Kebangkitan Para Pelatih Daerah di Pentas Sepak Bola Nasional

Kebangkitan Para Pelatih Daerah di Pentas Sepak Bola Nasional

  Rabu, 27 January 2016 09:28

Berita Terkait

Kemauan untuk belajar dan keberanian menolak pemain titipan menjadi kunci sukses para pelatih asal Sumatera Barat. Mereka juga dipertautkan keberpihakan ke sepak bola menyerang.SIDIK MAULANA TUALEKA, Jakarta

BEGITU wasit Thoriq Alkatiri meniup peluit akhir final Piala Jenderal Sudirman, seluruh penghuni bench Mitra Kukar langsung menghambur. Berangkulan dengan pemain di lapangan, berteriak, menari, dan menyapa para suporter di tribun.Maklum, final menegangkan melawan Semen Padang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu malam (24/1) baru saja dimenangi. Dan, gelar tersebut juga merupakan yang pertama bagi tim berjuluk Naga Mekes itu di pentas teratas sepak bola nasional. Bahkan satu-satunya yang pernah dimenangi tim asal Kalimantan tersebut.

Jadi, wajar kalau semua larut dalam euforia. Semua, kecuali satu orang: Jafri Sastra. Saat anggota pasukannya berhamburan ke lapangan, pelatih Mitra Kukar itu memilih menghampiri bench Semen Padang.Di sana dia memeluk erat sosok yang selama 90 menit sebelumnya menjadi musuh dalam perang adu taktik di lapangan: pelatih Semen Padang Nil Maizar. ’’Terima kasih, terima kasih,’’ kata Jafri membalas ucapan selamat dari Nil. Keduanya lantas kembali berpelukan.

Warga Padang, khususnya, dan Sumatera Barat, umumnya, mungkin memang kecewa tim jagoan mereka kalah. Tapi, apa yang terjadi di bench Semen Padang itu bisa jadi konsolidasi: dua pelatih urang awak (sebutan untuk orang Minang) berhasil membawa tim masing-masing melaju ke partai puncak.Keberhasilan yang semakin menegaskan tren kemunculan pelatih-pelatih berkualitas dari provinsi yang beribu kota di Padang tersebut. Padahal, untuk waktu yang sangat lama, setidaknya sampai akhir dekade 2000-an, pelatih dari Padang yang luas dikenal di pentas nasional hanya Suhatman Imam.

Selain Jafri dan Nil yang mengantarkan Semen Padang kampiun Indonesian Premier League 2012, Indra Sjafri juga tak kalah mencuat. Indra sukses membawa tim nasional U-19 menjadi yang terbaik di Piala AFF U-19. Juga, lolos ke putaran final Piala AFC U-19, keduanya pada 2013.Di bawah ketiganya, dalam tataran usia dan pengalaman menangani tim, ada Delfi Adri. Dialah yang mengarsiteki Semen Padang U-21 saat menjuarai Indonesia Super League (ISL) U-21 pada 2014.

Menurut Emral Abus, Sumatera Barat saat ini total memiliki tujuh pelatih dengan Lisensi A AFC (Asian Football Confederation). Jumlah itu terbanyak untuk daerah di luar Jawa.Selain dia, Nil, Jafri, dan Indra Sajfri, ada Syafrianto Rusli, John Arwandi, serta Yeni Wardin. ’’Saya memang selalu memotivasi anak-anak Padang untuk ambil sertifikat pelatih. Sebab, modal legalitas itu sangat penting,’’ ucap instruktur lisensi kepelatihan tingkat nasional itu.

Emral memang menjadi salah satu simpul yang bisa menjelaskan kebangkitan para pelatih urang awak belakangan. Jafri, Nil, maupun Indra adalah mantan asistennya kala menjadi instruktur.

Tak heran, ada benang merah yang menyatukan gaya permainan tim-tim yang ditangani Jafri, Nil, dan Indra. Yaitu, keteguhan untuk berpihak pada sepak bola menyerang.

Saat melawat ke Malang menghadapi Arema pada leg kedua semifinal lalu, misalnya, Jafri menolak bermain dengan cara ’’memarkir bus’’. Padahal, tim asuhannya sejatinya tinggal butuh hasil seri setelah menang 2-1 di leg pertama.Di Padang, Emral juga dikenal sebagai pelatih yang paling kenyang pendidikan kepelatihan dari luar negeri. Antara lain, Leipzig University, Jerman. Nah, tiap kali pulang menimba ilmu, Emral selalu lebih dulu membaginya kepada para pelatih atau mantan pemain di Padang.

’’Kami diskusi. Tapi, sejatinya faktor terbesar yang membuat ilmu kepelatihan sepak bola di Padang bisa berkembang pesat ya karena kemauan belajar orang sana sangat tinggi,’’ ucapnya.Menurut Indra, tingginya kemauan urang awak untuk belajar itu tak hanya di bidang olahraga. Melainkan juga di arena lain seperti politik, sastra, dan pendidikan.Dia lantas menyebut tokoh-tokoh nasional dari ranah Minang seperti Muhammad Hatta, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir. Menurut Indra, secara histori, generasi Padang hari ini pasti memiliki hubungan dengan semangat para tokoh tersebut.

’’Selain mau belajar, satu hal yang paling penting dari para pelatih asal Padang adalah integritas dan disiplin tinggi,’’ ujar Indra yang kini menangani Bali United FC.Integritas yang dimaksud Indra adalah pantang berkompromi dengan keadaan. Terutama dalam pemilihan pemain yang layak atau tidaknya masuk dalam skuad.’’Bukan mau membeda-bedakan dengan pelatih lain. Tapi, kami memang tidak suka dengan budaya pemain-pemain titipan dalam tim. Kalau memang tidak bagus, ya harus bilang tidak bagus,’’ tegasnya.

Hal itu dibenarkan Yanto Basna. Bek Mitra Kukar yang dipilih sebagai Pemain Terbaik Piala Jenderal Sudirman tersebut memuji Jafri sebagai pelatih yang tidak terbuai nama besar.’’Beliau peduli dengan semangat para pemain muda. Itu beliau buktikan sepanjang turnamen ini,’’ kata mantan anak didik Indra di timnas U-19 tersebut.Keberanian memberikan kepercayaan kepada anak-anak muda memang menjadi benang merah lain yang mengikat Jafri, Nil, dan Indra. Nil, misalnya, sangat menyukai pemain asal Indonesia Timur seperti Hendra Adi Bayauw, Vendry Mofu, dan Ricky Ohorela.

Kendati terlihat kerap emosional di pinggir lapangan, di mata para pemainnya, Nil ternyata sosok yang sangat jarang marah. Sekalipun ada anak buahnya yang melakukan kesalahan saat berlaga.’’Kalau pemain sering dimarahin dan lantas mereka memutuskan untuk mogok bertanding, lantas siapa yang mau bermain? Pelatih yang mau bermain? Jadi, setiap ada kesalahan dalam tim, yang kami lakukan adalah evaluasi serta diskusi dengan mereka,’’ ucap Nil.

Sementara itu, Jafri dikenal mahir mengombinasikan kekuatan pemain lokal dan asing dalam sebuah pertandingan. Mantan pelatih Semen Padang itu juga jeli dalam melakukan pergantian pemain. Yogi Rahadian yang mencetak gol kemenangan atas Semen Padang, contohnya, baru dimasukkan pada babak kedua.

Banyak kesamaan, tapi tentu juga ada perbedaan di antara para pelatih urang awak. Misalnya, dalam menyusun pola dan membangun serangan. Indra lebih eksperimental: sangat mengagungkan formasi 4-3-3 dengan pressing tinggi. Adapun Jafri dan Nil, mereka amat memperhatikan keseimbangan permainan. Karena itu, keduanya menyukai memasang dua gelandang di depan pertahanan dan mengandalkan sayap untuk mendobrak.

Tapi, toh jejak kepelatihan ketiganya saling berkelindan. Jafri-lah yang dulu menggantikan Nil di Semen Padang saat koleganya itu ditunjuk menangani timnas Piala AFF 2012. Dan, di tim yang ditangani Jafri sekarang, selain Yanto, ada dua mantan anak didik Indra lainnya di timnas U-19: Septian David Maulana dan Dinan Javier.

Saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menghormati. Barangkali itulah yang juga menjadi fondasi lain kesuksesan para pelatih urang awak. Misalnya, yang ditunjukkan Jafri dan Nil di bench Semen Padang Minggu malam lalu itu.

Mereka sudah membuka jalan. Tinggal ditunggu kemunculan generasi sukses berikutnya dari ranah Minang. (*/c5/ttg)

Berita Terkait