Kekerasan Seksual dan Psikologis Anak

Kekerasan Seksual dan Psikologis Anak

  Senin, 21 March 2016 09:38   921

KEKERASAN seksual pada anak merebak di sejumlah wilayah di tanah air. Setelah kasus JIS, mengemuka kasus Emon di Sukabumi, dan sejumlah tempat lainnya. Peristiwa tewasnya bocah 9 tahun ditemukan di dalam kardus di Kalideres, Jakarta Barat, menambah daftar panjang kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Selama 2015, korban kasus pelecehan seksual didominasi anak. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, sejak Januari hingga Agustus 2015, setidaknya ada 1.726 kasus melibatkan anak-anak, dan 58 persen di antaranya merupakan perkara pelecehan seksual. Ini berarti, ada sekitar 1000 kasus yang menimpa anak dari Januari hingga Agustus 2015 adalah kasus kekerasan seksual.

Di Kalimantan Barat sendiri, kekerasan seksual terhadap anak cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Data pengaduan yang diterima KPAID Kalbar membuktikan hal itu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua KPAID Kalbar, Alik R. Rosyad, secara akumulasi, di tahun 2011 tercatat 39 pengaduan kasus, tahun 2012 terdapat 55 pengaduan kasus, tahun 2013 terdapat 56 pengaduan kasus, tahun 2014 tercatat 83 kasus, dan tahun 2015 hingga Oktober sudah mencapai 83 pengaduan kasus (tribunpontianak.co.id, 22/10/2015).

Mencermati data faktual yang ada, situasi kejahatan seksual terhadap anak sudah sangat darurat. Celakanya, predator yang melakukannya adalah orang-orang yang dekat dengan korban. Sebagaimana yang dicatat oleh Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN), khusus pada 2015, kasus-kasus pencabulan/persetubuhan di Kalimantan Barat yang dilakukan terhadap anak di bawah umur kebanyakan pelakunya adalah orang terdekat bagian dari keluarga korban, yaitu orangtua, kakek, paman, dan saudara sendiri (Rakyat Kalbar, 12/10/2015).

Apa yang mendorong terjadinya perilaku seksual menyimpang ini? Bagaimana dampak psikologis anak yang menjadi korban kekerasan seksual biadab itu? Bagaimana upaya memutus kekerasan seksual pada anak-anak kita, generasi peradaban negeri ini? Tulisan ini mengupasnya.

Psikolog besar Amerika, William James meyakini bahwa sesungguhnya manusia memiliki naluri-naluri yang dimiliki hewan plus naluri-naluri yang khas manusia. Dengan adanya naluri-naluri hewan tersebut, manusia bisa mengungkapkan tingkah laku yang biasa dilakukan oleh hewan. Bahkan perilaku tersebut bisa lebih intens dan sistematis dibandingkan hewan. Menurut James, manusia adalah pemangsa paling hebat yang mampu memangsa sesamanya secara sistematis.

Naluri (maaf) hewan yang tak bisa diatasi itulah yang menyebabkan predator-predator seks tega berbuat bejat terhadap anak-anak. Padahal perbuatan terkutuk tersebut tidak hanya melukai hati (batin) anak-anak),  tetapi juga seisi keluarga, keluarga besar, bahkan masyarakat.

Luka Batin

Anak-anak malang yang mendapat perlakuan biadab tersebut akan mengalami luka batin akut dan fisik yang paling buruk. Kekejaman seksual yang mereka alami, bagaimanapun, akan membawa pengaruh buruk terhadap perkembangan psikologis dan fisik anak-anak tersebut, khususnya pada saat mereka berkeluarga. Itulah sebabnya, David Field dalam bukunya Family Personalities mengingatkan, anak yang menderita kekejaman seksual cenderung mengalami kesulitan seksual setelah dewasa.

Tak hanya sampai di situ, sejumlah referensi mengungkapkan pengalaman seksual yang buruk dalam keluarga akan membuat mereka ingin ‘balas dendam’. Aspek kekejaman seksual bisa menimbulkan trauma yang mendalam pada si korban dan merasakannya sebagai ‘hukuman’ bila ia tidak bisa menceritakan pengalaman getirnya atau berbuat sesuatu karena pengalaman tersebut. Menurut Field, biasanya mereka akan dibayangi oleh kekejaman-kekejaman sehingga menimbulkan mimpi-mimpi buruk dalam hidupnya.

Penulis yakin betul, anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual mengalami betapa hancur perasaan dan betapa kelam hidup mereka. Tak hanya siksaan badan, mereka pun akan mengalami tekanan batin seumur hidup bahkan menjadi manusia terluka sepanjang hidupnya.

Mengingat betapa parah dampak kekerasan/kejahatan seksual terhadap perkembangan psikologis anak yang menjadi korban, penanganan khusus yang komprehensif-holistik-manusiawi menjadi tuntutan, tidak saja bagi anak-anak malang yang menjadi korban tetapi juga bagi si pelaku yang mengidap penyakit psikoseksual (menyimpang).

Di antara sejumlah solusi, penguatan nilai-nilai iman (agama) diyakini bisa memberi andil terhadap sikap tobat orang-orang yang perilaku seksualnya menyimpang. Psikolog-psikolog besar macam Carl Gustav Jung dan Erich Fromm meyakini hal itu. Mereka meyakini ada hubungan yang sangat positif antara agama dan kesehatan jiwa manusia.

Menurut ahli etika Dr. K. Bertens dalam Maria Etty (2004), penderita gangguan jiwa yang berat-termasuk mereka yang mempunyai kelainan seksual (bahkan korban tindakan seksual)-pada hakikatnya adalah manusia-manusia terluka yang tetap dicintai Tuhan (dan harusnya juga sesama).

 Oleh sebab itu, mereka perlu dikasihani. Kutukan, disingkirkan, dan bahkan dikebiri belum tentu menjadi solusi arif. Lebih dari itu, mereka harus ‘dimanusiakan’ agar perilaku durjana tak lagi terjadi pada anak-anak generasi peradaban negeri ini. Semoga!

* Penulis Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP santo F Asisi, Tinggal di Kota Pontianak

 

 

 

 

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.