Kebangkitan Nasional: Berbudi Luhur

Kebangkitan Nasional: Berbudi Luhur

  Jumat, 20 May 2016 11:00   468

ORGANISASI pemuda modern pertama di Indonesia lahir 20 Mei 1908, yang didirikan oleh beberapa siswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) antara lain Soetomo, Gunawan Mangunkusumo, Soeraji. Budi Utomo diketuai oleh dr.Soetomo. Dengan 4 tujuan utama antara lain:

Memajukan pengajaran;
Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan;
Memajukan teknik dan industri;
Menghidupkan kembali kebudayaan.

Para pemuda zaman ini memainkan perannya sebagai agent of change, untuk kemajuan negerinya. Walaupun kaum cerdik cendikia ini berasal dari golongan ningrat dan para priyayi, tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk memajukan negaranya. Mereka peduli dengan anak-anak yang pandai namun tidak memiliki biaya untuk bersekolah, dan mengupayakan beasiswanya. Disini sangat terasa kepedulian sesame anak bangsa terhadap kesulitan saudaranya. Sangat cocok organisasi ini diberinama Boedi Oetomo yang berarti berbudi luhur.

Pendidikan Anak Berbudi Luhur

Pendidikan berbudi luhur atau akhlak mulia ini hendaknya dijadikan prioritas. Manusia yang berbudi luhur tidak akan sanggup melakukan korupsi atau melakukan tindakan yang sewenang-wenang, karena bertolak belakang dengan hati nuraninya. Setiap anak akan mempunyai kecenderungan/minat terhadap ilmu tertentu, mungkin sebagian anak menyukai matematika/eksakta, sebagian menyukai ilmu sosial, sastra, dll. Namun penanaman nilai-nilai berbudi luhur (akhlak mulia) ini mutlak diperlukan semua anak. Karena apapun profesinya kelak, akhlak yang mulia ini yang akan menuntun mereka menjadi ilmuwan yang mulia.

Orangtua sebagai guru pertama bagi anak-anaknya sangat berperan penting dalam penanaman akhlak pada anak. Tanggung jawab pendidikan anak yang pertama dan utama ada di pundak orangtua.  Dalam perjalanan mendidik anak ini orangtua dapat dibantu oleh guru-guru di sekolah, atau masyarakat sekitar. Namun tanggungjawab utama tetap pada orangtua, sehingga tidak boleh adanya saling menyalahkan para pendidik ini ketika ada anak yang tidak baik akhlaknya, atau tidak cerdas. Naudzubillah…

Akhlak bukanlah bawaan lahir. Akhlak dapat ditanamkan melalui pendidikan. Pendidikan yang dapat dilakukan orangtua dalam menanamkan akhlak mulia, dapat melalui:

Keteladanan;

Orangtua hendaknya memberikan contoh akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak akan melihat walau awalnya belum mengerti.

Kebiasaan;

Setelah memberikan teladan, orangtua dapat menuntun anak untuk membiasakan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Sikap sikap mulia, seperti menghormati orang lain, menjaga amanah, berlaku sopan santun mulai dikenalkan dan dibiasakan.

Nasehat;

Orangtua memberikan nasehat untuk akhlak mulia yang belum dilakukan anak karena belum mengerti maksudnya. Disini orangtua sekaligus memberikan pemahaman yang lebih dalam mengapa kita harus bertingkah laku baik.

Perhatian;

Perhatian dari orangtua sangat berpengaruh, karena jika anak merasa tidak dihiraukan dimungkinkan akan semaunya dalam bertingkah laku.

Reward and Consecuences.

Orangtua hendaknya memberikan perhatian lebih dengan memberikan reward. Reward disini apresiasi orangtua, bisa berupa sanjungan (ucapan terima kasih,dll) sampai berupa hadiah yang disukai anak (usahakan yang bernilai edukatif).

Adapun anak harus mengetahui konsekuensi ketika dia melanggar aturan yang diterapkan orangtua. Peraturan disini harus sudah disepakati dan didiskusikan dengan anak sebelumnya. Sehingga anak akan tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab.

Keluarga literasi

Literasi informasi hendaknya diajarkan kepada anak sejak kecil di keluarga. Anak akan menjadi terbiasa dan paham apa yang harus dilakukannya, informasi yang dia perlukan ada dimana dan sumber yang menjadi rujukan siapa. Dalam proses belajar, pelajaran apapun termasuk bagaimana dapat mencapai akhlak mulia/berbudi luhur. Pelajaran nilai-nilai akhlak ini akan didapatkan pada buku buku keagaamaan, moral, kemanusiaan. Dimana akan dapat difahami dan diterima oleh hati nurani. Jika penanaman akhlak anak anak kita baik, maka mempunyai anak anak bermoral dan bermental pejuang menjadi sebuah keniscayaan. Insya Allah.**

Indah Wijaya Antasari

Pustakawan di IAIN Purwokerto sejak tahun 2005. Kontributor pada buku-buku kepustakawanan, penulis lepas, pemerhati pendidikan anak dan pengelola web probiotiksimba.com