Kartius Dianugerahi Gelar Adat. Cendaga Tungkat Negara Payung Negeri

Kartius Dianugerahi Gelar Adat. Cendaga Tungkat Negara Payung Negeri

  Kamis, 12 November 2015 11:56
GELAR ADAT: Demong adat Batu Desa Batu Tajam, Kecamatan Tumbang Titi, menyerahkan sertifikat pemberian gelar kepada Penjabat Bupati Ketapang Kartius SH MSi, saat bertandang ke desa tersebut, Minggu (8/11). ISTIMEWA

Berita Terkait

TUMBANG TITI – Masyarakat adat Dayak Pasaguan di Kecamatan Tumbang Titi menggelar ritual adat damong menggolar belian menibuk. Ritual ini merupakan acara adat pemberian nama atau gelar adat kepada tokoh adat maupun tokoh masyarakat.Prosesi tersebut berlangsung di Dusun Batu Tajam II, Desa Aur Gading, Kecamatan Tumbang Titi, Minggu (8/11) lalu. Ketika itu, penjabat (Pj) Bupati Ketapang Kartius SH MSi bersama ketua Tim Penggerah PKK Kabupaten Ketapang, Ny Yuliana Kartius AMd, serta beberapa anggota jajaran SKPD Kabupaten Ketapang, melakukan kunjungan kerja. Oleh masyakat adat setempat, Pj Bupati diberi gelar cendaga tungkat negara payung negeri. Gelar ini oleh tokoh masyarakat adat setempat berarti diharapkan agar dapat memayungi dan menongkati daerah yang dipimpin.
Prosesi ritual adat damong menggolar belian menibuk tersebut diawali dengan penyambutan tamu atau tokoh masyarakat yang datang, dengan diiringi tabuhan  musik  adat gamelan kecapang. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan adat minum bosar atau yang dikenal dengan nama minum adat. Usai prosesi minum bosar sebelum tokoh adat atau tokoh masyarakat diberikan nama atau penggelaran oleh tokoh adat setempat, terlebih dahulu diadakan acara adat pemberian garam dan gigit besi beliung. Simbol dari menggigit garam yakni agar orang yang diberi gelar tersebut nantinya dapat menjadi garam dunia. Sementara menggigit besi atau beliung disimbolkan supaya masyarakat atau tokoh adat yang diberi gelar itu kuat seperti besi.
Prosesi adat selanjutnya yakni mengangkat sebuah tempayan sebanyak 7 kali.  Tempayan  yang diangkat terlebih dahulu diarahkan ke matahari terbit dan terbenam.  Makn dari mengarahkan ke matahari terbit dan terbenam tersebut menyimbolkan supaya umur orang yang diberi gelar tersebut panjang.
Mondir, sekertaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Tumbang Titi, menjelaskan jika yang dilakukan mereka pada hari itu adalah pemberian gelar kepada tamu, terutama kepada Pj Bupati. Menurutnya, dengan gelar sebagai cendaga, memperlihatkan yang bersangkutan sudah mencapai level tertinggi. Sementara di ujung gelar terdapat kata jejuluk, menunjukkan apa pekerjaan orang dimaksud, yang sesuai dengan apa yang dikerjakan atau di tingkah laku atau perilaku orang itu. "Misalnya dia selaku kepala pemerintahan di daerah kabupaten berarti dia memayongi dan  menongkati di daerah Kabupaten Ketapang," katanya.
Acara adat dengan nama domong menggolar belian menimbuk ini hanya ada di Kabupaten Ketapang. Tradisi yang satu ini perlu dipertahankan, meskipun di zaman globalisasi dan imformasi yang terus berkembang.
"Acara adat seperti ini melalui pengurus Dewan Adat  terus dipertahankan, jangan ditinggalkan," pesan Kartius dalam arahannya di depan para tokoh adat, domong, kepala desa, dan masyarakat Desa Batu Tajam, kemarin.Menurutnya, melalui budayalah satu suku bangsa itu bisa dikenal. Pasalnya, dia menambahkan, semakin tinggi suatu budaya bangsa,  maka bangsa tersebut semakin disegani orang. "Saya bangga menjadi Dayak, jangan kita gengsi pakai gong, jangan kita gengsi menari Dayak," pinta Kartius.

Dia mencotohkan seperti kebudayaan Tionghoa yang terkenal dengan shaolin dan capgomeh, merupakan ciri khas suatu bangsa, demikian suku-suku lainnya. Kartius juga mengucapkan terima kasih kepada domong, kepala desa, tokoh adat, dan masyarakat Desa Batu Tajam dalam menggelar acara adat tersebut. "Pemain kesenian tradisional gamelan gong jangan yang tua-tua saja, tetapi harus diajarkan kepada para generasi muda Dayak," pesan Pj Bupati. (afi/ser)
 

 

Berita Terkait