Kegigihan Pejuang Sanitasi di Biak Numfor Mengubah Tradisi Tidak Sehat

Kegigihan Pejuang Sanitasi di Biak Numfor Mengubah Tradisi Tidak Sehat

  Minggu, 29 November 2015 08:38
LUSIA/JAWA POS

Berita Terkait

Demi mendorong pemasalan sanitasi sehat, Marthina Awak Komboi menjelajah belasan kampung dengan berjalan kaki. Sementara itu, Ruben Brabar rela menjual jamban produksinya separo harga atau bahkan memberikannya secara gratis.

 LUSIA ARUMINGTYAS, Biak

 NIATNYA sebenarnya hanya lewat, tak hendak mampir. Tetapi, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan keluarlah sang pemilik sembari membawa segunung kemarahan.

“Mama, ini program jamban bagaimana? Jangan lagi mama yang ke sini, yang lain saja,” damprat pria pemilik rumah di Kampung Komboi, Distrik (Kecamatan) Warsa, Kabupaten Biak Numfor, Papua, itu kepada Marthina Awak Komboi.

 Dampratan seperti itu tak hanya sekali atau dua kali dialami perempuan yang akrab disapa Mama Marthina tersebut. Di awal aktivitasnya sebagai pejuang sanitasi di Distrik Warsa pada 2011, berkali-kali guru di SD Inpres Komboi itu menghadapi sinisme, kemarahan, bahkan ancaman.

 Bahkan, pernah sekali dia kena pukul. “Tapi, sepertinya tidak sengaja. Itu bukan masalah untuk mama,” tuturnya ketika pertama bertemu Koran ini di sela workshop Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang diadakan Unicef dan Pemerintah Provinsi Papua di Biak (17/11).

 Maklum, yang dihadapi Marthina adalah kebiasaan yang sudah mentradisi sekian lama. Papua adalah provinsi dengan kondisi sanitasi paling buruk di Indonesia. Berdasar Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) 2013 yang diadakan Badan Pusat Statistik, tingkat cakupan sanitasi di Papua paling rendah, hanya 29,74 persen.

 Parahnya, menurut laporan Levels and Trends in Child Mortality oleh UN Inter-Agency Group for Child Mortality Estimation, Indonesia tercatat sebagai negara dengan angka BABS terbesar kedua di dunia. Yakni, 51 juta orang atau seperlima dari total populasi.

 Jadi, bisa dibayangkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi Marthina. Dia mesti mematahkan anggapan yang memandang sanitasi sehat itu bertentangan dengan kultur setempat.

 Tetapi, tak sekali pun semangat Marthina kendur. Buntutnya, setahun setelah dia berjuang, Komboi menjadi kampung pertama yang mendeklarasikan STBM di Biak Numfor. Tiap rumah di sana sudah dilengkapi jamban, sesederhana apa pun itu.

 Ada yang model cemplung, ada pula yang leher angsa. Sesederhana apa pun itu, Marthina sangat bangga. “Tapi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan,” kata perempuan 47 tahun tersebut merendah dalam percakapan berikutnya di Pantai Komboi (18/11).

 Perjuangan Marthina memang diawali rasa keprihatinan terhadap kondisi kampung tempat dia tinggal, Komboi. Warga di sana secara sembarangan buang apuy (tahi) di kebun atau sungai. Padahal, air sungai itu juga dimanfaatkan untuk mandi, masak, dan minum.

“Teriris hati saya melihat itu,”ungkapnya dengan emosional.

 Sejak itulah, Marthina berupaya mencari cara dan strategi untuk memajukan desanya. Dia pun lantas belajar ke Yayasan Rumsram di Biak, ibu kota Biak Numfor, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Komboi untuk tahu apa itu STBM. Juga, tentang apa itu lima pilar dan bagaimana mengajak masyarakat turut ambil bagian.

 

 Dari sanalah dia tahu cara membuat jamban sederhana. Dia juga jadi tahu yang dimaksud lima pilar STBM adalah stop BABS, cuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAM RT), pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

 Kebetulan, sejak 2 Maret 2011, di Komboi mulai diadakan program STBM yang dimotori Unicef, Simavi, dan Wahana Visi Indonesia. Marthina pun mendapatkan dukungan penuh dari Unicef.

 Untuk memberikan contoh, Marthina memulai dengan membangun jamban di rumahnya dulu. Sesudah itu, dia mulai mendatangi rumah demi rumah di kampungnya. Tugasnya kemudian meluas ke 14 kampung di Distrik Warsa. Semua dijalaninya sembari berjalan kaki, tanpa sepeser pun bayaran.

“Tapi, tetap saja ada yang sinis mengira apa yang mama lakukan ini ada uangnya. Mereka (warga yang dibina, Red) sering menanyakan itu,”ceritanya.

 Seiring tumbuhnya kesadaran di Komboi, dia pun mendapatkan tambahan tenaga dari 14 relawan dari kampung tersebut yang terinspirasi perjuangannya. Tak hanya memberikan pemahaman, para relawan tersebut gotong royong mempersiapkan sarana dan prasarana untuk membangun lima pilar STBM.

 Biasanya, para relawan menyiapkan material untuk pembuatan jamban dari bahan-bahan di setiap kampung atau bahan daur ulang. Misalnya, bambu, slang untuk membuat lubang, atau tempat bekas menampung minyak tanah.

 Selain Marthina, ada sosok pejuang sanitasi dalam bentuk lain seperti Ruben Brabar. Warga Kampung Kormon di distrik yang sama, Warsa, itu dikenal sebagai perajin jamban model leher angsa.

 Meski pengusaha, misi sosial Ruben sangat besar. Demi turut menciptakan lingkungan sehat, dia rela menjual jamban produksinya dengan harga separo atau bahkan memberikannya secara cuma-cuma.

 Per pekan, dari ruang berukuran 4 x 5 meter di samping rumahnya, dia bisa menghasilkan 15 jamban leher angsa. Bahan yang digunakan Ruben adalah semen putih, pasir, dan kalsium. Untuk melakukan finishing, dia dibantu seorang tenaga sukarela.

“Dia datang sendiri, tanpa saya suruh dan saya tidak bayar. Dia melakukan ampelas setelah mengering,”tuturnya.

 Jamban produksi Ruben dibanderol Rp 100 ribu per unit. Namun, pria 63 tahun itu sadar, tidak semua warga sekitarnya berkemampuan secara ekonomi. “Paling rendah saya beri harga 50 ribu, tapi kadang saya beri gratis,” ceritanya.

 Sudah delapan jamban dia berikan secara gratis kepada warga sekitar. Dia mengaku memang tak terlalu menghitung untung dan rugi dari usaha yang dirintis pada 2014 itu. “Yang terpenting, demi STBM, Papua harus bebas dari penyakit,”jelasnya.

 Kebiasaan buang apuy sembarangan memang erat kaitannya dengan tingginya tingkat kematian balita. Setiap jam, 15-22 anak meninggal di Indonesia karena diare dan pneumonia yang sebenarnya bisa dicegah dengan sanitasi yang baik.

 Kini pesanan ke Ruben tidak hanya datang dari Biak, pulau terbesar di Biak Numfor. Dia mengaku sering menyuplai jamban hingga ke Numfor, pulau terbesar kedua, dan Supiori, kota yang sejak Desember 2003 memisahkan diri dari Kabupaten Biak Numfor.

  Sejak pertengahan 2014, total sekitar 900 jamban telah dia produksi. Sebanyak 250 di antaranya sudah dikirim ke luar Biak. Bulan depan dia pergi ke Nabire dan Wamena untuk mengajarkan pembuatan jamban tersebut. “Saya rela melakukan semua ini untuk kesehatan generasi Papua mendatang,” katanya.

 Kontribusi Marthina, Ruben, dan para relawan terbukti turut menggenjot kondisi sanitasi di Biak Numfor. Data Susenas 2014 menunjukkan, di kabupaten yang terdiri atas dua pulau besar serta 42 pulau kecil lainnya tersebut, cakupan sanitasinya sudah mencapai 94,6 persen. Itu terbaik kedua se-Provinsi Papua, yang pertama adalah Jayapura.  (*/c10/ttg)

Berita Terkait