan peranan penting dalam upaya menangkal dan menyembuhkan pasien dari penyakit yang dideritanya. Pikiran positif dan optimisme (hidup) yang tinggi, kekebalan tubuh yang terus meningkat, perjuangan melawan penyakit pun semakin kuat sehingga kesempatan pasien untuk sembuh semakin terbuka.

Dahsyatnya kekuatan pikiran ini, sesungguhnya sudah disadari sejak zaman Sebelum Masehi, betapa pikiran itu sangat mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Bapak kedokteran, Hippocrates dan filsuf terkenal Yunani, Plato, pernah berkata, “If the body is to be healthy, you must begin by curing the mind.”

Menurut Peter C. Kurniali dan Irianti Erningpraja, keduanya adalah praktisi kesehatan, pada saat emosi seseorang meningkat, organ-organ fisik akan memberi respon: jantung berdebar lebih cepat, otot-otot berkontraksi dan menegang, tekanan darah naik, dan wajah memerah. Sebaliknya, saat pikiran dalam keadaan tenang dan rileks, kondisi fisik pun akan merespon positif.

Menyadari betapa dahsyatnya kekuatan pikiran itu (termasuk dalam menangkal dan menyembuhkan pasien dari penyakit yang dideritanya-pen), hemat penulis menjadikan kekuatan berpikir positif sebagai cara pandang sekaligus gaya hidup sehingga kita selalu melatih kekuatan pikiran kita mutlak dilakukan.

Mengkristalisasikan  pendapat sejumlah ahli terkait penyembuhan suatu penyakit, pelibatan pasien dalam proses pengobatan, mempengaruhi sikap mental pasien terhadap penyakit yang dideritanya, mengajak pasien untuk membayangkan hasil-hasil (positif) dari proses pengobatannya, akan membantu mempercepat proses kesembuhan pasien dari penyakit yang dideritanya. 

Pasien dibimbing berkhayal untuk membayangkan seakan-akan sel-sel darah putihnya menyerbu sel-sel penyakit yang dideritanya dan menyingkirkannya dari tubuhnya melalui hati dan ginjal sebagaimana kita menyingkirkan musuh-musuh kita yang mati dari medan pertempuran. Pasien diminta untuk melakukan “imaging”, membayangkan bahwa penyakit yang dideritanya telah jauh berkurang dan kesehatannya kembali pulih.

Menurut Simonton, terapi psikologis (pikiran) agar pasien membebaskan diri dari tekanan, melepaskan diri dari emosi-emosi negatif yang memperparah kondisi penyakitnya mutlak dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan pasien. Karena itu melatih kekuatan pikiran adalah keharusan.

 Meminjam Peter dan Irianti E., ada tiga macam latihan kekuatan pikiran yang dapat kita lakukan agar tubuh berada dalam kondisi rileks, tetap bugar, dan jauh dari rupa-rupa penyakit, yaitu relaksasi, visualisasi, dan afirmasi.

Relaksasi tidak hanya diperlukan oleh tubuh kita tetapi juga pikiran kita. Dengan relaksasi kita menurunkan “level” pikiran ke alam bawah sadar sehingga gelombang otak mencapai frekuensi rendah (kondisi alfa) yang ideal untuk melakukan mind therapy.

Setiap kali melakukan relaksasi, hadirkan rasa aman, kegembiraan, tubuh yang sehat, tempat yang damai di pikiran kita. Rasakan dan bayangkan benar-benar keberadaan kita di sana. Saat pikiran berhasil mencapai level rileks, tubuh pun akan ikut rileks dan berada dalam keadaan positif sehingga sakit penyakit dapat dihindari. 

Visualisasi merupakan salah satu metode mind therapy dalam proses kesembuhan para pasien.  Pasien membayangkan tubuhnya dalam keadaan sehat. Pasien membayangkan sel-sel darah putih “berangkat” ke bagian tubuh yang sakit, kemudian membunuh bakteri-bakteri di tempat tersebut, dan sel-sel yang sudah rusak diganti oleh sel-sel baru. Dengan dibarengi keyakinan yang kuat, hal ini akan menghasilkan energi positif yang nantinya akan terwujud pada kesembuhan fisik.

Donald J. Walter, penulis buku Affirmation for Self Healing, menjadi bukti nyata bahwa teknik afirmasi ampuh membantu kesembuhannya dari kanker otak. Begitu juga Lance Amstrong, juara balap sepeda Tour de France, yang menggunakan teknik afirmasi untuk menaklukkan kanker prostat yang dideritanya sejak umur 25.

Dalam melakukan afirmasi, susunlah terlebih dahulu kalimat afirmasi yang akan digunakan. Gunakan “saya” dan kalimat positif, tanpa kata “jangan” atau “tidak”. Misalnya: “Saya bertambah pulih setiap hari”. “Saya dapat mengatasi penyakit saya”. “Saya sehat dan kuat”.

Afirmasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, terutama di pagi hari ketika bangun tidur dan malam hari menjelang tidur.

Dari pengalaman, para pasien yang sembuh dari penyakitnya (selain obat medis) adalah mereka yang punya pikiran positif dan optimisme yang tinggi. Saat pikiran dalam keadaan positif, kekebalan tubuh meningkat. Karena itu, membayangkan hal-hal positif untuk mempercepat proses penyembuhan pasien dari penyakit yang dideritanya dapat menjadi alternatif yang perlu dilakukan. 

*) Seorang Pendidik Alumnus USD Yogyakarta Humas SMP Santo F. Asisi                                                                                                                Tinggal di Kota Pontianak