Kartini dan Pernikahan Dini

Kartini dan Pernikahan Dini

  Jumat, 22 April 2016 09:17   1

KARTINI adalah sosok perempuan muda revolusioner di eranya. Ia gigih memperjuangkan pendidikan anak-anak perempuan negerinya. Ia ingin anak perempuan tidak hanya diam menunggu dikawinkan oleh orang tuanya. Adat istiadat kala itu, anak-anak perempuan harus “dipingit” saat berusia 12 tahun. Mereka dikurung di dalam rumah, tidak boleh melihat dunia luar sebelum statusnya berubah menjadi istri.

Ia menyebut dalam suratnya kepada Nona E.H Zeehandelaar atau Stella, pada 25 Mei 1899, “Kami gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi belajar ke sekolah, ke luar rumah tiap hari saja sudah dikatakan amat melanggar adat. Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis ke luar rumah. Ketika saya sudah berumur dua belas tahun, lalu saya ditahan di rumah, saya dikurung di dalam rumah seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar ke dunia itu lagi, bila tiada serta seorang suami...”

Pernikahan adalah satu-satunya jalan bagi anak perempuan masa itu untuk bisa kembali melihat dunia. “Selama ini hanya satu jalan terbuka bagi Gadis Bumiputera untuk menempuh hidup, yaitu kawin”. Begitu surat Kartini berikutnya kepada Stella tanggal 23 Agustus 1900. Status sebagai istri, telah menghilangkan hak-haknya sebagai anak. Mereka harus mulai memikul tanggung jawab yang amat berat mengurus rumah tangga. Kartini sangat berharap anak-anak perempuan dibekali pengetahuan dan meraih impiannya dahulu sebelum dinikahkan. Pernikahan di usia belia menghalangi anak-anak perempuan menggali potensi diri mereka. Oleh karena itu, Kartini bercita-cita agar semua anak perempuan negerinya berkesempatan untuk meraih pengajaran setinggi-tingginya. Karena kelak, dari rahim merekalah akan lahir generasi penerus bangsa ini.

Pendidikan tinggi itu, bukan untuk melupakan kodrat alami perempuan sebagai seorang istri dan ibu. Justru Kartini ingin perempuan bisa menjadi partner terbaik bagi suaminya. Istri  yang mampu diajak tukar pendapat dan memberi masukan pada suaminya mengenai berbagai persoalan. Sehingga dapat duduk sejajar dan dihargai oleh sang suami. “Alangkah bahagianya laki-laki, bila istrinya bukan hanya menjadi pengurus rumah tangganya dan ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya menghayatinya bersama suaminya.” Tulis Kartini pada Prof. Dr. G.K Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902.

Demikian pula perempuan sebagai ibu. Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Ia berperan penting dalam membentuk karakter anak. Ibu juga yang pertama kali meletakkan bibit kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia. Kaum ibu tidak boleh berpendidikan rendah bila menginginkan peradaban bangsa yang maju. ”Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkan kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak-anak yang laki-laki kelak pasti akan menjadi penjaga kepentingan bangsanya”. Demikian tulis Kartini pada Prof. Dr. G.K Anton dan Nyonya 4 Oktober 1902.

Dari sana Kartini berharap anak-anak perempuan tidak menikah dulu sebelum mempunyai bekal yang cukup. 95 tahun sepeninggal Kartini, penelitian Choe, Thapa, dan Achmad yang berjudul Early Marriage and Childbearing in Indonesia and Nepal tahun 2001, mengatakan, “....Pendidikan perempuan yang lebih tinggi terkait erat dengan usia pernikahan remaja yang lebih lambat....”. Itu berarti anak perempuan berpendidikan rendah berpotensi tinggi menjalani pernikahan dini.

Sudah seabad lebih sejak era Kartini, banyak sudah perubahan yang terjadi. Cita-cita putri Bupati Jepara dan istri Bupati Rembang itu kini sudah tercapai. Hampir tidak ada halangan bagi anak-anak perempuan untuk berpendidikan tinggi dan meraih cita-cita. Perempuan Indonesia sudah banyak menduduki posisi penting di negeri ini, dari berbagai profesi, bahkan menteri hingga presiden.

Hanya saja, masalah pernikahan dini pada anak perempuan masih belum terselesaikan hingga kini. Menurut data dari UNDESA (United Nation Development of Economic and Social Affairs) tahun 2011, Indonesia menduduki rangking ke-37 di dunia terkait pernikahan usia muda. Atau urutan kedua di ASEAN setelah Kamboja. Yang mencengangkan, Kalimantan Barat termasuk provinsi dengan angka pernikahan dini tertinggi di Indonesia menurut data BKKBN Provinsi Kalimantan Barat.

Banyak anak perempuan di Bumi Tanjungpura yang meninggalkan bangku sekolah karena menikah di usia belia, di bawah 16 tahun. Maka, tak heran jika data Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kalimantan Barat tahun 2015 menunjukkan bahwa 28,81 % dari seluruh jumlah penduduk Kalimantan Barat merupakan tamatan SD, disusul 24,84 % penduduk yang belum atau tidak sekolah, lalu 16,33 % tidak tamat SD. Sisanya adalah lulusan SLTP 12,94 %, lulusan SLTA 13,58 %, lulusan S-1 1,95 %, lulusan D-3 0.55 %, lulusan S-2 0,12 % dan lulusan S-3 0,01 %. Dari data tingkat pendidikan yang masih rendah ini, pernikahan dini di Kalimantan Barat masih berpotensi tinggi. Sebagaimana hasil penelitian Choe dan kawan-kawan di atas.

Pernikahan dini di provinsi ini harus dicarikan solusi. Karena memiliki banyak dampak negatif, terutama bagi kaum perempuan. Di antaranya  berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi, seperti kanker leher rahim, trauma fisik pada organ intim, dan kehamilan berisiko tinggi—preeklampsia, bayi prematur dan kematian ibu. Pernikahan dini mengabaikan kesiapan fisik dan mental anak. Setelah menikah, anak-anak kecil itu dipaksa bekerja menopang ekonomi keluarga. Karena belum siap, dan ketrampilan yang dimiliki pas-pasan akhirnya mereka bekerja serabutan. Bahkan, ada yang terpaksa tinggal berjauhan demi mencari penghidupan. Dari situ muncullah persoalan dalam rumah tangga, mulai cekcok, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga sampai perceraian. Tidak jarang, orang yang mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan adalah mereka yang sebelumnya mengajukan permohonan dispensasi kawin.

Seiring perubahan zaman, penyebab pernikahan dini di era kekinian sudah berubah. Lebih kompleks dari zaman Kartini. Seks bebas adalah salah satunya. Banyak perkara dispensasi kawin diajukan karena sudah hamil duluan. Derasnya arus informasi di era digital membuat remaja semakin mudah mengakses informasi, termasuk hal-hal yang belum saatnya. Oleh karena itu kontrol keluarga atas anak-anak sangat dibutuhkan terutama peran seorang ibu.

Di momen peringatan Hari Kartini ini, mari segarkan kembali impian Kartini dengan terus memperhatikan pendidikan pada generasi muda, terutama anak-anak perempuan. Dulu, kaum perempuan begitu sulitnya mengenyam pendidikan. Kini, setelah kesempatan itu datang dan diberikan, maka jangan disia-siakan. Jangan lepas anak-anak perempuan memasuki rumah tangga tanpa persiapan. Bekali mereka dengan pengetahuan yang cukup. Sekurang-kurangnya harus menyelesaikan pendidikan SLTA terlebih dahulu baru menikah. Karena di masa depan kelak, mereka akan menjadi istri dan ibu. Dari tangan-tangan mereka diharapkan lahir manusia-manusia Akcaya, yaitu tak kunjung binasa dan dengan keuletan pantang menyerah sehingga dapat mengisi pembangunan di Republik ini.

Mari kuatkan peran kita dalam keluarga agar anak-anak perempuan bisa terus terjaga motivasinya untuk belajar. Peran pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama dan adat belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan kekuatan keluarga. Terutama kekuatan seorang ibu.

*) Penulis adalah koordinator Seksi Pendidikan Dharmayukti Karini Kabupaten Mempawah dan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo. 

Anita Qurroti A'yuni

Saya menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Al-Azhar Kairo tahun 2009. Sekarang saya aktif mengajar Majelis Taklim di Mempawah dan juga menjadi pengurus Dharmayukti Karini Cabang Mempawah.