Keanekaragaman H.hayati

Keanekaragaman H.hayati

Minggu, 17 January 2016 18:43   1

DALAM khasanah pikiran orang banyak, Kalimantan Barat selalu dihubungkan dengan hutan. Data dari Profil Kehutanan menunjukkan bahwa sekitar 27% kawasan hutan Provinsi Kalimantan Barat merupakan hutan produksi terbatas, 25% hutan lindung, 25% hutan produksi tetap, 18% hutan konservasi, dan 5% merupakan hutan produksi yang dapat dikonversi (http://www.dephut.go.id/).

Di dalam hutan ini dipercaya banyak tersimpan anekaragam tetumbuhan dan binatang. Para ahli menyebut Kalimantan Barat, sebagai bagian dari Pulau Kalimantan, merupakan penyumbang utama keanekaragaman hayati dunia. Diperkirakan di Pulau Kalimantan terdapat sekitar 220 jenis mamalia, 420 jenis burung, 100 jenis hewan melata, dan 400 jenis ikan (Borneo wildlife http://wwf.panda.org). Serta terdapat juga 15.000 jenis tetumbuhan (6000 di antaranya endemik). Sebuah survai menemukan lebih 700 jenis pohon dalam kawasan seluar 10 ha. Jumlah ini setara dengan jumlah yang ditemukan di seluruh walayah Amerika Serikat dan Kanada (Rare Species Animals From Borneo, http://rarespeciesanim.blogspot.co.id/ ). Karena itu, Kalimantan menjadi ‘padang perbuaran para biolog dari seluruh dunia sejak abad ke-19.

Alfred Russel Wallace, (8 Januari 1823 – 7 November 1913), seorang naturalis dan penjelajah Inggris tercatat pernah menjelajahi Pulau Kalimantan ini  selain menjelajahi lembah Amazon, Amerika Latin.  Temuannya tentang tetumbuhan dan binatang di Kepulauan Nusantara, lebih dari 126.000 spesimen, menghasilkan Garis Wallace (Wallace Line), sebuah garis imajiner yang membagi kepulauan Indonesia menjadi dua wilayah. Di sebelah barat Garis Wallace hidup tetumbuhan dan binatang benua Asia dan di sebelah timur garis ini hidup dan berkembang tetumbuhan dan binatang Benua Australia. Garis ini membawa gelar ‘perintis biogeografer’ kepadanya (Wikipedia- the free encyclopedia).

Deborah Lawerence (2004) mengutip laporan FAO bahwa telah terjadi pengalihan penggunaan lahan dari hutan ke pertanian perkebunan yang mencapai 50%. Pengalihan penggunaan lahan dari ini dalam jangka panjang dapat mengubah komposisi spesies dan juga tentu saja mengubah keanekaragaman hayati sekarang ini di Kalimantan Barat.

Nick Salafsky dari ‘Biodiversity Support Program’, Washington, DC-USA  dan Eva Wollenberg dari ‘Center for International Forestry Research’, Jakarta, 2000, mengembangkan ‘framework’ yang menghubungkan antara kehidupan sehari-hari dan konservasi dalam dimensi: spesies, habitat, spasial, temporal dan konservasi. Mereka menguji modelnya dalam 39 situs proyek jejaring keanekaragaman hayati. Hasilnya, menggabungkan pola kebutuhan hidup sehari-hari dan konservasi ternyata menunjang keberlangsungan keanekaragaman hayati di sekitar masyarakat setempat.

Secara umum, berdasarkan skala prioritas pengelolaan konservasinya Provinsi Kalimantan Barat terbagi menjadi 27 sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS terluas adalah DAS Kapuas (10.156.053,50 Ha) dan DAS yang terkecil adalah DAS Begunjai yang hanya seluas 7.872,77 Ha (http://www.dephut.go.id/). Luas kawasan lindung di dalam DAS Kapuas mencakup 29% dari luas DAS Provinsi Kalimantan Barat. Tindakan konservasi pada kawasan lindung yang terdapat di dalam DAS Kapuas merupakan suatu hal yang menjadi prioritas.

 

Mary Rose C. Posa dan Lahiru S. Wijedasa dari Universitas Nasional Singapura, serta  Richard T. Corlett dari Kebun Raya Singapura, 2011, menelaah keanekanragaman hayati daeran aliran sungai, terutama di wilayah tanah gambut Asia Tenggara. Mereka mencatat keanekaragaman hayati di wialyah ini pun terancam oleh kegiatan manusia yang telah merusak atau mengalihfungsi llahan ini. Diperkirakan tinggal sekitar 36%nya yang masih belum dialihfungsikan.

 

Navjot S. Sodhi dan Peter K.L. Ng dari Universitas nasional Singapura, Lian Pin Koh dari Universitas Peinceton, AS, serta Barry W. Brook dari Universitas Charles Darwin, Darwin, Australia meremalkan pada tahun 2100 wilayah Asia Tenggara akan mengalami deforesasi sekitar 75% dan penurunan keanekaragaman hayati sebesar 42%. Apa yang diketahui tentam dapak perusakan keanekaragaman hayati sekarang ini hanyalah ‘sebuah puncak gunung es’. Artinya, amat sangat kecil dengan kejadian yang sesungguhnya. Karena itu, penanganannya mesti bersifat multidisipliner, politisi, ilmuwan, ekonom serta para pemangku kepentingan yang lain.

Reed L. Wadley dan  Carol J. Pierce Colfer, 2004, dalam bukunya yang berjudul  “Sacred Forest, Hunting, and Conservation in West Kalimantan, Indonesia” menyajikan bagaimana masyarakat Iban yang berdomisili di hulu Sungai Kapuas mengembangkan dan mengelola kawasan-kawasan hutan yang dikeramatkan.Mereka menyimpulkan keberadaan hutan-hutan semacam ini punya andil besar pada konservasi hutan. Tentu, pada gilirannya, akan juga merawat keanekaragaman hayati yang ada hingga sekarang ini. A. Rim-Rukeh, G. Irerhievwie dan I. E. Agbozu, 2013, menyajikan ilustrasi hubungan yang sama antara masyarakat adat dan konservasi di Negara bagian Delta, Nigeria.

Dua temuan ini kiranya juga dapat mendorong para pakar, terutama dari Universitas tanjungpura untuk melakukan penelitian multidisipliner dalam menjaga pelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat ini. Semoga!**

Leo Sutrisno