Karyawan Sulit Salat, MUI Surati PT WHW

Karyawan Sulit Salat, MUI Surati PT WHW

  Sabtu, 30 January 2016 10:12
KAWASAN PABRIK: Kawasan pabrik pengolahan dan pemurnian bauksit PT Well Harvest Winning Alumina Refinary (WHW). Sayangnya, di pabrik yang besar tersebut, mencuat isu jika para pekerjanya kesulitan untuk beribadah. INTERNET

Berita Terkait

KETAPANG – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ketapang, Faishal Makshum, mengungkapkan jika mereka menerima keluhan dari pekerja PT Well Harvest Winning (WHW) yang beroperasi di Kendawangan. Para pekerja, menurutnya, mengeluhkan minimnya waktu untuk menunaikan salat yang diberikan oleh pihak perusahaan.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu, beberapa pekerja perusahaan yang sedang membangun pabrik smelter ini kurang toleran dalam memberikan waktu beribadah, khususnya untuk para pekerja muslim. "Mereka melapor kalau waktu salat yang diberikan kurang," katanya, kemarin (29/1) di Ketapang.

Bahkan, diungkapkan Faishal, pada waktu salat Jumat, para pekerja pun masih tetap diharuskan bekerja. Akibatnya, menurut dia, banyak pekerja yang beragama Islam tidak dapat menunaikan salat Jumat. Atas laporan ini, pihaknya pun telah mengambil langkah-langkah. Mereka pun menyurati Pemkab Ketapang, DPRD, dan perusahaan bersangkutan.

Pihaknya bahkan sudah mengirim surat pernyataan sikap terkait laporan tersebut. "Suratnya itu kita kirim juga ke pihak WHW, ke instansi terkait. Suratnya kita dikirimkan pada 16 Januari lalu. Saya yakin surat tersebut sudah sampai ke pihak-pihak terkait," ungkapnya.Dengan dilayangkan surat tersebut, pihaknya berharap jika surat tersebut dapat segera direspons dan ditindaklanjuti. "Harapan kita dengan surat yang kita kirim ke pihak terkait termasuk PT WHW, agar ditindaklanjuti. Informasi yang kita dapat, DPRD merespons surat kita dan akan meninjau langsung ke WHW nanti," paparnya.

Sebelum melayangkan surat tersebut, terlebih dahulu mereka menggelar pertemuan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama terkait persoalan ini. "Kita minta PT WHW menyikapi persoalan ini, dan memberikan waktu beribadah karyawannya, sehingga tidak ada lagi informasi ada karyawan yang ibadahnya menggunakan sif terlebih pada salat Jumat," pintanya.Sementara itu, manajer CSR PT WHW, Togap Manik, menegaskan jika pihaknya tidak pernah mengeluarkan kebijakan mengenai larangan kepada karyawan maupun pekerjanya untuk menunaikan salat. "Informasi tersebut tidaklah benar," kata dia.

Ia berjanji akan melakukan investigasi lebih lanjut terkait keluhan dari karyawan tersebut. Mereka pun tidak ingin ada pihak-pihak yang sengaja menghembuskan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Segera kita investigasi," lanjutnya.Pihaknya juga mengundang karyawan atau pekerja di PT WHW untuk melaporkan secara resmi ke manajemen PT WHW, jika memang ada salah satu kontraktor yang melarang pekerjanya untuk salat. "Ini masih sebatas informasi dan jangan langsung dianggap kebenaran, karena belum dilakukan investigasi mengenai persoalan ini," pinta dia.

Terlebih, pihak perusahaan sendiri, dipastikan dia, telah memiliki komitmen dalam membangun fasilitas ibadah yang saat ini dalam proses pembangunan. Tujuannya, diharapkan dia, agar karyawan tidak lagi perlu salat Jumat ke dusun-dusun yang malah membuat waktu mereka berkurang karena butuh jeda untuk mobilisasi.Ia juga mengaku telah menerima surat yang dilayangkan oleh MUI Kabupaten Ketapang. Untuk mengambil tindakan tegas, terlebih dahulu mereka akan melakukan investigasi lebih lanjut.

"Dalam surat dari MUI disebutkan adanya larangan salat, makanya kita akan membalas surat resmi MUI mengenai ketegaskan kita kalau informasi tersebut tidak benar. Karena logikanya tidak mungkin kita membangun fasilitas masjid tetapi kita larang karyawan salat," pungkasnya. (afi)

Berita Terkait