Kasus Narkoba Masih Tinggi

Kasus Narkoba Masih Tinggi

  Senin, 27 June 2016 09:43
STOP NARKOBA:Sejumlah relawan yang terdiri dari berbagai komunitas mengelar aksi damai di Bundaran Digulis, Minggu(26/6). Aksi peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) mensosialisasikan tentang bahaya peredaran dan penyalahgunaan narkoba.HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Relawan ke Jalan

PONTIANAK- Peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) 2016 di Kota Pontianak diperingati dengan melakukan aksi damai di budaran monumen Digulis, Minggu (26/6) sore. Dengan membawa sepanduk bertuliskan slogan dan pernyataan tentang bahaya narkoba, ratusan  relawan yang terdiri dari berbagai komunitas, seperti After Care (komunitas mantan pecandu), Gepan, RBM (Rehabilitasi Berbasis Masyarakat), P-Man, Gerakan Muslimah Islam Indonesia, dan beberapa komunitas lainnya turun ke jalan untuk menyuarakan bahaya narkoba.

Ibrahim Chandra, Humas Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pontianak mengatakan, aksi peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) bukan untuk memperingati hari lahirnya HANI, melainkan untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak tentang bahaya perdaran dan penyalahgunaan narkoba. 

Mengingat Kota Pontianak menjadi kota dengan tingkat peredaran tertinggi di Kalimantan Barat. "Seperti yang kita ketahui, Kota Pontianak menjadi kota dengan tingkat peredaran narkoba tertinggi di Kalbar. Kota ini sedang berkembang, banyak pusat hiburan malam, hotel-hotel. Tak heran jika Kota Pontianak menjadi pusat peredaran narkoba," katanya kepada Pontianak Post, kemarin.

Menurut Ibrahim, data kasus peredaran narkoba hingga Mei 2016 mencapai 105 kasus. Angka tersebut diketahui dari data penangkapan pelaku pengedar narkoba, belum lagi mereka yang menyerahkan diri untuk dilakukan rehabilitasi. "Angka ini terus bertambah setiap bulannya," terangnya.

Aksi damai peringatan HANI ini juga disertai dengan aksi sosial dengan membagikan makanan takjil bagi para pengguna kendaraan di bundaran Tugu Digulis. "Berhubung ini berbarengan dengan bulan Ramadan, juga digelar aksi sosial dengan berbagi takjil," lanjutnya.    

Selain itu, dalam aksi ini juga akan digelar talkshow dengan tema "Narkoba Musuh Kita Bersama" serta kampanye "Bersama Kita  Bisa, Selamatkan Generasi Emas dari Bahaya Penyalahgunaan Narkoba".

Di sisi lain, bahaya narkoba tidak hanya membahayakan si pemakai, tetapi juga keluarga. Seperti yang dialami Hendra, mantan pecandu narkoba jenis Putaw. Hendra nyaris kehilangan nyawa dan keluarga yang dikasihinya. 

Kepada Pontianak Post, Hendra mantan pecandu narkoba berbagi cerita tentang  asal mula ia perkenalannya dengan narkoba. Sejak usia delapan tahun, Hendra mengaku sudah akrab dengan barang-barang terlarang, seperti rokok, minuman keras dan obat penenang. Itu ia alami sejak sepeninggal sang ayah. "Ayah saya meninggal. Ibu saya janda, dan bekerja di salon. Orang-orang disekeliling saya sering menghina saya dan keluarga saya. Saya marah. Untuk membuktikan kepada mereka, saya mulai nakal. Kira-kira umur delapan tahun saya sudah mulai merokok, minum-minuman keras dan obat penenang,” kata Hendra beberapa waktu lalu.

Pengalaman hidup di masa kecilnya membuatnya kehilangan arah. Saat duduk di bangku SMA, pria berpawakan kurus tinggi  bertato ini sudah mencoba berbagai jenis narkoba, mulai dari sabu, ekstasi hingga putaw yang memiliki tingkat kerawanan tertular HIV/AIDS.

Begitu rutin memakai barang haram itu, dia mengaku mulai merasakan sensasinya. Ia pun mulai ketergantungan. Dari yang sebelumnya hanya menerima tawaran dari teman-temannya, ia mulai membeli sendiri dari seorang pengedar. Bahkan, rasa ketergantungannya membuat dia harus keluar masuk panti rehabilitasi. “Saya sudah beberapa kali direhab,” katanya.

Satu tahun menjaani rehabilitasi,  Hendra berhasil bangkit dari masa kelamnya. Ia mengaku merasa kuat, bahkan lupa dengan dirinya sendiri bahwa ia seorang pecandu. "Saya kembali ke keluarga. Kami menjalani hidup normal seperti keluarga lainnya, membangun dan merintis usaha," lanjutnya.

Keberhasilan Hendra keluar dari lingkaran setan narkoba ternyata tidak berlangsung lama. Ia kembali menjadi pecandu, meskipun pada tahun 2008 lalu, ia sudah dikaruniai seorang anak. Ia kembali memakai barang haram tersebut.  Hingga akhirnya ia pun sadar setelah salah satu rekannya mati ditembak polisi. “Saya melihat teman saya mati ditembak. Dari situ saya sadar. Akhirnya saya coba berhenti," kenangnya.

Menurut Hendra, ketergantungan narkoba tidak hanya merenggut kebahagiannya bersama anak dan istri. Narkoba khususnya putaw juga nyaris merenggut nyawanya. Akibat sering berganti jarum suntik saat pemakaian putaw, Hendra kini terjangkit HIV/AIDS.  “Saya menyesal. Saya tidak mau apa yang saya lakukan berdampak kepada anak dan istri saya,” sesalnya.

Saat ini, Hendra bersama teman-teman mantan pecandu narkoba aktif di Rumah Kasih Serambi Salomo dibawah binaan pendeta Firdaus Sembiring. Lembaga yang bertempat di Komplek Purnama Agung VII Blok Y 3  Pontianak Selatan ini telah lama menjadi mitra pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional dalam penanganan pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba.

Sementara itu Presiden Joko Widodo dalam pidatonya, Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional ini sebagai momentum untuk melawan narkoba. Di Indonesia, jumlah pengguna terus meningkat. Tahun 2015 diperkirakan angka prevalensi penggunaan narkoba mencapai 5,1 juta orang. Dan angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba 40 sampai 50 orang, setiap hari karena narkoba.

Kerugian material diperkirakan kurang lebih Rp 63 triliun, yang menyangkut kerugian akibat belanja narkoba, kerugian akibat biaya pengobatan, kerugian akibat barang-barang yang dicuri, dan kerugian akibat biaya rehabilitasi dan biaya-biaya lainnya. Dan lebih mengkhawatirkan lagi, kejahatan luar biasa ini sudah merengkuh berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya orang dewasa, remaja, bahkan narkoba sudah mulai merangsek kepada anak TK dan SD. Bahkan peredaran narkoba juga sudah masuk ke kawasan pedesaan.

Para pengedar narkoba terus bergerak dan menemukan cara-cara baru untuk mengelabui. Mereka sudah mulai memanfaatkan orang-orang yang tidak dicurigai untuk dijadikan kurir narkoba dan adanya modus baru dalam penyelendupan narkoba ke dalam mainan anak dalam kaki palsu dan lain-lainnya.

"Semua itu harus dihentikan, harus dilawan dan tidak bisa dibiarkan lagi. Kita tegaskan perang melawan narkoba di Indonesia," katanya. Dalam kesempatan itu, Presiden dengan tegas untuk menembak mati bagi para bandar narkoba. "Saya ingin ingatkan kepada kita semua, di kementerian, di lembaga di aparat-aparat hukum kita, terutama di Polri. Saya tegaskan sekali lagi kepada seluruh Kapolda, jajaran Polda, kepada jajaran Polres, Polsek, semuanya kejar mereka, tangkap mereka, hajar mereka, hantam mereka, kalau UU memperbolehkan dor mereka," tegasnya. (arf)

Berita Terkait