Kartini Kini, Ibu Menyusui

Kartini Kini, Ibu Menyusui

  Minggu, 24 April 2016 10:47   1

Oleh: Nadya M Batubara

PADA  tahun 1891, saat RA Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School), ia berusia 12 tahun. Kegemarannya dalam membaca surat kabar dan surat- menyurat dengan teman-teman di Belanda, membuat wawasannya terbuka mengenai sosial, budaya, wanita. RA Kartini saat itu memiliki keinginan kuat untuk memajukan wanita Indonesia yang tidak memiliki banyak pilihan dalam hidup bermasyarakat. Wanita dulu hanya berdiam diri di rumah, tidak bersekolah, hanya bisa pasrah ketika dijodohkan untuk menikah. Hingga usia ke-20, RA Kartini terus memperluas pengetahuannya dengan mempelajari lebih jauh tentang ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Hal ini membuatnya memiliki keinginan agar wanita Indonesia memiliki emansipasi, kebebasan dan keseteraan hukum seperti wanita- wanita di Eropa.

Kini, tahun 2016 hampir lebih dari 125 tahun berlalu, wanita di Indonesia tidak hanya dapat menimba ilmu, mereka bisa memilih untuk pergi dan bersekolah dimana saja. Wanita kini tidak lagi dituntut untuk ‘dikurung’ di dalam rumah, sejak Sekolah Dasar mereka diberikan kebebasan untuk bersekolah, berlanjut hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga ke jenjang Universitas. Begitu banyak wanita Indonesia yang telah lulus Strata 2 (S2), berprestasi, menjadi profesor dan memiliki wawasan yang sangat luas. Hal ini pasti membuat para pejuang wanita pada masa sebelum kemerdekaan, seperti Ibu Kartini, sudah pasti bangga. Sebuah keinginan terbesarnya sudah terwujud.

Kini, siapa saja yang dapat disebut ‘Kartini masa kini’? Para ibu yang multi tasking bisa disebut sebagai salah satu Kartini. Para ibu yang mengurus anak selama 24 jam tanpa banyak istirahat, bangun paling pagi dan tidur larut malam. Bahkan ada juga yang harus bekerja karena terdesak ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Wanita Indonesia sekarang begitu tangguh, mereka tetap menjalankan kodratnya untuk menikah dan hamil. Saat hamil, mereka tetap harus ke kantor untuk bekerja. Setelah melahirkan mereka harus menyusui bayi mereka, karena para ibu sadar dengan menyusui, angka kematian bayi dapat menurun hingga 13% (aimi-asi.org). ASI eksklusif atau pemberian ASI saja, tanpa cairan apapun selama 0-6 bulan adalah anjuran dari World Health Organization (WHO). Para ibu sadar mereka bisa menyelamatkan bayi mereka dari kematian bahkan berbagai penyakit dengan memberikan ASI eksklusif, sebagai proteksi pertama dan utama bayi mereka. 

Perjuangan ibu tidak hanya sampai disitu, baik ibu yang bekerja maupun tidak, mereka melanjutkan menyusui dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) serta melanjutkan menyusui hingga anak berusia dua tahun. Hal ini bukan hanya baik untuk kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga dianjurkan dalam Al Qur’an, QS Al- Baqarah [2]233, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” Mereka berjuang untuk ini hingga berhasil menyusui sampai dua tahun.

Sesungguhnya pasti semua ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Salah satunya ingin berhasil memberikan hak anak, yaitu mendapatkan ASI. Hal ini akan berhasil jika didukung penuh oleh orang-orang di sekitarnya. Dari orang terdekat yaitu suami, para anggota keluarga, teman-teman sesama ibu (kelompok ibu menyusui) serta para tenaga kesehatan. Lebih luas, Pemerintah juga mempunyai andil untuk membantu ibu berhasil menyusui anak mereka hingga dua tahun. Meski sudah ada Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yaitu cuti melahirkan selama tiga bulan, namun hal ini masih belum ideal. Bayi sebaiknya diberikan ASI eksklusif selama enam bulan sedangkan ibu bekerja hanya mendapatkan cuti selama tiga bulan. Hal ini membuat angka bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sesuai data RISKESDAS 2013 menurun. Saat bayi menginjak usia enam bulan angka bayi yang mendapatkan ASI eksklusif menjadi sebesar 30,2%, turun lebih dari 20% dari saat bayi berusia 0-1 bulan (aimi-asi.org). Para ibu yang merupakan karyawan di kantor seringkali tidak mendapatkan waktu untuk dapat memerah ASI mereka pada jam kantor padahal hal ini merupakan salah satu hal yang dapat mensukseskan ibu memberikan bayi mereka ASI eksklusif.

Di Pontianak, pemerintah setempat sudah membuktikan dukungannya kepada ibu menyusui dengan menerbitkan Peraturan Walikota no. 71 tahun 2012 untuk menjamin pemberian ASI eksklusif pada bayi. Pemerintah memberikan landasan hukum, perlindungan dan jaminan kepada seluruh bayi di Pontianak. Perwal ini juga bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang lebih sehat dan cerdas di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak. Dukungan konkrit seperti ini tentu sangat membantu para ibu untuk bisa mencapai keberhasilan menyusui bayi mereka.

Sebagai seorang wanita, ibu tentulah ingin selalu berbagi cerita, bertanya dan sekedar mengeluarkan isi hati. Untuk itu, kelompok pendukung ibu menyusui sangat membantu bagi para ibu menyusui. Dengan adanya kelompok pendukung ibu menyusui, para ibu bisa mendapatan dukungan. Meski terkesan sepele, tetapi saat melewati fase sebagai seorang ibu baru, ibu sangat membutuhkan dukungan berupa semangat. Dukungan untuk meyakinkan bahwa ia bisa menjadi ibu yang baik bagi bayi yang baru saja dilahirkannya. Dengan dukungan dari sesama ibu yang sudah melewati proses yang sama sebelumnya, tentu ibu akan merasa tidak sendiri. Ibu juga akan memiliki motivasi untuk bisa menyusui anaknya hingga dua tahun bahkan lebih, yaitu sampai saat dimana anak dan ibu siap untuk disapih.

Lebih besar skalanya dari sebuah kelompok pendukung, ada sebuah Organisasi bernama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang terbentuk sejak 9 tahun lalu. Organisasi ini adalah organisasi nirlaba yang memiliki tujuan untuk memberikan dukungan kepada seluruh ibu menyusui di Indonesia. Selain itu tujuan AIMI adalah ingin memberikan edukasi dengan menyampaikan  informasi yang benar tentang menyusui, sehingga angka menyusui di Indonesia dapat terus meningkat. Kini AIMI sudah memiliki 15 cabang di seluruh Indonesia. AIMI cabang Kalimantan Barat sendiri sudah berdiri dan mengedukasi ke seluruh pelosok kota Pontianak sejak tiga tahun lalu. Adapun calon ranting AIMI KalBar berada di Landak, Ketapang dan Singkawang. 

Sebagai anggota masyarakat, kita memiliki kewajiban yang sama untuk membantu para Kartini, yaitu para Ibu untuk dapat berhasil menyusui anaknya hingga minimal dua tahun. Jika kita tidak memungkinkan untuk memberikan bantuan, paling tidak berikan dukungan berupa semangat agar ibu mengikuti nalurinya untuk menyusui bayi mereka. Apabila menemui kendala yang tidak bisa diatasi, bisa menghubungi konselor laktasi atau konselor menyusui. Konselor- konselor ini adalah para tenaga terlatih yang tersebar di seluruh kota di Indonesia, termasuk Pontianak. Tidak ada yang tidak mungkin, ibu pasti bisa menyusui hingga dua tahun!

Penulis: KaDiv Riset Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cab. KalBar