Kejar Eliminasi Campak 2020

Kejar Eliminasi Campak 2020

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30
BERI VITAMIN : Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek memberikan kapsul vitamin A dan obat cacing kepada salah satu anak saat acara Pencanangan Crash Program Campak Terintegrasi Bulan Pemberian Kapsul Vitamin dan Obat Cacing di Pontianak Convention Center, Kamis (4/8). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengatakan, Indonesia berkomitmen mencapai eliminasi campak di tahun 2020. Untuk pencapaian itu, dirinya menilai diperlukannya upaya guna meningkatkan status kekebalan pada kelompok rentan dan meningkatkan kekebalan masyarakat.

“Tujuan imunisasi dapat terwujud jika cakupan imunisasi tinggi dan merata. Butuh dukungan dan peran semua pihak guna mewujudkanya,” pinta Nila Farid saat hadir dalam acara Pencanangan Nasional Crash Program Campak Terintegrasi Bulan Pemberian Kapsul Vitamin A dan Obat Cacing di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (4/8).

Sementara itu kegiatan ini juga berjalan di 83 kabupaten kota lainnya di Indonesia. Daerah yang ikut merupakan daerah yang berisiko tinggi campak. Kegiatan dihadiri jajaran Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah termasuk Dinas Kesehatan baik Provinsi maupun Kota Pontianak, serta para ibu yang membawa anaknya untuk melaksanakan crash program campak. 

Nila Farid mengingatkan seluruh kabupaten/kota yang melaksanakan Crash Program Campak bisa melaksanakan pemberian kapsul Vitamin A secara bersamaan. Sedangkan di daerah yang tidak melaksanakan Crash Program Campak, hendaknya dilakukan integrasi antara pemberian Vitamin A dengan pemberian obat cacing. 

Dijelaskananya, ini merupakan kegiatan pemberian imunisasi campak tambahan kepada anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa memperhatikan status imunisasi campak sebelumnya. Dengan demikian kekebalan masyarakat di daerah tersebut akan meningkat sehingga dapat menurunkan kejadian penyakit campak.

Menurutnya imunisasi merupakan sebagai program yang paling efektif dalam pembangunan kesehatan. Utamanya untuk mencegah kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I). 

“Tujuan imunisasi dapat terwujud jika cakupan imunisasi tinggi dan merata,” jelasnya.

Sementara itu, di bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya disebut sebagai bulan pemberian kapsul vitamin A. Pada bulan itu dilakukan pembagian suplementasi vitamin A pada anak dengan kelompok umur 6 sampai 59 bulan di seluruh Indonesia.

Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kecukupan asupan vitamin A pada balita. Saat ini, cakupan pemberian vitamin A secara nasionai belum mencapai 80 persen.

Terdapat dua jenis kapsul vitamin A, yakni kapsul biru (dosis 100.000 lU) untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul merah (dosis 200.000 lU) untuk anak umur 12-59 bulan. Kapsul merah juga diberikan kepada ibu yang dalam masa nifas.

Pemerintah menyediakan kapsul vitamin A itu agar masyarakat dapat memanfaatkannya tanpa dipungut biaya. Perlu diketahui kekurangan vitamin A dalam tubuh yang berlangsung lama dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berdampak pada meningkatnya risiko kesakitan dan kematian pada balita.

Vitamin A atau retinol terlibat dalam pembentukan produksi, dan pertumbuhan sel darah  merah, sel limfosit, antibodi juga integritas sel epitel pelapis tubuh.

Vitamin A juga dapat mencegah rabun senja, xeroftalmia, kerusakan kornea dan kebutaan serta mencegah anemia pada ibu nifas. Kekurangan vitamin A dapat meningkatkan risiko anak rentan terkena penyakit infeksi seperti infeksi saluran pernafasan atas, campak dan diare.

Pemberian vitamin A pada balita dilakukan sejak 1978 dengan tujuan awal mencegah anak dari kebutaan. Dewasa ini, pemberian suplementasi vitamin A pada balita diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dari penyakit. 

“Asupan sumber vitamin A pada anak perlu ditambah dan dicukupi karena asupan vitamin A dari sumber sayuran dan buah-buahan sehari-hari belum memadai,” tambah Nila Farid.

Pemberian vitamin A juga dibarengi dengan pemberian obat cacing agar penyerapan zat gizi pada balita sempurna sehingga bisa meningkatkan status gizi masyarakat.

Kecacingan pada anak akan menimbulkan masalah kesehatan berupa kekurangan gizi yang bersifat kronis yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada balita.

Karena itu, penanggulangannya yaitu dengan pemberian obat cacing bagi balita, anak pra sekolah dan usia sekolah. Tahun 2015 lalu, sebanyak 18,1 juta anak telah mendapatkan obat cacing.

Tahun 2016, pemberian obat cacing diberikan pada anak usia 12 sampai 59 bulan. Pemberian obat cacing dilakukan di 295 Kabupaten/Kota di 32 Provinsi kepada kelompok 12 bulan sampai dengan 59 bulan.

Karena itu dia mengingatkan jika kesehatan anak adalah bagian penting dari pembangunan nasional. Sebab, masa depan negara ditentukan oleh generasi bangsa yang harus senantiasa terjaga kesehatannya baik fisik, mental maupun sosial. (mse/ser)

Berita Terkait