Kecerdasan Bertanya

Kecerdasan Bertanya

Senin, 20 June 2016 09:42   1

KECERDASAN bertanya adalah penting karena pertanyaan adalah jawabannya. Jalaluddin Rumi (2016) dalam kitabnya “Fihi Ma Fihi” menegaskan bahwa “Tidak menjawab adalah sebuah jawaban, dan jawaban untuk orang tolol adalah diam”. 

Pepatah lama, “Barang siapa tidak mampu bertanya, tidak mampu hidup”, dengan kata lain, “Mutu pertanyaan menciptakan mutu hidup”.

Albert Einstein menambahkan, “Sesuatu yang penting adalah jangan berhenti bertanya, dan jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu”. Dan seluruh kemajuan manusia didahului pertanyaan-pertanyaan baru, jawaban baru datang dari pertanyaan baru, dikutip dari Anthony Robbins (2015) dalam bukunya “Giant Steps”.

Dalam penelitian dan karya tulis ilmiah lainnya, pertanyaan dapat berupa rumusan permasalahan dan memiliki fungsi sangat penting. Ia dibangun atas dasar adanya kesenjangan antara das sollen dan das sain yang jelas, didukung kerangka teoritik dan konseptual yang benar, jelas dan up to date, dan menjadi pedoman bagi semua tahapan penelitian berikutnya.

Dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari juga demikian, tindakan kita, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi hingga umpan balik sangat ditentukan dari kualitas rumusan pertanyaan tersebut, salah merumuskan pertanyaan, maka semua proses atau tahapan dalam penyelesaian masalah menjadi kurang efektif dan efisien.

Peter F. Drucker seorang bapak manajemen modern dan banyak pakar lainnya  menegaskan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka pikirkan akan semakin jelas jika dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. 

Anthony Robbins (2006) dalam bukunya “Awaken The Giant Within” mengatakan bahwa untuk mengubah kehidupan anda agar lebih baik, maka Anda harus mengubah pertanyaan yang menjadi kebiasaan Anda. Pola pertanyaan yang secara konsisten menjadi kebiasaan Anda akan menciptakan kepedihan atau kenikmatan, penyesalan atau inspirasi, dan kesengsaraan atau keajaiban.

Pertanyaan itu menjadi penting, karena; (1) pertanyaan-pertanyaan itu langsung mengubah apa yang menjadi fokus kita dan oleh karenanya juga bagaimana perasaan kita; (2) pertanyaan-pertanyaan mengubah apa yang kita hapuskan; dan (3) pertanyaan-pertanyaan itu mengubah sumber-sumber daya yang tersedia bagi kita.

Namun kenyataannya, pengalaman selama 38 tahun menjadi seorang pendidik di semua jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan sesekali menjadi nara sumber pada kegiatan pelatihan, seminar dan sejenisnya, penulis menemukan tidak banyak siswa, mahasiswa dan peserta seminar menyampaikan pertanyaan, jikapun ada cenderung orang yang sama, lebih sedikit jumlahnya mereka yang cerdas menyampaikan pertanyaan.  

Fakta lain, banyak negara dimana mutu pendidikannya sangat tinggi, evaluasi pembelajaran tidak diukur dari kemampuan siswanya memberikan jawaban yang benar, melainkan diukur dari kemampuannya menyampaikan pertanyaan yang benar dan baik. Dalam hidup ini justru sebaliknya, lebih banyak diantara kita memiliki keinginan yang tinggi untuk menjawab atau menjelaskan sebuah persoalan sekalipun tidak ada yang menanyakannya. Dalam kitab “Al-Hikam” dijelaskan bahwa diantara tanda kebodohan (ketololan) adalah menjelaskan apa yang tidak ditanyakan atau bukan permasalahan dan menceritakan setiap apa yang dilihatnya. 

Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clyton M. Christensen (2013) dalam bukunya “The Innovator’s DNA” menyatakan bahwa kemampuan bertanya (questioning) adalah satu dari lima “Discovery skill” of True Innovator. Discovery skill lainnya adalah; associating, observing, exprimenting and networking. Pentingnya kemampuan bertanya (Questioning) tersebut telah ditegaskan  Peter F. Drucker lebih 50 tahun lalu, ia mengatakan, “The power of provocative questions”. Sebuah ungkapan, “The important and difficult job is never to find and right answers, it is to find the right question”. Kemudian dalam manajemen dikenal formula 5W (what, why, who, where, when) + 1H (how). Hingga saat ini formula 5W1H tersebut masih digunakan dalam praktek manajemen. 

Pertanyaannya, mengapa kemampuan atau kecerdasan bertanya yang sangat penting dalam melahirkan banyak kesuksesan dalam kehidupan ini kurang dimiliki oleh peserta didik dan masyarakat umumnya?. Pepatah lama mengatakan “Salah Bertanya Sesat Di Jalan”. Penulis sependapat atas pepatah tersebut bahwa kegagalan selama ini antara lain berawal disebabkan oleh kesalahan atau ketidakcerdasan bertanya.   

Secara teoretik bahwa kemampuan bertanya menjadi pembeda antara orang-orang sukses dan yang gagal. Cukup sederhana, orang sukses adalah mereka yang bertanya lebih baik dan sebagai akibatnya mendapat jawaban yang lebih baik pula. Oleh karena itu, Jika kita ingin mengubah mutu hidup ini, kita harus mengubah apa yang biasanya kita tanyakan mengenai diri kita dan orang lain.

Namun sayangnya banyak diantara kita tidak jujur terhadap dirinya sendiri, sehingga sangat berpengaruh terhadap pola pikir atau mindsetnya, selanjutnya akan berdampak pada kata-katanya, perbuatannya, kebiasaannya dan karakternya.

Dalam teori pembelajaran konstruktivistik diasumsikan bahwa tidak ada jawaban yang salah, yang ada adalah pertanyaan yang salah.

Rendahnya kemampuan dan kecerdasan bertanya dapat disebabkan pola asuh dalam keluarga dan kesalahan strategi pembelajaran yang dialami seseorang dari sejak kecil hingga dewasa. Oleh karena itu sudah saatnya diajarkan lebih serius mengenai kompetensi bertanya. 

Menurut penulis, terdapat beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatikan dalam membentuk kecerdasan bertanya, yakni setiap pertanyaan; (1) harus didasarkan adanya masalah; (2) didukung oleh dalil atau kerangka teori yang benar; (3) dirumuskan dalam kalimat yang singkat, padat dan jelas; dan (4) disampaikan dengan baik atau beretika. (Penulis, Dosen FKIP Untan)

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019