Kekuatan Pembelajaran Mendongeng

Kekuatan Pembelajaran Mendongeng

  Rabu, 30 March 2016 09:56   1

Oleh: Sri Nur Aeni

SAYA agak terkejut sekaligus senang ketika browsing cerita anak di internet, menemukan cerita rakyat dari negara  Jepang berjudul Chin-Chin Kobakama. Cerita ini saya kenal baik sewaktu sekolah dasar dulu dari dongeng ibu guru wali kelas yang sangat memikat. Ketika kelas IV SD dulu, setiap menjelang pulang sekolah, Bu Fat, begitu kami memanggil beliau, selalu mengakhiri pembelajaran dengan mendongeng. Dongengannya selalu berganti-ganti. Kalau tidak selesai, maka akan dilanjutkan besok siang lagi. Karena itu kami selalu bersemangat masuk sekolah, dan menunggu-nunggu kelanjutan ceritanya.

Alangkah lucu suasana saat itu. Jika ceritanya begitu sedih, maka kami terutama yang perempuan sampai berurai air mata ikut hanyut oleh kesedihan yang dialami para tokoh cerita. Biasanya anak laki-laki langsung mengolok-olok yang menangis itu, kemudian disambut mereka dengan malu-malu. Jika ceritanya menakutkan kami pun menelungkupkan muka ke meja atau menutup dengan tangan. Kalau lucu, kami pun akan tertawa tergelak-gelak. Betapa memikatnya Bu Fat mendongeng. Dan alangkah ajaib laci-laci ingatan saya menyimpan rapi cerita dan peristiwa berkesan itu hingga rentang waktu puluhan tahun lamanya.

Cerita Chin-Chin Kobakama sebenarnya  mengisahkan tentang seorang istri pedagang yang kaya raya namun sangat pemalas. Begitu malasnya, untuk membuang tusuk gigi bekas pakainya saja dia enggan. Tusuk-tusuk gigi itu berserakan di dalam kamarnya. Hingga suatu malam secara berturut-turut dia diganggu oleh kawanan manusia kerdil yang membawa pedang sepanjang lima sentimeter. Manusia-manusia kerdil itu menari-nari sambil meneriakkan kata,” Kami Chin-Chin Kobakama. Kami Chin-Chin Kobakama. Malam sudah larut, tidurlah tuan putri.” Hal itu membuat  si istri tidak bisa tidur semalaman. Baru ketika menjelang pagi, dia bisa tertidur. Itu juga karena manusia-manusia kerdil itu telah menghilang.

Begitulah kejadian itu berulangkali setiap malam hingga istri pedagang itu merasa sangat terganggu. Sampai akhirnya, suatu malam suaminya berhasil mengusir manusia-manusia kerdil itu, dan pedang-pedang sepanjang lima senti itu berubah menjadi tusuk gigi. Itulah tusuk gigi bekas pakai sang istri yang dibuang sembarangan. Manusia-manusia itu adalah hantu yang tidak suka kotor.

Namun, di dalam imajinasi Bu Fat, cerita rakyat dari negara Jepang itu menjadi berbeda. Seingat saya, Chin-Chin Kobakama bukan nyanyian hantu yang membawa pedang sepanjang lima senti, melainkan merupakan suara tangis hantu-hantu kecil jelmaan dari butir-butir nasi. Dikisahkan seorang putri di sebuah kerajaan yang malas makan dan selalu menyisakan nasi-nasi di piringnya. Nasi-nasi itu kemudian dibuangnya begitu saja. Nasi-nasi itu kemudian menjelma hantu-hantu mungil yang selalu menangis. Tangisannya berbunyi chin-chin kobakama, yang menurut Bu Fat, berarti jangan buang aku, jangan buang aku.

Saya menjadi terkesan oleh pengubahan cerita itu oleh guru kami. Beliau bisa menyesuaikan isi cerita dengan imajinasi siswa kelas IV. Tentu pada waktu itu kami tidak akan paham  jika hantu-hantu itu adalah  jelmaan tusuk gigi. Tusuk gigi bukan suatu yang populer bagi anak-anak umur 9 tahun. Padanan yang lebih efektif adalah butir nasi. Hingga saat ini dongeng itu masih membekas di benak saya; jika makan nasi masih tersisa, maka  nasi-nasi itu akan menangis sedih karena disia-siakan. Hal itu juga yang sering saya katakan kepada anak saya, kalau makan nasinya tidak habis, maka nasi-nasi itu akan menangis sedih.

Masih tentang kehebatan dongeng, cobalah kita cermati satu bagian adegan dari film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Andre Hirata.  Ketika anak-anak asyik bermain di lapangan, mereka  sangat sulit untuk dipanggil masuk kembali ke dalam kelas untuk belajar. Teriakan Ibu Guru dan ketua kelas seolah hembusan angin saja. Akhirnya kepala sekolah yang harus turun tangan. Uniknya dengan satu kalimat panggilan,”Siapa yang mau mendengar lanjutan cerita Nabi Nuh?”  Ajaib. Anak-anak itu teralihkan perhatiannya kepada panggilan yang memikat itu. Tanpa dikomando mereka berlari masuk kelas.

Seperti itulah yang seringkali digunakan oleh bapak saya dulu jika menyuruh anak-anaknya untuk tidur malam.  Saya enam bersaudara dengan jarak umur yang rata-rata hanya dua tahun. Betapa ributnya kami pada masa itu. Apalagi kedua adik laki-laki yang tak berhenti membuat keributan. Jika sampai pukul sembilan malam kami masih saja belum masuk kamar, maka bapak masuk lebih dulu sambil berbaring dengan seruan yang memikat (dalam bahasa Jawa),” Zaman disek aaaaa....,” yang artinya pada zaman dahulu kala. Nah, pada saat itu, apapun yang sedang kami pegang atau lakukan, langsung saja ditinggalkan. Kami akan mengerubuti bapak mendongeng tentang apa saja sampai kami tertidur.

Mendongeng merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif dan menjadi bagian dari  keterampilan berbicara. Mendongeng merupakan kegiatan pengembangan keterampilan seni. Mendongeng adalah menceritakan dongeng yaitu cerita yang tidak benar-benar terjadi, terutama tentang kisah zaman dulu. Biasanya di dalam dongeng terkandung nasihat yang baik dan mendidik bagi anak-anak. 

Tidak harus jadi profesional untuk mendongeng, hanya diperlukan beberapa cara agar kegiatan mendongeng jadi menyenangkan. Pilih dongeng yang baik. Isi dongeng menjadi faktor penting yang menentukan  menarik atau tidaknya suatu dongeng. Selain itu, tema yang baik juga sangat berguna bagi perkembangan  kepribadian anak kelak. Dongeng   yang bertemakan semangat perjuangan, kedamaian, kelembutan, religius, serta nilai-nilai lain yang positif  dapat mengundang inspirasi dan imajinasi anak. Hindari cerita-cerita yang mengandung kekerasan, iri hati, dendam, dan asusila. Meskipun demikian, dimungkinkan anak akan mengajukan pertanyaan yang membuat kita kerepotan dalam memberi jawaban. Misalnya, pertanyaan adik saya dulu pada bapak saya,”Pak, Batman kalau diadu dengan Superman, menang siapa?” Untung bapak saya punya jawaban bijaksana,”Lho, podo-podo lakon (sama-sama pahlawan, hero) ya  tidak pernah berkelahi. Nanti kalau berkelahi langitnya bisa pecah, karena mereka sama-sama sakti.” Dan anehnya, waktu itu kami terima saja jawaban bapak dengan baik.

Karakter dan sifat dari masing-masing tokoh dalam sebuah dongeng harus dikenali dengan baik.  Jika cerita dalam dongeng itu harus mengalami improvisasi, tokoh-tokohnya tidak mengalami perubahan karakter. Ciptakan suasana yang tepat, di mana anak berada dalam kondisi sadar dan senang saat kita mendongeng. Namun, hindari suasana formal, karena akan membuat kondisi kaku dan tidak menyenangkan. Hindari juga suasana bising selama mendongeng, sebaliknya buatlah suasana tenang dan hening.

Teknik vokal dan intonasi yang baik diperlukan dalam membangun sebuah dongeng yang sedang disampaikan. Cara yang lebih mudah adalah dengan memperkecil atau mempermudah suara dengan disertai gerak tubuh sesuai dengan tokoh dalam cerita dongeng yang sedang dibawakan. Pada suasana ini, biasanya anak akan merasa senang dengan menunjukkan respon tertawa. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa anak sudah masuk  ke dalam dunia dongeng yang kita ciptakan. Jangan lupa lakukan kontak mata untuk memperkuat imajinasi mereka.

Teknik mendongeng yang praktis tersebut bisa disampaikan kepada siswa, khususnya kelas VII, karena di semester pertama mereka belajar tentang bercerita (mendongeng), yaitu: (1) menemukan hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan , (2) menunjukkan relevansi isi dongeng  yang diperdengarkan dengan situasi sekarang, (3) bercerita de­ngan urutan yang baik, sua­ra, lafal, intonasi, ges­tur, dan mi­mik yang te­pat, dan (4) bercerita dengan alat peraga.

Bagi para siswa yang tidak terbiasa mendengarkan dongeng dari orang tua di rumah atau guru ketika di sekolah dasar, maka kegiatan pembelajaran mendongeng atau bercerita ini menjadi tidak menarik, membosankan, bahkan menjadi beban ketika mereka mendapat tugas untuk mendongeng di depan teman-temannya dalam kelas. Sedangkan mereka yang pernah atau sering mendapat pengalaman langsung dari kegiatan mendongeng ini terlihat antusias dan kreatif membuat alat peraga untuk bercerita.

Manfaat mendongeng dan mendengarkan dongeng sangat besar dalam peningkatan keterampilan berbahasa. Keterampilan berbicara anak (siswa) akan meningkat,  karena mereka akan mengenal banyak kosa kata dan struktur kalimat yang bervariasi. Anak juga terlatih untuk terampil berpikir dalam memecahkan masalah (problem solving) yang ditemui di dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dimungkinkan di saat masalah tersebut dialami secara langsung. Tema-tema positif yang menanamkan nilai-nilai moral membantu mengembangkan emosi yang positif juga. Selain itu, anak akan mengenal budaya lain secara luas dengan mengenalkan ide-ide baru, yang pada akhirnya merangsang imajinasi dan kreativitas mereka. 

Ternyata dongeng memang memiliki kekuatan yang positif bagi perkembangan anak. Jika demikian, Bapak dan Ibu Guru serta para orangtua, jangan abaikan kekuatan dongeng bagi putra-putri dan siswa di sekolah. 

*) Pendidik di SMPN 1 Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat