Keikhlasan Guru Ngaji di Pedesaan

Keikhlasan Guru Ngaji di Pedesaan

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:16   557

Oleh: Darmawansyah

SEBAIK-baik manusia, adalah mereka yang belajar Alquran dan mengajarkannya (Hr. Bukhari). Hadist diatas menjelaskan bahwa ada dua tipe golongan manusia yang oleh Allah dimasukkan ke dalam golongan sebaik-baiknya manusia. Golongan pertama yaitu mereka yang belajar Alqur’an. Sedangkan golongan yang kedua adalah mereka yang mengajarkannya. Mengajarkan Alquran hukumnya fardhu kifayah yang artinya merupakan kewajiban yang mengikat dalam suatu komunitas, pedesaan, atau dalam suatu wilayah tertentu yang apabila di dalam suatu komunitas, pedesaan, atau dalam lingkup kewilayahan tersebut ada satu orang yang telah melaksanakan kewajiban tersebut yang artinya jika ada satu orang pengajar ngaji saja disana, maka kewajiban tersebut menjadi gugur. Sebaliknya jika kewajiban tersebut tidak ada yang menjalankannya maka dosapun ditanggung semua.

Ada fenomena  yang menarik untuk dibahas akan sosok tenaga pendidik yang mengajarkan Alquran atau yang lebih umum dikenal sebagai guru ngaji di pedesaan. Seakan menjadi kewajiban yang tertanam dalam diri setiap warga pedesaan untuk mempelajari ilmu agama, khususnya mengaji hingga tak heran hal tersebut memacu akan banyaknya bibit-bibit yang kelak akan mampu menjadi guru ngaji disana. Untuk satu RT saja setidaknya ada satu hingga dua guru ngaji. Sebuah  fenomena menarik atas peran serta mereka sebagai tenaga pendidik yang mengajarkan Alquran. Seakan menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi, setiap guru ngaji di pedesaan tidak pernah meminta upah untuk setiap murid yang diajarnya.. Imbalan diberikan hanya jika keluarga anak didik memiliki rejeki berlebih. Jika tidak, sekedar rajin datang mengaji saja telah membuat hati si guru senang.

Fenomena Ketulusan hati guru ngaji pedesaan  ini sepatutnya dijadikan teladan bagi setiap tenaga pendidik di tanah air ini. Tak terbatas untuk guru ngaji saja tapi untuk semua guru yang ada. Fenomena ini mengajarkan bahwa mengajar yang merupakan proses transfer ilmu harus dilandasi oleh sikap ikhlas hati bukan atas dasar atas pengharapan materi sebab kalau bicara soal materi sejatinya rezeki sudah ada yang mengatur. 

Umum kita jumpai tenaga pendidik kita yang enggan menjadi guru honor disebabkan bayaran yang sedikit dan umum juga kita jumpai tenaga-tenaga pendidik kita yang enggan mengajar di daerah pedalaman dengan alasan keterbatasan sarana dan fasilitas. Menjadi PNS serta mendapatkan tugas diperkotaan yang dengan segala kemudahan sarana prasarana merupakan hal yang diperebutkan tenaga pendidik kita. Gaji yang lumayan besar saja tidak cukup jika tugasnya dipelosok pedesaan. Hal ini mengindikasikan akan sikap materialistik pada setiap diri tenaga pendidik kita. Jangankan menjadi guru ngaji pedesaan yang diupah seikhlasnya atau bahkan tidak diupah, digaji besarpun masih tidak disyukuri mereka jika tempat tugasnya di pedalaman pedesaan.

Uang sejatinya memang menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari siklus kehidupan sosial yang cenderung materialistik, yang segalanya harus dengan uang. Namun uang bukanlah menjadi acuan setiap tenaga pendidik untuk mengajar. Mengabdi untuk masyarakat yang merupakan tri darma perguruan tinggi sepatutnya ditanamkan didalam setiap diri tenaga pendidik kita. Karena mengajar sejatinya merupakan bentuk pengabdian. Masalah upah, gaji, dan sejenisnya merupakan prioritas belakangan sebab yakinlah masalah rezeki sudah terporsi sendiri di lauhil mahfuzh sana. Uang melimpah namun tanpa berkah hakikatnya tidak akan berarti apa-apa. Sebab jika ada banyak uangpun, jika penyakit Allah datangkan silih berganti, musibah yang tiada henti, maka uang berlimpahpun tak akan berarti.     Fenomena ketulusan hati  guru ngaji pedesaan merupakan teladan mulia yang patut ditiru. Sebuah tradisi keikhlasan yang turun secara turun temurun. Sebuah proses menggapai ridho dan berkah Ilahi.  Sebab hidup ini hanya butuh keberkahan dari setiap materi yang didapatkan. Tak terhitung ganjaran akhirat yang didapatkan ketika pengabdian dibalut dengan keikhlasan seperti halnya yang kelak akan didapat oleh guru ngaji pedesaan dengan upah seadanya.**

*) Pemerhati masalah keagamaan