Kebakaran Lahan Gambut Meluas

Kebakaran Lahan Gambut Meluas

  Rabu, 11 January 2017 09:30
TERBAKAR: Lahan gambut seluas sekitar 1 hektare terbakar di Kawasan Kelurahan Bansir Darat, Pontianak Tenggara, Selasa (10/1). Kebakaran lahan gambut kerap menyebabkan terjadinya bencana kabut asap. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Januari-Maret Curah Hujan Menurun

PONTIANAK - Kebakaran lahan gambut mulai melanda Kalimantan Barat. Selasa (10/1) kemarin, kebakaran lahan gambut terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah di provinsi ini. Salah satunya di ujung Jalan Perdana, Kelurahan Bansir Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara. Pantauan Pontianak Post di lokasi kejadian, kurang lebih satu hektare lahan gambut hangus terbakar. Panas terik ditambah tiupan angin kencang membuat kobaran api membesar dan merembet ke lahan-lahan gambut yang awalnya tak tersentuh api.

Kebakaran terjadi pada pukul 14.00. Saat kejadian, tak ada satu petugas pemadam kebakaran pun berada di lokasi. Lahan tersebut berada jauh dari rumah penduduk, sehingga kebakaran tak terdeteksi.

Dari pantauan Pontianak Post, saat angin berhembus kencang, tampak api membesar di beberapa titik. Selain di area itu, titik api muncul juga di lahan lain. Kumpulan asap pekat di lokasi kebakaran menusuk hidung.  

Bahkan beberapa pekerja penggali parit di wilayah itu tak mampu melanjutkan pekerjaan dikarenakan terganggu gumpalan asap. “Kebakaran sudah terjadi beberapa hari lalu. Akibat titik api yang lumayan banyak. Semalam kami malah tak bisa kerja. Api memang tak besar, tapi akibat angin yang berhembus kencang mengakibatkan api hidup kembali. Ini terjadi berulang kali,” ucap seorang penggali parit di area itu.

Diceritakan dia, semenjak menggali parit di wilayah ini, ia belum pernah melihat petugas pemadam kebakaran datang ke lokasi. Ia memperkirakan, lahan luas yang dilalap api itu sudah terbakar sejak Minggu. Pasalnya, ketika ia datang hari Senin, tanah sudah lapang akibat kebakaran. Jagung yang ia tanam bahkan ikut ludes dilalap api. “Kata warga setempat, ada petugas pemadam, tapi pemadaman api tak sampai masuk lokasi ini,” ungkapnya.

Terpisah, Lurah Bansir Darat, Patrisia mengatakan, ada beberapa titik api muncul di wilayahnya. Pertama di Kompleks Permata Paris II dan  Sepakat II. “Kami (Kelurahan) berkoordinasi dengan pihak BPBD, Pol PP, Babinkamtibmas, Babinsa, dan Damkar Pandu Siaga setempat melakukan pemantauan titik api,” ungkapnya.

Dalam hal ini, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk turut peduli memadamkan api jika ada kejadian kebakaran lahan. Imbauan pada masyarakat juga didengungkan supaya masyarakat tak membakar lahan.

Ia memprediksi munculnya titik api di lahan gambut adalah akibat panas terik matahari. Upaya pemadaman sudah dilakukan. Petugas Damkar juga sudah turun ke lokasi titik api. Namun kata dia, karena lahan gambut, sewaktu-waktu api dapat muncul kembali di titik yang berbeda. 

Sebagai solusi dari kebakaran lahan ini, kata dia, pihak-pihak terkait harus tanggap informasi. Kerjasama warga dan aparat berwenang serta sarana pemadaman yang cukup merupakan modal untuk mengatasi kebakaran. “Bila terjadi kebakaran lahan diupayakan pencegahan dini. Rumah tinggal dan bangunan harus diselamatkan. Menghadapi kejadian ini kita harus bersama peduli membantu memadamkan api,” ungkapnya.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar, Anton P Widjaya mengatakan, sesuai dengan prediksi BMKG, curah hujan dari Januari hingga Maret memang menurun. “Artinya kondisi cuaca ini panas dan ancaman kebakaran lahan wajib diantisipasi dengan meningkatkan kesiapsiagaan agar mampu mendeteksi dan mengendalikan api,” ungkapnya.

Ada beberapa poin yang diutarakan Anton terkait kebakaran lahan gambut ini. Dalam penanganan kebakaran lahan gambut tentu petugas BPBD dan Manggala Agni sudah berpengalaman menghadapi bencana tahunan ini. “Aneh rasanya kalau kesiapsiagaan kita menghadapi bencana masih seperti tahun-tahun lalu,” ungkapnya.

Harus ada pembelajaran dari pengalaman tahun sebelumnya agar tim lebih sigap mengendalikan kebakaran, baik dalam skala kecil maupun besar.

“Ini menjadi ujian bagi kita,” ujarnya. Badan Restorasi Gambut (BRG) yang ditunjuk untuk melakukan restorasi penataan kawasan gambut hingga tak ada kejadian kebakaran lahan juga ditantang untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Paling tidak meminimalisir agar kejadian seperti ini tidak terus berulang. BRG juga memiliki tanggung jawab memberikan warning kepada seluruh masyarakat dan korporasi untuk betul-betul mampu memproteksi wilayah rawan kebakaran lahan.

Anton menyadari, penanganan kebakaran lahan gambut tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, jika ini tetap berlangsung dan pemerintah tidak mampu mengendalikan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, berarti tidak ada pembelajaran yang dipetik dari pengalaman tahun lalu. 

“Di skuad yang sama, dan dengan institusi yang sama, harusnya tidak ada hal yang baru dipelajari. Kapasitas pengalaman pun ada. Saat ini tinggal komitmen saja yang diperlukan,” sambungnya.

Ketua Forum Komunikasi Kebakaran Kota Pontianak, Ateng Tanjaya mengakui penanganan kebakaran lahan gambut memang sulit. Beberapa hari belakangan, kebakaran lahan kembali terjadi di beberapa titik di wilayah Pontianak. Meski masih skala kecil, menurutnya ini sudah harus tertangani agar kebakaran tak meluas. “Kesulitan kita sudah pasti minimnya air di lokasi kebakaran,” tukasnya.

Persoalan air kata Ateng jadi yang utama. Pihaknya harus bolak-balik hanya untuk mencari air untuk memadamkan api. Kemampuan pihaknya pun sangat terbatas. Lagi pula, kondisi jalan di lokasi kebakaran juga tidak memadai. Jika mobil Damkar dipaksakan masuk ke area kebakaran, lahan bisa amblas, karena muatan mobil tersebut bisa mencapai 5-8 ton. Ini jadi persoalan.

Pembuatan sumur di lokasi lahan gambut pun dirasa tak terlalu maksimal karena di saat musim kemarau, air sumur kering. Oleh karena itu, sumber air merupakan kunci dalam pemadaman lahan gambut dan harus dicari solusinya.

“Keberadaan parit primer di wilayah pinggir kota masih kurang maksimal karena tertutup gulma dan pendangkalan. Harusnya di normalisasi sehingga ketika kebakaran lahan parit ini dapat difungsikan sebagai sumber air,” ungkap Anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi Munawar.

Pantauan dia, keberadaan parit primer seperti di Parit Demang, Parit H Husin, dan Sungai Raya Dalam, paritnya dangkal dan tertutup gulma. Parit-parit ini belum tersentuh normalisasi. Akhirnya ketika kejadian kebakaran yang melanda Pontianak beberapa hari ini, sumber air di parit primer tak bisa difungsikan.

Selain memaksimalkan fungsi parit primer, ia juga menilai perlu pembuatan kolam tendon di lahan-lahan rawan kebakaran. Kolam tendon dapat digunakan sebagai penyimpan air sehingga ketika kebakaran lahan gambut, air dapat diperoleh dengan mudah. “Saya sudah mengusulkan dari lima tahun lalu tentang pembuatan kolam tendon di beberapa titik rawan wilayah kebakaran,” ucapnya.

Inventarisasi kepemilikan lahan kosong juga perlu dilakukan Pemerintah Kota Pontianak. Para pemilik lahan perlu dipanggil untuk diberikan peringatan agar mereka bertanggung jawab atas lahan mereka ketika terjadi kebakaran. Sementara dari sisi personel dan fasilitas pemadam kebakaran milik pemerintah dan swasta, Herman menilai sudah cukup baik. Meski demikian, koordinasi antara pemerintah dengan masyarakat menurutnya harus terjalin baik. Sebab, pemerintah tidak mampu menjalankan tugas tersebut sendiri sehingga perlu mitra kerja dalam mengantisipasi kejadian kebakaran lahan. “Ini perlu perhatian kita semua,” ungkapnya.(iza)

 
 

Berita Terkait